Jumat, 30 Agustus 2013

Toilet Ajaib The Avenue Mall

Coffee Shop Untuk Penginderaan Jarak Jauh
Di The Avenue Mall Kuwait

Bim Salabim - Masuk Toilet
5 Yang Keluar Cuma Dua
Di Kuwait toko buku yang benar benar toko buku seperti layaknya TB Gramedia hanya satu, yaitu Jareer Bookstore. Perpustakaan umum maupun perpustakaan universitas juga ada tapi tidak seramai perpustakaan di Indonesia. Tetapi, para mahasiswa Kuwait lebih senang belajar bersama atau diskusi di Airport dan Mall. Mereka biasanya berkumpul sekitar 5 orang di Coffee Shop atau restaurant dan terlihat sekali bahwa mereka seorang mahasiswa dari buku dan lembaran tugas yang dibawanya. Salah satu tempat yang sering saya kunjungi adalah The Avenue Mall karena kebetulan suami saya juga membimbing mahasiswa mahasiswa Kuwait tugas akhir disamping mengajar mempersiapkan mereka untuk menjadi engineer terbaik di negeri ini.

Rombongan Saudi Baru Datang
Keluar Dari Toilet Tinggal Dua Yang Hitam, Pulang Ke Saudi 5 Kembali


Selalu Ramai Saat Akhir Pekan
Perlu Keahlian Khusus Untuk
Mengetahui Orang Saudi
Karena hampir sekali atau dua kali seminggu saya menemani suami membimbing mahasiswa tugas akhir di coffee shop The Avenue Mall, maka saya bisa mengetahui dengan pasti pengunjung Mall terbesar di Kuwait ini berasal dari Saudi Arabia atau bukan. Kebetulan coffee shop tempat para mahasiswa konsultasi  dan diskusi dengan suami berhadap hadapan dengan Toilet. Cara mengidentifikasi seseorang dari Saudi Arabia atau bukan versi mahasiswa Kuwait sangat mudah sekali, yaitu dengan cara memperhatikan wanita yang keluar masuk toilet. Toilet biasa, tetapi para mahasiswa/i sering menyebut sebagai Magic Toilet.



Khusus Barang Fashion Branded
Ada Louise Vuitton Lebih Murah Dari Indonesia
Tanpa Pajak

The Souq
Pasar Tradisional Didalam
Avenue Mall
Setiap hari Kamis sampai Jumat atau Sabtu, banyak sekali penduduk Saudi Arabia yang tinggal dikota kota perbatasan seperti Khafji, Dammam atau Dhahran berkunjung ke Kuwait karena di kota mereka tidak ada hiburan, Gedung Bioskop apalagi Mall besar seperti The Avenue Mall. Mereka datang ke Kuwait karena lebih dekat dibanding kota besar lain di Saudi. Hanya sekedar untuk shopping, mencari hiburan, makan enak atau jalan jalan akhir pekan saja. Umumnya para wanita Saudi kalau jalan mudah dikenali, yaitu berombongan sekitar 4 atau 5 orang. Saat baru datang, semuanya masuk ke Toilet dan Bim Salabim begitu keluar dari Toilet, yang masih tetap memakai abaya hitam tinggal dua orang saja. Yang lainnya sudah berganti dengan dandanan modis dan membuat terperangah mahasiswa karena memang cantik cantik semua.


Food Court The Avenue Mall


Design Copy Paste Kota
Paris
Terima kasih mahasiswa mahasiswi Kuwait, ilmu penginderaan jarak jauh yang kamu ajarkan hari ini sangat berguna bagi saya. Saya akan lebih hati hati di tempat parkir kalau bertemu mereka karena seringkali Madame Saudi belajar mengemudi mobil di Kuwait. Salah jalan dan melawan arus kendaraan ditempat parkir sudah merupakan hal biasa. Ngeyel minta kita yang mundur meskipun kita yang berada dijalur benar juga hal biasa. Ampuuunnnn.....lagi lagi Plat Nomor Saudi ...!


Ada Peta Dunia Di Lantai
Sangat Detail Dan Bagus Tapi Diinjak Injak

Baca Juga :


Senin, 26 Agustus 2013

Susu Belanda

Belanda - Negeri Penuh Sapi

Sapi Belanda Pakai Anting
Namanya Dolly
Terus terang susah sekali saya membuat judul tulisan ini dalam bahasa Indonesia. Saya hanya ingin menulis tentang Dutch Milk saja. Tetapi banyak sekali pembaca blog ini yang punya pikiran 'ngeres'. Jangan jangan ada yang berinterpretasi dan berharap saya menampilkan tulisan dan photo photo tentang Scheveningen Beach di Den Haag (The Hague). Memang benar sekali, setiap musim panas banyak sekali 'Dutch Milk' yang dibiarkan terbuka tanpa 'Bra' di pantai Scheveningen Den Haag. Dari melihat 'Kemasan' Dutch Milk di Scheveningen ini saja siapapun akan bisa langsung menyimpulkan betapa unggul Belanda dalam hal produk susu dan olahannya. Tapi sumprit bukan 'KemasanDutch Milk atau payudara tanpa BH dan terbuka di pantai Scheveningen yang akan saya tulis dibawah ini.

Sapi Sapiku Di Indonesia
Namanya Gogon

Scheveningen Beach
Sengaja Berphoto Menghadap Pantai
Pemandangan Dutch Milk Di Pantai Lebih Bagus
Rumput Hijau Didepan Rumah
Bisa Melihat Sapi Dari Rumah
Rumah saya di Belanda hanya berjarak sekitar 100 meter dari peternakan sapi. Sengaja saya pilih yang dekat peternakan sapi karena kebetulan saya juga punya banyak sapi di Indonesia. Tak perlu harus jadi kader PKS kalau hanya ingin memelihara sapi. Tak perlu jadi anggota DPR kalau hanya ingin 'studi banding' tentang persapian. Saya bisa melakukan sendiri apa yang saya inginkan karena rumah saya didepan kandang sapi. Saya bisa belajar sendiri bagaimana cara merawat sapi yang benar dan juga bagaimana membuat produk produk olahannya. Tidak perlu harus belajar bahasa Belanda karena sapi juga tidak tahu bahasa Belanda. 



Kandang Sapi Didepan Rumah
Di Belanda, negara kecil dengan luas sekitar 41,543 Km Persegi dan jumlah penduduk hanya 16 Juta jiwa ini konon memiliki 30000 peternakan yang tersebar disegala penjuru negara. Saya bisa mempercayai karena memang Belanda sangat hijau sekali terutama kalau anda bisa menjelajahi negara mungil ini dari utara ke selatan dan barat ke timur. Menurut saya lebih cocok disebut negara agraris dibanding negara industri. Baca juga : Ke Belanda Apa Saja Yang Bisa Dilihat. Industri besarnya semua berada di Indonesia dan Asia Tenggara, contohnya pabrik pabrik Frissian Flag, Dutch Lady, Campina, Unilever,  dan lain lain.


Toko Keju Hasil Olahan Susu
Sapi Di Amsterdam Centrum
Beruntung kita pernah dijajah Belanda sehingga sampai saat ini tahu manfaat minum susu. Orang Indonesia sendiri diajari minum susu sapi dan makan keju oleh orang Belanda sekitar tahun 1938an. Awal mulanya dibentuklah paguyuban pengumpul susu pertama  di Indonesia yang bernama BMC (Bandoengsche Melk Centrale). Pendirinya adalah Louis Hirchsland dan Van Zijl seorang juragan susu saat pemerintahan kolonial. Produk utama BMC saat itu selain susu segar juga keju, yoghurt, mentega dan bahan lain dari susu. Itulah sebabnya di Bandung sampai sekarang ada restaurant yang bernama BMC, tempat penelitian yang sekarang dikenang sebagai Jalan Pasteur dan lain lain. Jejak sejarah ini semua ada di museum museum Belanda, terutama museum kolonialisme.


Ndeso Alkmaar
Pasar Keju Terkenal Ada Disini
Kalau anda berkunjung ke Alkmaar, kota kecil sekitar 45 Km dari Amsterdam yang terkenal dengan 'Pasar Keju'nya dan menyaksikan cara pembuatan keju maka anda bisa merasakan kota Bandung pada jaman kolonial. Tata cara pengolahan susu menjadi keju  nyaris tidak ada bedanya dari jaman dulu hingga saat ini. Cara penjualan keju di kota Alkmaar juga nyaris sama saja dengan di Bandung di masa itu. Lihat saja photo photo jadul kota Bandung di Museum Kolonial Amsterdam. Beruntung Indonesia segera merdeka dari penjajahan Belanda. Kalau tidak segera merdeka, bisa jadi akan ada 'Kemasan' Bandoeng Milk yang terbuka di pantai Situ Ciburuy, Situ Palenggan, Situ Cileunca, Situ Lembang dan Situ lain disekitar kota Bandung dan bersaing ketat dengan 'Kemasan' Dutch Milk  seperti yang terlihat di pantai Scheveningen saat musim panas. 


Di Tengah Pasar Alkmaar

Jalan Di Alkmaar
Sepi Tanpa Turis, Yang Memenuhi Kota Ini
Hanya Turis - Penduduknya Sedikit
Demo Jual Keju Di Alkmaar Untuk Turis
Ramai Turis - Sepi Penduduk



Baca Juga :

Senin, 19 Agustus 2013

KVK, Kumpulan Vedagang Kakilima Belanda

Dagangan PKL Di Albert Cuyp Markt
Amsterdam

Restaurant Indonesia
Sukses Di Belanda
Bulan Ramadhan ini saya pulang ke tanah air tercinta Indonesia. Seperti biasa pemandangan dimana mana adalah aktifitas ekonomi di tanah air yang luar biasa besar potensinya kalau dikelola dengan baik, yaitu pedagang kaki lima. Dari siaran radio yang saya dengar melalui mobil yang saya kendarai, saya bisa mengetahui Gubernur/Wagub DKI Jokowi/Ahok sedang sibuk mengurus para PKL di Tanah Abang yang susah sekali diatur. Preman preman di tanah abang ngamuk karena penghasilannya dari memalak PKL bakalan habis kalau semua PKL dipindahkan ke Block G dari tempat biasanya membuka lapak di jalan raya.


Aku Dan Suami Istri Pemilik
Restaurant Lestari Arnhem
Kenapa dari jaman dulu kala di Indonesia selalu ribut antara pemerintah dan PKL ? Indonesia punya Kementerian Perdagangan Dan Perindustrian, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kamar Dagang Indonesia, Perusahaan Daerah Pasar dan lain lain. Tapi urusan Pedagang Kaki Lima tidak pernah beres dan terintegrasi dengan baik. Masing masing kementrian tidak pernah mencari solusi bersama membantu wiraswastawan kecil untuk lebih baik. Setiap tahun pemda selalu 'Fire Fighting' padahal Indonesia punya banyak sekali lulusan perguruan tinggi jurusan informatika. Bisa jadi PNS atau staff kementerian diatas terlalu 'Jadul' dan masih 'Gaptek' dan tidak tahu sama sekali pentingnya database yang terintegrasi. Atau mereka sangat cerdas sekali dan tahu kalau system informasinya bagus maka tidak punya peluang lagi untuk 'korupsi'. Siapa tahu kan ?


PKL Di Albert Cuyp Markt
Di Belanda, urusan PKL bisa beres dan cukup ditangani oleh KVK (Kamer Van Koophandel). Semacam Chamber Of Commerce kalau dinegara lain atau KADIN kalau di tanah air. Siapapun bisa jadi wiraswastawan atau PKL termasuk orang asing. Syaratnya cuma KTP saja dan syarat ini sangat mudah sekali didapat, misal jadi mahasiswa dulu lalu residency permitnya digunakan untuk nyambi jadi PKL. Itulah sebabnya di Belanda banyak sekali Rumah Makan Indonesia, Turki, Suriname dan lain lain. Pedagang Kaki Limanya pun punya spesialisasi dagangan berdasarkan asal negaranya seperti yang pernah saya tulis di Simbok Di Pasar Albert Cuyp Amsterdam


PKL Buah Buahan Di Belanda


PKL Di Semarang
Pemerintah Belanda tidak perlu sibuk menarik iuran harian atau pajak dari PKL karena melalui website KVK (Kamer Van Koophandel) semua wiraswastawan diberi hak untuk melaporkan semua cash flow harian dan dengan mudah sekali pemerintah dan PKL mengontrol berapa pajak yang harus dibayar. Satpol PP Belanda tinggal keliling bawa laptop untuk mengontrol nomor registrasi para PKL, kalau belum input laporan keuangan dan belum bayar pajak sesuai cash flownya tinggal diberi peringatan dan malah dibantu untuk mengisi laporan keuangan. Soal bayar pajak, semua PKL tidak perlu harus datang ke kantor pajak, semuanya otomatis didebet dari rekening bank si PKL sesuai dengan cash flow yang dilaporkan. Pajak dari PKL diberikan kembali dalam bentuk fasalitas berdagang, jaminan sosial saat tidak bisa berdagang dan lain lain.


PKL Utrecht


PKL Di Rumahku Bogor
Lokasi PKL juga sudah ditentukan dan diatur harus memenuhi syarat tertentu. Tetapi kalau mobile (Pedagang Keliling) diberi persyaratan lain yang lebih ketat supaya tidak seenaknya ngetem ditempat strategis ditempat yang dilarang untuk berdagang. Bagaimana, mumpung sekarang masih suasana hari kemerdekaan 17 Agustus, enak mana Belanda atau Indonesia ?. Seandainya saja Indonesia masih berada diwilayah administratif Belanda, sudah pasti caranya akan sama. Pemda, PD Pasar, Preman dan entah institusi pemerintah apa lagi tidak akan ada yang mengutip iuran harian secara manual untuk dimasukkan ke kantong pribadi. Apa sih susahnya membuat system informatika yang terintegrasi untuk seluruh negara Indonesia ? Mau dijajah Belanda kembali supaya negara ini bagus ? Atau biarkan saja merdeka seperti sekarang ini dan siapapun bisa bebas mengutip uang dari para pedagang kaki lima ?. Langkah bagus apapun yang dilakukan Gubernur/Wagub DKI terhadap pasar Tanah Abang akan tetap sia sia kalau tidak disediakan system terintegrasi yang memudahkan pedagang seperti KVK.


Kacang Goreng Juga Ada

Kentang Goreng Keju Belanda


Baca Juga :



Jumat, 16 Agustus 2013

Secangkir Kopi Dan Produk Indonesia Di Al Kouts

Ngopi Di Al Kouts - Fahaheel Kuwait


Air Mancur Yang Bisa Berjoget
Di Al Kouts
Al Kouts letaknya ditepi laut Arabian Gulf, Fahaheel, Kuwait. Ditempat ini hampir tiap hari saya jalan jalan. Ada jogging track yang cukup bagus dan selalu ramai setiap sore sampai tengah malam. Di tepi pantai ini juga banyak keluarga yang menggelar tikar untuk makan makan bersama atau sekedar santai melihat lalu lalang orang dan kapal kapal yang keluar masuk di dermaga. Restaurant dan cafe cukup banyak dan menyediakan meja dan tempat duduk didalam ruangan dan diluar ruangan menghadap ke laut atau kolam besar dimana terdapat air mancur yang bisa bergoyang mengikuti irama lagu.



Yacht Nelayan Sedang Parkir
Di Al Kouts
Setiap akhir pekan sekitar jam 7:00 - 08:00 selalu ada Pelelangan Ikan yang sangat menarik untuk ditonton di bagian Pasar Ikan. Nelayan dan pembeli bertemu langsung dan bertransaksi yang sangat hiruk pikuk hanya dalam waktu satu jam saja. Begitu aba aba lelang ikan dimulai, langsung gaduh, nelayan, pedagang kulakan dan pembeli semua berebut ikan segar hasil tangkapan semalam. Di salah satu pojok pasar ikan ini ada beberapa Taylor Made Restaurant, maksudnya kita tinggal beli dan pilih sendiri ikan di pasar ikan, setelah itu tinggal serahkan ke tukang masak di restaurant tersebut. Kita tinggal bayar ongkos masak, nasi dan minuman yang kita pesan. Rasanya lebih nikmat karena benar benar fresh dan langsung dari hasil tangkapan nelayan.


Nunggu Pesanan Kopi Hangat Datang
Kenapa saya sering sekali ke Al Kouts ? Selain untuk cari makan enak juga untuk jogging atau sekedar jalan jalan  pagi atau sore saja. Terkadang saya sengaja datang hanya sekedar untuk ngopi saja. Mulai dari Starbuck, Costa, Caribou dan masih banyak lagi Coffee Shop di Al Kouts memiliki menu spesial dari tanah air. Secangkir Sumatran Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee atau Toraja Coffee cukup bisa mengobati rasa rindu kampung halaman. Sayang sekali, meskipun Indomie banyak dijual di Kuwait, tetapi tidak ada satupun cafe di Al Kouts yang menjual Indomie Rebus Pakai Telor seperti yang sering kita lihat di tanah air.



Al Manshar Dan Rotana Hotel
Dilihat Dari Al Kouts
Lokasi Al Kouts sangat dekat sekali dengan Fahaheel Bazaar, sebuah pasar tradisional Kuwait yang menjual berbagai macam barang. Excite - Al Ghanim Electronic Store juga tidak jauh letaknya dari Al Kouts. Toko Electronic besar ini cukup beken dilkalangan expats karena juga menjual barang barang electronic dengan harga murah buatan China. Merek populer adalah WANSA, tetapi beberapa tahun terakhir ini banyak sekali TV, kipas angin dan berbagai macam barang electronic buatan Indonesia yang bersaing ketat dengan Wansa. Contohnya adalah TV Panasonic, sedikit lebih mahal dari Wansa tetapi namanya sudah sangat dikenal oleh para expats di Kuwait. Meskipun saya tidak punya saham di Panasonic, tetapi rasa bangga tetap ada saat mendengar penjual menyarankan kesemua calon pembeli untuk memilih produk Indonesia.  'Choose this one sir, I will guarantee Indonesian products are better than Wansa'. Apa iya ?


Al Kouth North Pier


Jogging Di Al Kouts



Air Mancur Berjoget Dan Bernyanyi
Nggak Ada Lagu Ndangdut Di Al Kouts


Open Air Cafe & Restaurant Di Al Kouts


Cantik Nggak ? Maksud Saya Al Kouts
Diwaktu Malam

Baca Juga :

Jumat, 09 Agustus 2013

Berlin Butut Dan Ancur

Jorok Dan Ngawur
Rumah Di Berlin Di Oret Oret Sesukanya

Berlin, Jerman. Bagi siapapun yang belum pernah ke kota ini tentu bayangannya adalah sebuah kota yang indah, bersih dan tertata rapi. Bagi yang sudah pernah tetapi hanya wisata ke Berlin beberapa hari, kesan pertama memang seperti itu karena semua bus pariwisata dan tour guide yang membawa wisatawan hanya mengarahkan ke tempat tempat yang indah, penuh dengan bangunan exotic dan bersejarah. Tetapi kalau anda cukup lama tinggal di Berlin atau sering keluar masuk kota Berlin, maka anda akan tahu sendiri seperti apa kota ini. Ternyata ibukota Jerman ini punya masalah yang sama dengan kota besar manapun, yaitu punya sisi kumuh, jorok dan tidak aman. 


Agak Bagus Warnanya,
Tapi Disekitarnya Banyak Graffiti
Jorok Dan Porno


Berlin adalah kota besar dengan penduduk yang sangat majemuk. Kaya, miskin, terpelajar, gembel, kere, preman semua ada. Di pusat kota dimana banyak tempat wisata berada dan sering dikunjungi wisatawan maka terlihat 'Kinclong', bagus dan sempurna. Semua wisatawan akan terkagum kagum menyaksikan keindahan bangunan dan berbagai macam peninggalan sejarah. Tetapi agak kepinggir sedikit saja dari tempat keramaian, terutama kalau anda mau 'melepaskan diri' dari tour guide anda, maka anda akan bisa menyaksikan segala macam pemandangan kota besar yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan Reichstag, Bradenburg Tor, Check Point Charlie, Berlin Wall atau gedung gedung museum bergaya Gothic yang memang bagus seperti yang pernah anda lihat di majalah majalah pariwisata.


Rumah Makan Arab Di Berlin
Jadi Nggak Selera Karena Dinding
Luarnya Penuh Tulisan Jorok


Silahkan menyaksikan sendiri photo photo menakjubkan diblog ini yang barangkali anda tidak pernah menyaksikan sebelumnya. Tidak semua photo bisa saya tampilkan, yang jelas kalau anda mau wisata ke Berlin dan berani 'nyempal' dari rombongan dan lepas dari arahan tour guide anda, maka anda bisa melihat sendiri orang mabuk bawa botol di jalanan, gembel di kolong jembatan layang, Preman ABG membersihkan kaca mobil di lampu merah, pengemis di lampu merah dan orang kencing di sudut tempat praktek dokter. Nggak ada bedanya dengan kota besar lain, apalagi Jakarta.


Jembatan Karatanpun Juga
Dicorat Coret
Pingin tahu tentang dana sosial di negara negara Eropa ? Baca BPJS Inggris, Kenapa Artis Indonesia Kawin Cerai dan Social Dienst, Nganggur Aja Dibayar

Penuh Gambar, Maksud Pemilik Bar Supaya Tidak Di Oret Oret
Tetapi Tetap Saja Disemprot Cat Tulisan Mesum

Pintu Rumahpun Di Oret Oret


Hilang Sudah Bayangan Tentang Jerman Yang Indah
Setelah Melalui Jembatan Karatan Penuh Grafiti Ini

Ada Tempat Kosong Sedikit saja Di Corat Coret

Potongan Tembok Berlin
Di Perempatan Dekat Kolong Jembatan Kumuh Inilah Saya
Dipalak Preman Yang Pura Pura Membersihkan
Kaca Mobil Tapi Minta Bayaran Mahal
Hati Hati Kalau Berhenti Di Lampu Merah Jalan Ini
Banyak Pengemis Dan Preman Ngelap Kaca Mobil
Jangan Buka Kaca Jendela Mobil Anda

Kalau Halaman Depan Tempat Praktek
Dokter Kumuh Seperti Ini, Kira Kira
Dokternya Seperti Apa Ya

Lapak PKL Di Kolong Jembatan
Bau Pesing, Anda Mau Kencing
Di Pojokan ?
No Comment
Ngganteng Pol
Asyik Update Status : Tweeter Dan Facebookan


Baca Juga :