Jumat, 28 Agustus 2020

Nonton Bule Ngarit Dan Meres Susu Sapi

 

Bule Meres Susu Sapi Di Switzerland
Caranya Sama, Jongkok Dan Ditampung Di Ember Seng Dulu

Bumi kalau dilihat dari Bulan memang terlihat indah dan menarik. Demikian juga dengan Switzerland, Austria  dan negara negara lain disekitarnya juga terlihat begitu indah kalau dilihat dari kejauhan terutama latar belakang pegunungan Alpine yang membentang dengan warna biru,  putih salju di puncaknya dan hijau rerumputan disekitarnya.

Keseharian Peternak Eropa Sama Saja Dengan Peternak Indonesia
Memandikan Sapi, Meres Susu Sapi Dan Mengumpulkan Tahi Sapi
Untuk Diolah Jadi Pupuk Di Composting Facility

Turis turis Indonesia yang pernah ke Switzerland, Austria, Perancis dll itu memang berkata benar seperti seorang Astronout yang melihat Bumi dari Bulan. 'Nggedabus' di medsos katanya 'beautiful'. Tapi saya bukan Astronout, saya cuma seorang 'Dora The Explorer' yang senang blusukan kemana mana dengan mobil sewaan dan hanya mengandalkan GPS. Apa yang saya lihat di pedesaan Eropa ternyata nggak jauh berbeda dengan umumnya pedesaan di Indonesia.

Bule Sedang Ngarit Cari Rumput, Katanya Anak Sapi
Masih Perlu Dicarikan Rumput

Kalau di Indonesia, saat matahari mulai terbit para petani dan peternak sudah berbondong bondong ke sawah, kebun dan menuju kandang sapi dan kambingnya. Bule Eropa agak malas sedikit, mereka tidak serajin petani / peternak Indonesia. Matahari sudah hampir tegak diatas kepala, mereka baru keluar rumah dan mulai melakukan aktifitas pertanian dan peternakannya. Hal ini karena pagi hari masih terlalu dingin untuk meninggalkan selimut dan memulai kerja di ladang.

Arit Buat Cari Rumput Besarnya Bukan Main
Semua Pakai Sepatu Meskipun Ngarit
Dingin Kalau Nyeker

Yang berbeda lagi, keluar dari rumah menuju ke kebun, sawah atau kandang, petani bule eropa nggak ada yang 'nyeker' sama sekali, semua ke ladang memakai sepatu. Hal ini karena dingin dan tidak ada sawah dan kebun yang becek berair seperti di Indonesia. Tanaman yang ditanam sangat berbeda dan tidak butuh air banyak misalnya jagung, gandum, sorghum, wortel dll. Bayangkan, betapa kerennya petani dan peternak Eropa, berangkat ke kandang, kebun atau mencari rumput saja selain bawa arit dan kereta sorong juga memakai kaca mata hitam 'Rayban'. Mata bule memang tidak tahan silau sinar matahari.

Ngumpulin Rumput Juga Pakai Gancu
Kacamata Hitam Tidak Ketinggalan

Apapun tanamannya dan apapun ternak yang dipelihara, petani / peternak eropa kalau ngarit cari rumput, mengumpulkan sampah, nyerok tahi sapi pakai sekop dan semacamnya ternyata sama saja dengan orang Indonesia.  Paling hanya beda merek peralatan pertanian saja misal di Indonesia masih memakai Sekop dan Kereta Sorong Cap Kingkong Super sedangkan yang di eropa merknya Hoofman Premium.

Cara Eropa Membuat Sensasi Pemberitaan Untuk Pariwisata 
Lokasi Klausen Pass Switzerland

Perhatikan video yang ada di Youtube. Orang Eropa kalau membuat video pertanian / peternakannya, yang ditampilkan adalah cara ngangkut jerami atau sapi menggunakan helicopter, memeras susu sapi pakai mesin canggih, traktor dan mesin pertanian yang masih baru, mengusir hama burung pakai drone dan penelitian di laboratorium modern.  'Nggedabus', nggak ada yang secanggih itu di kenyataan sehari hari.

Nyari Rumput Buat Ternak - Keren Dengan Kacamata Hitam
Bule Eropa Memang Tidak Tahan Sinar Matahari langsung

Kenyataannya tidak secanggih yang ada di video youtube tersebut.  Memeras susu sapi sama saja caranya dengan orang Indonesia, yaitu dikenyot kenyot pakai tangan dan ditampung di ember seng. Motong rumput juga pakai arit meskipun bentuknya berbeda dengan arit Indonesia. Ngumpulin jerami dan sampah juga pakai kereta sorong dan gancu yang sama saja bentuknya dengan di Indonesia. Traktor dan mesin pertanian nggak terlihat satupun ada yang kinyis kinyis baru keluar dari showroom.

Sapi Switzerland Yang Terlihat Sangat Hijau Dan Indah Dari Kejauhan
Kalau Dari Dekat Baru Terlihat Banyak Tahi Sapi

Rerumputan yang terlihat menghampar hijau dengan latar belakang pegunungan Alpine yang bersalju dipuncaknya kalau didekati dan diinjak rumputnya ternyata banyak tahi sapinya juga. Jadi, Turis Indonesia yang rame di medsos itu sebenarnya sama saja dengan Astronot yang melihat Bumi dari Bulan.  Susah payah ke Eropa, tapi ceritanya 'nggedabus' hanya melihat dari kejauhan tanpa pernah sekalipun menginjakkan kaki di rerumputan yang katanya 'Beautiful' tersebut.

Jerami Dan Sampah Daun Dan Ranting Digulung Dengan Mesin
Untuk Dibawa Ke Composting Facility Dijadikan Pupuk Kompos

Lain kali, kalau anda jalan jalan ke Eropa cobalah melihat lebih dekat dan berinteraksi dengan penduduk desa. Anda akan tahu sendiri bagaimana susah payahnya petani / peternak bule mengumpulkan jerami, rumput, sampah pepohonan dan mengumpulkan tahi sapi untuk dioplos dan diolah jadi pupuk kompos lalu dieksport ke Timur Tengah dan negara lain.

Kegiatan Pertanian Ngumpulin Jerami Dan Sampah Pepohonan
Dioplos Dengan Tahi Sapi Lalu Diexport Ke Kuwait Dan Timteng

Dan jangan terkejut juga kalau anda melihat Pupuk Kompos buatan Swiss, Germany, Austria, Netherland ada di Indonesia. Saya melihatnya sendiri sudah ada di Al Rai Kuwait. Semua Pupuk Kompos,dan Pupuk Kandang didatangkan langsung dari negara negara Eropa. Ini semua bisa terjadi karena bule eropa rajin ngarit, mengumpulkan jerami, sampah pepohonan dan tahi sapi untuk dioplos dan dijadikan produk ekspor berupa pupuk kompos agar negaranya terlihat bersih dan indah.

Bule Lagi Ngosek Kandang Sapinya
Caranya Sama Saja Dimana Mana


Jerami, Sampah Ranting Dan Daun Diletakkan Dipinggir Jalan
Untuk Dibawa Ke Composting Facility

Semua Pedesaan Di Eropa Pemandangannya Hampir Sama
Yaitu Gulungan Jerami Nunggu Angkutan Ke Composting Facility

Turis Indonesia Itu Ngertinya Cuma Bersih
Tidak Tahu Susah Payahnya Bagaimana Membuat Bersih
Nggak Ada Yang Tahu Peternak Ngumpulin Tahi Pakai Sekop
Petani Nggaruk Garuk Jerami Dan Sampah Pakai Gancu


Pupuk Kompos Dari Jerman
Di Indonesia Umumnya  Jerami Dan Sampah Pohon Dibakar
Tahi Sapi Juga Disiram Air Ke Selokan Doang

Latvia Juga Ekspor Tahi Sapi Dan Pupuk Kompos
Ke Timur Tengah

Belanja Pupuk Di Al Rai Kuwait
Ada Yang Dari Jerman, Netherland, France, Latvia,  Austria Dll.
Orang Indonesia Terlalu Gengsi Untuk Ekspor Tahi Sapi Dan Sampah


Baca Juga :

Jumat, 14 Agustus 2020

Tunggangan Bule Di Pedesaan

Saya Kira Bule Eropa Tunggangannya BMW
Ternyata Naik Gerobak Juga
Lokasi : Perbatasan Belgia - Netherland

Orang kalau diberi kesempatan jalan jalan ke Eropa tapi nggak pernah blusukan sampai ke pedesaan, pasti kesan yang dibawa pulang ke tanah air berupa cerita cerita hebat tentang gedung, monumen, istana, museum atau apapun yang dilihat di kota besar. Padahal, semua negara dimanapun juga pasti mempunyai luas wilayah pedesaan yang jauh lebih besar dibanding perkotaan, termasuk negara negara di Eropa.

Pedesaan Menuju Sleza Mountain Poland
Tak Kira Mercedez Benz Atau Audi

Coba luangkan waktu sebentar saja untuk keluar masuk ke pedesaan. Anda akan terkejut ternyata suasana pedesaan di semua negara Eropa sama saja dengan di Indonesia. Bedanya, suasana pedesaan di Indonesia jauh lebih 'Ramah Lingkungan'. Misal membajak sawah masih menggunakan kerbau, mengeringkan padi masih dengan cara dijemur, pengairan irigasi cukup dengan cara mengalirkan air dari sungai dan tadah hujan. Nyaris nggak ada di Eropa bertani dengan cara yang sangat 'ramah lingkungan' seperti di Indonesia. 

Anda Pernah Blusukan Sampai Ndeso Kluthuk
Seperti Ini Di Eropa ?
'BMW' Tunggangan Bule Eropa Ternyata Unik Dan Antik

Bertani di negara negara Eropa yang pernah saya kunjungi, semuanya dibikin ribet sendiri dengan peraturan dan susah saya temukan peralatan bertani 'Ramah Lingkungan' seperti kerbau untuk mengolah tanah, gerobak sapi untuk mengangkut hasil bumi dsb.  Semua peralatan bertaninya serba bermesin, berasap dan bersuara cukup keras grok grok grok suara mesin tua.

Jalan Desa Nggunung Di Sleza, Poland


Sungai dan hujan di Eropa tidak sebanyak di Indonesia sehingga untuk merawat satu petak sawah atau kebun saja susahnya bukan main. Saya pening sendiri dan lebih baik tutup telinga mendengar istilah istilah yang sering saya dengar, misalnya : Groundwater Tax (GWT), Pesticide Tax, Water Supply Tax, Provincial Groundwater Fees, Pumping Tax, Environmental Tax dll.

Ndeso Dekat Insbruck Austria
Kebun Jagungnya Subur Subur Juga

Cari sendiri di mbah google istilah istilah diatas diterapkan  di negara mana saja di Eropa. Saya tidak tertarik mengulas disini karena saya tidak akan setuju kalau petani di Indonesia dibebani berbagai macam peraturan dan pajak seperti di negara negara Eropa,

Dari Jauh Saya Kira Mini Cooper Atau Morris Minor
Ternyata Gerobak Sorong Cap Kingkong Super
Lokasi Pedesaan Dekat Insbruck Austria

Saya lebih tertarik memperhatikan 'Tunggangan' petani bule di Eropa saja.  Ternyata, kebanyakan tunggangan petani bule di Eropa adalah traktor. Saya kira bule Eropa itu tunggangannya Lamborghini, Ferrari, Alfa Romeo, Mercedez Benz atau BMW. Ternyata tidak ada yang naik mobil mobil tersebut. Saya perhatikan, petani bule Eropa ternyata cenderung sama saja 'kere'nya dengan petani di Indonesia. Barangkali karena terlalu banyak dibebani pajak.

Bule Ndeso Di Insbruck, Austria
Saya Kira Alfa Romeo Ternyata Odong Odong

Silahkan melihat sendiri photo photo di blog ini dan silahkan menilai sendiri benar atau tidak apa yang saya katakan. Seandainya anda sedang berada di negara manapun di Eropa, luangkan sedikit waktu anda untuk blusukan ke pedesaan. Saya yakin, anda akan rindu dengan kampung halaman di Indonesia. Nyaris sama saja dengan di Indonesia, ada sawah, kebun, hutan, bule ngarit, angon sapi, nggiring kambing dan lain sebagainya.

'Lamborghini' Bule Swiss
Di Pedesaan Antara Oberalp Pass - Tujetsch

Ingat, jangan menanyakan hal ini ke mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di salah satu negara di Eropa atau turis Indonesia yang lagi seneng senengnya upload photo wisatanya ke medsos. Mereka nggak tahu dan nggak ada yang pernah jelajah sampai ke pedesaan. Cerita mereka cenderung 'nggedabus' dan hanya bercerita tentang gemerlapnya Kota Besar. Desa mah sama aja, gelap hanya dengan lampu ala kadarnya kalau malam. Udaranya bersih dengan bau semilir aroma khas dari kandang kandang  sapi.

Oberalp Pass Switzerland

Lamborghini Orange Bule Perancis Di Sekitar Orb Valley

Ndeso Sutrio antara Friuli - Venezia Giulia Italia
Mini Cooper Atau Moris Minor, Ternyata Odong Odong

Naik Odong Odong Di Pusat Pertanian Sleza, Poland


Warnanya Doang Yang Merah Ferrari
Lokasi Sognefjord - Skjolden, Norway



Flanders - Belgia. Dari Jauh Terlihat Warnanya Merah
Keren Amat Satu Desa Punya Ferrari
Eh Ternyata Traktor Doang

Kamis, 13 Agustus 2020

Dora The Explorer Kesasar

Dora The Explorer Bingung
Cari Jalan Ke Hotel

Kalau kesasar di negara sendiri sih tenang dan biasa. Semua orang bisa ditanyain dan tidak ada sedikitpun rasa deg degan sama sekali. Nah, saya ini paling sering kesasar di negara orang. Semua kejadian kesasar karena ngikuti si bapak. Sebagai seorang istri sudah tentu saya dan anak anak ngikut saja dibelakang si bapak. Celakanya, si bapak ini sok tahunya luar biasa. Terlalu PD dan cuek bebek kesasarpun dinikmati.

Dora The Explorer Tambah Bingung
Ketemunya Alun Alun Dan Gedung Opera

Di Kota Lviv, Ukraina saya ngikut aja kemana maunya si bapak. Saat itu kita sedang istirahat sebentar melepas lelah setelah keluar masuk toko disekitar hotel. Kebetulan saat itu kita berdiri dekat halte bus. Begitu ada bus lewat dan berhenti di Halte, eh.... si bapak langsung ngejar bus dan naik. Kita bertiga 'Dora The Explorer' terkejut sebentar lalu ikutan  naik juga.

Dora The Explorer Semakin Bingung
Bertanya Bahasa Jawa Dijawab Bahasa Ukraina

Karena nggak tahu tujuan dan akan turun dimana, akhirnya kita ngikut aja kemana bus berjalan. Baru naik sekitar 15 menit, penumpang pada turun semua. Ternyata bus sudah nyampai terminal paling terakhir, untungnya ditengah kota LVIV. Jangan tanya nama terminalnya apa, saya tidak tahu sama sekali karena semua papan nama pakai huruf terbalik Cyrilic Russia.

Saat Saat Genting Dora The Explorer Tersesat
Si Bapak Tenang Tenang Saja Mengamati Sambil Photo

Keluar dari terminal petualangan 'Dora The Explorer' dimulai. Si Bapak dengan percaya diri berjalan paling depan. Tapi rombongan Dora The Explorer mulai ribut, tidak percaya lagi kepala regunya. Beruntung hidung saya pesek dan warna kulit sawo matang. Dimanapun saya berhenti dan bertanya, yang menjawab sangat banyak. Semua orang berusaha menolong dan menjelaskan meskipun saya tidak tahu apa yang diucapkan. Saya tanya pakai bahasa Jawa, menjawabnya pakai bahasa Ukraina.

Iki Lho Hotelku Mas
Numpak Opo Nek Mulih Hotel

'Mas, nginepku nang hotel iki, piye carane mulih nang hotel', sambil saya tunjukkan lokasi hotel di peta. Ternyata ngerti apa yang saya tanyakan dan langsung menjawab.
Просто йдіть цим шляхом, потім поверніть праворуч і продовжуйте ...
'Sing paling cepet numpak opo mas ?'. Juga ngerti, jawabannya singkat dan padat.
взяти таксі, але чекати трохи довго
Sebelum berpisah, saya sempatkan untuk bertanya sekali lagi.
'Golek mangan nang ndi mas ?'. Bisa menjawab juga dan saya ditunjukkan jalan menuju ke restaurant restaurant bagus yang bisa dilalui sambil jalan kaki menuju hotel.

Ribet Ngomong Dengan Bahasa Yang Berbeda
Tapi Bisa Nyambung

Jangan Tanya Nama Jalan Ini
Yang Jelas Bisa Nyampai Kesini Karena Kesasar

Akhirnya Nemu Banyak Tempat Makan
Entah Apa Nama Jalan Ini

Makan Dulu Ah Lapar
Terlambat Makan Siang Nih

Senin, 03 Agustus 2020

Ada 'Oom Telolet Oom' Di Nepal


Gembira Nemu Suasana Seperti Di Indonesia
Oom Telolet Oom

Saya jengkelnya bukan main dengan mas Ardi dan si bungsu Dinda. Dua orang ini nggak ada rasa takut dan was was sama sekali di negeri orang. Saat saya melakukan perjalanan dari Kathmandu ke Pokhara, Nepal, seperti biasanya tugas nyetir selalu disepakati bergiliran. Tapi mas Ardi selalu 'ngeyel' kalau tiba gilirannya untuk nyetir. Alasannya bisa 1001 macam. 

Jalan Raya Kathmandu - Pokhara Sangat
Berbahaya, Sempit, Ramai Dan Ada Jurang

Yang paling sering dijadikan alasan adalah 'Kalau Nyetir Siapa Yang Bagian Jeprat Jepret Ngambil Photo ???'. Sebenarnya benar juga alasannya, Sudah terlalu sering kalau mas Ardi sedang nyetir, '3 Dora The Explorer'  pengikutnya  tidur. Kalau nggak tidur seringkali berisiknya bukan main membuka bekal makanan dan makan mulu sepanjang perjalanan.

Bus Di Nepal Semuanya Buatan India
Klakson Tololetnya Sangat Meriah

Saat saya kebagian tugas pertama nyetir, jalanan Kathmandu - Pokhara sedang macet total ber jam jam. Disamping karena jalannya sempit, berbelok belok naik turun, juga kendaraan yang lewat kebanyakan truk dan bus umum. Ditengah kemacetan, mas Ardi dan Dinda turun dari mobil hanya untuk photo photoan di jalanan, ditengah kemacetan dan diantara bus dan truk. Tanya tanya juga ke sopir bus / truk ada apa kok macet. Kalau ada kecelakaan tanya ke siapapun disekitarnya ada korban nggak. Pokoknya tingkah lakunya  Indonesia banget.

Kalau Berpapasan Dengan Truk / Bus Lain
Sopir Nepal Juga Membunyikan Klakson Telolet

'Mak, seperti di Indonesia mak'
'Macet Panjang mak, kayak perjalanan ke Puncak'
'Busnya Antik mak, Ada Klakson Telolet seperti di Indonesia'
'Telolet mak, Bisa numpang joged biar nggak stress jalan macet mak'

Nah Ada Truk Terguling Di Tikungan
Pak Sopir Mungkin Lupa Membunyikan Telolet Di
Tempat Angker Dan Berbahaya

Berkali kali mereka berdua naik turun mobil hanya untuk mengambil photo kemacetan dan tanya kiri kanan. Berbagai macam truk/bus diphotoin semua. Bergaya dan ngobrol dengan sopir truk/bus ditengah jalan yang macet. Entah pakai bahasa apa, yang jelas bisa berkomunikasi 'gayeng' meskipun saya perhatikan tangan harus digerak gerakkan atas bawah kiri kanan untuk memperlancar komunikasi.

Nah Ini Dia Ada Truk Gandeng Terguling Di Jalan
Nyalakan Telolet Ditempat Angker Biar Aman

Saya benar benar nggondok luar biasa karena dua orang ini ketawa ketiwi saat bus dan truk saling membunyikan klakson 'Telolet'  bersahut sahutan. Telinga saya rasanya pekak meskipun suaranya berirama. Sopir Bus dan Truk sepertinya gembira ada turis asing di tengah kemacetan. Masing masing berusaha menunjukkan keistimewaan klakson Teloletnya ke mas Ardi dan Dinda saling bersahut sahutan. Keduanya Joget joget di jalan  mengikuti irama klakson Telolet pula bersama beberapa penumpang yang turun karena bosan didalam bus dalam kemacetan..

Telolet Dibunyikan Saat Masuk Ke Area Istirahat
Artinya Salam Abang Datang Buat Dik Narti Di Warung

Cepat cepat saya turun dari mobil dan segera bertindak.
'Ayo masuk mobil cepat !!!'
Dan sekarang  mas Ardi saya paksa nyetir sampai ke  Pokhara. Tidak boleh diganti sebelum nyampai ke Hotel. Sepanjang perjalanan saya isi dengan 'ceramah'  dan 'tauziah' tentang keselamatan mengemudi, tips menjaga diri di negara orang dll. Dua orang ini diem saja. Nggak berani turun mobil lagi dan jogat joget di jalanan meskipun beberapa kali jalanan masih macet total.


Bayar Tip Buat Jatah Preman
Telolet Tidak Ada Yang Dibunyikan Didepan Polisi

Lewat Didepan Warung Langganan Membunyikan Telolet
Salam Buat Dik Narti Di Warung

Yahhh, Tambah Macet Ada Bus Yang
Mendahului Melawan Arus - Adu Kambing Deh
Klakson Telolet Dibunyikan Terus

Ada Sepeda Motor Jatuh Kesenggol Bus
Seluruh Kampung Keluar Menonton

Jalan Menanjak - Bus Paling Depan
Seenaknya Berhenti Menaikkan/Menurunkan Penumpang

Ada Juga Yang Berlari Mengejar Truk Pick Up
Numpang Angkutan Gratis

Macet - Lambat Merayap
Berisik Suara Klakson Telolet

Kalau Sudah Macet Total Seperti Ini
Mobil Kecil Dan Umum Juga Mengambil Jalan Yang Kosong
Meskipun Melawan Arus - Tambah Macet

Baca Juga :