Selasa, 09 Februari 2016

Lembah Cinta Cappadocia, Turkye

Namanya Cock Rock Di Cappadocia
Bahasa Jawanya Watu K****l atau Watu Manuk

Bentar lagi Valentine's Day. Mari saya ajak anda wisata ke negerinya Erdogan, tempat yang cocok untuk berValentine's day. Saya naik bus pariwisata dgn berbagai macam turis. Bisa ngebayangin nggak, kalau  seandainya anda salah satu dari sedikit wanita dalam bus pariwisata yang isinya sebagian besar laki laki. Saya pernah mengalaminya saat jalan jalan di Cappadocia, Turkye. Sepanjang jalan turis laki laki dari berbagai macam negara guyon dan ngakak mulu. Yang semula saat berangkat dari Goreme masih belum ada yang kenal, sontak langsung akrab dan saling tertawa ngakak saat memasuki Love Valley (bagian dari Goreme Open Air Museum), Cappadocia. Namanya keren, Lembah Cinta, tapi isinya ratusan prototype 'barang'  yang paling dibanggakan kaum lelaki. Lokasi Love Valley ini sekitar 10an Km dari Goreme, kota kecil tempat saya menginap.


Yang Tengah Ujungnya Berlubang
Berdasarkan Mithos, Katanya Penyakitan
Udah Kena Penyakit Kelamin Siphilis

Didalam bus, tiba tiba ada turis yang teriak "Oh my God, mirip sekali punyaku !!!", sambil menuding ke salah satu bebatuan yang konon namanya 'Cock Rock' (bahasa Jawanya 'Watu K****l', maaf). Semua turis didalam bus melihat semua dari jendela lalu turis laki laki pada ngakak semua. Menurut anda, sebaiknya saya ikut ngakak atau cemberut ?. Tersenyum atau pasang wajah judes ?. Semula saya pura pura nggak dengar apa yang dibicarakan, maksudnya buat Jaga Image (Jaim). Tetapi ketika saya sibak tirai jendela bus dan saya lirik pemandangan diluar dari jendela, ternyata banyak sekali bebatuan disepanjang jalan yang benar benar bentuknya mirip sekali dengan 'onderdil'nya mas Ardi. Ada yang kecil imut, besar, mereng kekiri dan mereng kekanan. Lama lama saya  #mesem, #kelingan, #ngebayangin., #gemes, #pingintakremes.

Jiah, Keciiilll, Nggak Ada Apa Apanya Ternyata
Dibanding Yang Dibelakang

Melihat pemandangan batu yang mengacung tegak keatas di Love Valley ini saya jadi teringat Tugu Monas di Jakarta. Saya tidak pernah melupakan sama sekali Tugu Monas yang sangat bersejarah tersebut. Waktu masih mahasiswa, jaman pacaran puluhan tahun yang lalu, saat itu saya sedang melintas Monas dan jalan berdua menuju kantor BKKA Pertamina untuk urusan permohonan kerja praktek mas Ardi.
"Mas, jalannya pelan dong, kok ninggal terus. cinta nggak sih ?"
"Tenang dik, selama Tugu Monas masih berdiri tegak, aku akan tetap mencintaimu", sambil menunjuk Monas.
Cie cie....., Alhamdullilah Monas masih berdiri tegak sampai sekarang.

Nggak Kebayang Deh
Lebih Dari 10 Tegak Mengacung Keatas Didepan Saya


Ada Yang Ukurannya Cute Dan Ada Juga
Yang Jumbo, Tinggal Pilih

Ya Ampun, Besar Sekali Dan Berotot


Batu Cipokan
Mithosnya Dikutuk Jadi Batu Karena Berbuat
Tidak Senonoh


Batu Ciuman Ini Juga Hasil Kutukan
Karena Berbuat Mesum Di Tempat Ini


Yang Ini Bisa Digenggam
Semua Turis Posenya Mengacungkan Tinju


Yang Ini Pasien Mak Erot
Pose Favorit Turis Ya Rebahan
Seperti Ini

Cie Cie
Mas, Punyamu Kayak Yang Didepan Itu

Baca Juga :

Sabtu, 06 Februari 2016

Bayrami Di Istanbul Turkye

Anak Anak Istanbul Keliling Dari Rumah Ke Rumah
Saat Harii Raya Idul Fitri (Seker Bayrami)
Cuma Dapat Permen Dan Coklat


Sudah berkali kali saya berada di Turkye saat liburan Hari Raya. Semua hari raya di Turkye namanya Bayram (Bayrami). baik untuk hari raya keagamaan maupun non keagamaan selalu pakai nama embel embel Bayram atau Bayrami. Saya kurang begitu jelas arti sebenarnya dari Bayram ini, mungkin artinya Hari Raya atau Hari Libur. Yang jelas semua penduduk kalau ditanya libur apa hari ini ?, ada apa kok ramai disana ?, jawabnya hanya satu kata saja "Bayram". 


Pagi Hari Selesai Mbangunin Sahur
Pulang Kerumahpun Masih Riuh Nabuh Drumnya


Bukan hari raya Islam saja yang disebut Bayram, hari raya keagamaan umat Kristen juga disebut Bayram, misal Paskaiya Bayrami (Hari Raya Paskah), Noel Bayrami (Hari Raya Natal). Bahkan Haloween juga disebut Cadilar Bayrami


Nunggu Permen Dan Coklat Bayram


Yang sering saya amat amati adalah hari raya Idul Adha (Kurban Bayrami), Idul Fitri (Seker Bayrami) dan tentu saja bulan puasa Ramadhan (Ramazan Bayrami). Benar benar berbeda dibanding dengan di Indonesia. Hari raya besar umat Islam ini terasa biasa biasa saja, nggak ada bedanya dengan hari hari biasa kecuali toko toko yang banyak menjual manisan, permen dan coklat saja. Di Istanbul, Restaurant juga buka seperti biasa saat bulan Ramadhan dan tanpa ditutupi dengan kain sama sekali. Hmmm, orang Turki beli kain penutup restaurant aja nggak ada yang sanggup beli. Sore hari setelah buka puasa, semua cafe, restaurant dan discotheque mulai hingar bingar seperti hari biasa sampai tengah malam.


Hari Terakhir Puasa
Anak Anak Sudah Mulai Ramai Di Kampung Kampung


Malam Lebaran atau sehari sebelum Idul Fitri (Arafezi Bayrami - Hari Arafat), nggak ada arak arakan Takbiran seperti di kampung kampung di Indonesia. Bangga sekali rasanya, ternyata Indonesia lebih kaya dari Turki bisa menghambur hamburkan duit buat arak arakan Takbiran. Anak anak Turkye juga keliling kampung dari rumah ke rumah untuk salaman, nggak ada sedikitpun suara takbir dari anak anak tersebut. Pemilik rumah yang kedatangan tamu tamu kecil tersebut cuma membagikan permen, manisan atau coklat dan cay (teh) dalam gelas kecil. Lebih bangga lagi saya jadi orang Indonesia, di tanah air yang disediakan tuan rumah untuk anak anak selalu duit ribuan rupiah, Rengginang, Opor Ayam dan Teh Botol. Di Turkye mah ngirit, minum teh aja pakai gelas sloki yang kecil sekali.


Suasana Di Kampung Istanbul Saat Lebaran
Mobil Parkir Lebih Banyak Dari Biasanya
Nggak Ada Minal Aidin Wal Faidzin Di Turki
Cukup ucapkan 'Bayraminiz Mubarek Olsun'


Saat Sholat Ied, yang datang ke Masjid hanya laki laki saja, tidak seheboh orang Indonesia dimana kakek, nenek sampai cucu cicit semua berbondong bondong mudik dari Jakarta ke desa sampai masjid aja nggak cukup dan harus sholat Ied di lapangan. Pokoknya suasana hari raya di Indonesia jauh lebih hebat, gaduh dan gemerlap dibanding Turkye. Apalagi, saat lebaran semua perhiasan dipakai semua dan mobil baru dipertontonkan di kampung. Mana ada yang kayak gini di Turkye.

Ini Photo Bulan Puasa Di Taksim, Istanbul
Bukan Hoax Lho

Bulan puasa juga ada yang mbangunin tidur. Anak anak dan remaja jalan kaki keliling kampung membawa drum dan ditabuh keras keras berganti gantian dengan teriakan mereka yang tidak saya ketahui artinya. Saya dengarkan berkali kali, tidak pernah saya mendengar kata 'Sahur....Sahur...". Kalimat yang diucapkan sangat panjang dan berirama. Dung dung dung, lalu teriak teriak, dung dung dung, teriak lagi dalam bahasa Turkye. Sebenarnya sedih juga kenapa di Indonesia cuma kentongan bukan drum ?. Tapi nggak apalah, saat ini di tanah air sudah ada yang lebih keren dari sekedar Drum Turkye. Di Indonesia sudah jarang yang keliling bawa kentongan jalan kaki. Malah saat ini lebih banyak yang sahur bawa sound system, nyetel ndangdut keras keras dari atas becaknya.


Baca Juga :