Jumat, 12 Juli 2019

Bus Kota Kathmandu

Penumpang Bus Kota Di Kathmandu
Kaca Dibuka Karena Tanpa AC

Jakarta pernah punya bus butut tapi sangat legendaris PPD, Kopaja dan Metromini yang beroperasi sekitar tahun 1971 sampai 2015. Saking bututnya, kalau jalanpun seringkali mereng mereng karena penumpang bergelantungan dipintu. Tidak ada ACnya tapi sangat dibutuhkan oleh masyarakat Jakarta karena tidak ada pilihan lain yang lebih bagus. Beruntung saat ini sudah tidak terlihat lagi bus kota yang butut dan reot di Jakarta.

Lalu Lintas Kota Kathmandu Semrawut
Tidak Ada Garis Marka, Pembatas Jalur Sepeda,
Trotoar, Jalur Bus Dan Kendaraan Pribadi

Suasana seperti di Jakarta jaman bus PPD, Kopaja dan Metromini jadi raja jalanan ini bisa kita saksikan di Kathmandu, Nepal saat ini. Rasanya, pingin sekali saya sujud syukur sampai ndelosor ketanah kalau membayangkan kemajuan Jakarta dan kota kota lain di Indonesia saat ini. Pemandangan transportasi umum yang saya saksikan saat ini di Kathmandu tidak jauh berbeda dengan apa yang saya saksikan di New Delhi, Agra, Jaipur, Udaipur di India.

Tidak Ada Halte Resmi Buat Menaikkan/Menurunkan Penumpang
Semua Bus Bebas Berhenti Dan Ngetem Dimana Saja

Semua bus kota yang berkeliaran di Nepal memang buatan India. Merk busnya diantaranya Mahindra, Tata, Eicher, Ashok dan lain lain. Kalau di Indonesia barangkali merk bus produksi bengkel 'Las Bubut Dan Kenteng' atau bengkel 'Ahli Bikin Pagar Dan Teralis'. Tidak bisa saya sejajarkan sama sekali dengan perusahaan Karoseri di Indonesia karena produk Karoseri Bus di Indonesia terlalu bagus apabila dibandingkan dengan bus buatan India.

Tidak Ada Seragam Warna Bus
Semua Pengusaha Bus Bebas Mewarnai Busnya

Mesin bus di Kathmandu Nepal sangat berisik dan berasap. Kira kira suaranya tidak jauh berbeda dengan suara Bajaj buatan India yang juga pernah berjaya di Jakarta. Sekali lagi pingin sekali saya ndelosor ndelosor ditanah untuk sujud syukur karena bus di Indonesia yang sering saya naiki mesinnya Mercedez Bens.

Kelakuan Sopir Bus Kathmandu Sama Persis
Dengan Sopir Metromini Jakarta
Kejar Kejaran Berebut Penumpang
Saya bisa rasakan, naik bus kota di Kathmandu hari ini jauh lebih sengsara dibanding dengan naik Metromini, Kopaja maupun PPD tahun 1980an. Kalau ngetem nunggu penumpang penuh lamanya bukan main dan berkeringat. Kalau kejar kejaran cari penumpang bisa tiba tiba ngerem mendadak menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang tiba tiba nyelonong didepan bus.

Ngetem Didepan Pasar
Lamanya Bukan Main Untuk Jarak Beberapa Km Saja


Saya nggak tahu sama sekali bahasa setempat, tapi umpatan semacam 'Jancuk', 'Matamu Picek', 'Nggak Punya Otak', 'Pingin Mati Ya' dll seringkali terdengar baik diucapkan oleh sopir bus, kenek, kondektur atau pengendara sepeda motor yang mau ketabrak bus.

Di Kathmandu Juga Ada Yang Jual Es Jeruk Dan
Es Teh Asongan Disodorkan Ke Penumpang Dari Jendela
Yang paling sial kalau bus melakukan pelanggaran lalu lintas. Saya dengar sopir dan polisi debatnya lama sekali dan penumpang dibiarkan kepanasan diatas bus yang tanpa AC. Dari pembicaraan yang saya dengar, sepertinya si sopir tidak merasa melanggar lalu lintas dan si polisi ngotot terjadi pelanggaran lalu lintas. Saya yang nguping disebelahnya sebenarnya bingung juga, yang dilanggar sebenarnya apa.

Angkutan Kota Made In India
Bengkel Las Pagar Bikin Usaha Sambilan Membuat Bus
Merknya Macam Macam

Di Kathmandu secara umum bisa saya katakan tidak ada Traffic Light (hanya ada satu saja itupun mati).  Tidak ada juga marka jalan atau pembatas antara jalur sepeda motor, jalur pejalan kaki, jalur bus dan jalur kendaraan pribadi. Tanda 'STOP' dan larangan parkir juga tidak terlihat sama sekali.

Bus Merk Mahindra
Karoseri India Tehnologinya Sangat Kadaluarsa

Jadi, seandainya saya yang jadi sopirnya, sudah tentu saya akan bingung juga. Kalau tiba tiba dihentikan polisi dan harus bayar 'cepek' kan lama lama bisa bangkrut juga. Saya perhatikan banyak juga polisi yang terima 'cepek' saat mengatur angkot dan bus umum.


Bus India Merk Eicher
Sama Saja Dengan Karoseri Bengkel Las

Ruwet, Sepeda Motor Dan Bus Berjubel
Setiap Hari Di Jalanan Kathmandu

Bus Merk Tata Dari India
Jauh Bedanya Dengan Buatan Karoseri Di Indonesia

Tidak Ada Lampu Pengatur Lalu Lintas Di
Kota Kathmandu

Polisi Kathmandu Pening Mengatur Lalu Lintas
Karena Tidak Ada Traffic Light Dan Pembatas Jalan

Polisi Di Kathmandu Nunggu Kendaraan
Melakukan Pelanggaran

Berhenti, Artinya Harus Kasih Duit Ke Polisi
Baca Juga :
Blogger Tricks

Kamis, 04 Juli 2019

Keliling Kathmandu Naik Angkot

Angkot Kathmandu Warnanya Biru
Sama Persis Dengan Angkot Di Kampung Melayu Jakarta

Wajah orang Nepal itu nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Warna kulitnya sawo matang, raut wajahnya dan tinggi badannya sama persis dengan orang Indonesia. Konon katanya Orang Indonesia itu berasal dari ras yang sama dengan orang Nepal yaitu Mongoloid. Pasport orang Nepal juga sama dengan orang Indonesia yaitu berwarna Hijau. Lalu kelakuannya bagaimana ? Apakah sama juga dengan orang Indonesia ? Betul sekali, kelakuannya benar benar sama dengan orang Indonesia. Terlihat jelas saat di jalan raya.

Kelakuan Sopir Angkot Kathmandu Sama Saja
Putar Balik Sembarangan

Akan saya tuliskan secara berseri dalam blog ini semua kemiripannya dengan orang Indonesia. Kita mulai dengan kelakuan dan tingkah polah Sopir Angkot Kathmandu saja dulu. Angkutan Kota (Angkot) kota Kathmandu warnanya biru muda seperti yang sering kita jumpai mondar mandir di Jakarta. Kalau saya perhatikan, angkot Nepal kelakuannya amburadul juga. Suka seenaknya berhenti sembarangan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.

Polisi Sibuk Menertibkan Angkot Yang
Berhenti Sembarangan Dan Ngetem Cari Penumpang

Putar Balik sesukanya. Ngetem cari penumpang juga seenaknya dan tidak peduli angkotnya mengganggu pemakai jalan lain. Seringkali kejar kejaran berebut penumpang. Kalau penumpangnya terlalu sedikit dengan gampangnya dioper ke angkot lain. Untuk berhenti, caranya juga sama persis dengan di Jakarta yaitu cukup dengan cara mengetuk atap angkot tiga kali. Tok tok tok, angkot langsung menepi. Bayar ongkosnya sama persis dengan di Indonesia, cukup sodorkan uang ke pak sopir dari belakang saat kita mau turun.

Meskipun Jalan Padat Sepeda Motor
Angkot Berhenti Seenaknya Ditengah Jalan

Karena sopir dan penumpang angkot sama persis wajah dan postur tubuhnya dengan orang Indonesia, maka saya mencoba menghentikan angkot dengan cara berteriak 'KIRI, KIRI.....KIRI!!!'. Ternyata teriakan saya membuat semua penumpang terkejut dan melongo heran. Mereka sepertinya dari tadi tidak menyadari bahwa ada penumpang orang asing dari Indonesia di angkotnya. 

Angkot Ini Bikin Macet Karena Berhenti Ditengah
Jalan Untuk Menaikkan Penumpang

Tapi mereka rupanya tahu maksud saya teriak 'KIRI, KIRI.....KIRI'. Langsung atap angkot diketok tiga kali, tok, tok.....tok dan angkot berhenti ditengah jalan.  
'Minggir sedikit kenapa sih pak sopir ? '
Pak sopirnya diam saja, ternyata pak sopir nggak bisa Bahasa Indonesia sama sekali.

Kalau Bayar Cukup Disodorkan Ke
Pak Sopir Dari Belakang

Kiri, Kiri, Kiri
Pak Sopir Nggak Ngerti Artinya

Tok Tok Tok Atap Angkot Diketok
Ternyata Kodenya Sama Dengan Angkot Jakarta
Baca Juga :

Jumat, 28 Juni 2019

Pengalaman 'Above' The Summit Of Mt. Everest

Ini Pemandangan Dari Atas Puncak Tertinggi
Dunia Di Himalaya

Saya sudah menceritakan pengalaman saya saat mendaki gunung Annapurna 1, gunung tertinggi nomor 10 di dunia. Baca selengkapnya link ini : Mendaki Gunung Jaman Now Di Everest Dan Himalaya. Kali ini saya ajak anda untuk mengikuti pengalaman saya yang lain saat melakukan 'Hattrick' 'diatas' lebih dari 10 puncak gunung tertinggi dunia dalam waktu tidak lebih dari 1.5 jam. Semua bisa saya lakukan dengan mudah dan cepat.

Ini Antrian Menuju Puncak Tertinggi Dunia
Sudah Dibuatkan Jalan Setapak Dan Tangga Naik Keatas
Ransel Cuma Buat Gaya Isinya Kertas Koran Dan Tas Kresek
Tour Guide Mengatur Pose Photo Agar Terlihat Heroik Satu Persatu

Sepi tanpa gembar gembor pemberitaan media, emak emak gendut dari Indonesia berhasil mencapai ketinggian yang cukup jauh 'diatasMt Everest (no 1: 8848 m),  Kangchenjunga (no 3: 8586 m), Lhotse (no 4: 8516 m), Makalu (no 5: 8485 m), Cho Oyu (no 6: 8188 m), Dhaulagiri 1 (no 7: 8167 m), Manaslu (no 8: 8163 m), Nanga Parbat (no 9: 8126 m), Annapurna 1 (no 10: 8091 m) dan masih banyak lagi hanya dalam waktu 1.5 jam.

Ini Juga Antrian Menuju Puncak Tertinggi Dunia Yang
Didramatisir Media Di Indonesia Kompas Padahal
Ada Jalan Setapak Yang Cukup Aman
Pakaian Cukup Jaket Tipis Saja Dan Ransel Isi Kertas Koran

Berawal saat saya jalan jalan sore, saya tertarik untuk mampir ke salah satu Tour And Travel Agent di Kathmandu dekat hotel tempat saya menginap. Banyak sekali brosur dan promosi pariwisata dengan slogan slogan yang menarik. Contohnya Experience Everest. Ada juga yang cukup menggelitik misalnya dengan embel embel Above The Peak, Above The Height dan Above The Summit yang artinya sama saja yaitu Diatas Puncak Tertinggi.

Nah Ini Turis Yang Berbondong Bondong Mendaki Naik
Keatas Gunung. Semua Gembira Ceria Bersama Pemandu
Lewat Jalan Setapak Yang Dibuat Khusus Untuk Turis
Sangat Aman Asal Mengikuti Arahan Tour Guide

Ternyata slogan slogan iklan tersebut adalah promosi Mountain Flight, yaitu terbang 'diatas' puncak tertinggi dunia. Banyak sekali pesawat domestic yang punya jadwal rutin setiap hari melayani turis pemalas tidak mau mendaki tapi pingin merasakan berada dipuncak tertinggi dunia. Sebut saja misalnya Boudha Airlines, Yeti Airlines, Shree Airlines dan lain lain.

Semua Pendaki Mountain Flight Diberi Kesempatan
Melihat Pemandangan Dari Cockpit

Saya pilih Shree Airlines karena harga tiketnya agak miring dibanding yang lain. Ternyata, semakin kecil pesawat harga tiket semakin mahal karena pesawat lebih lincah bisa meliuk liuk di lembah diantara gunung dan bisa terbang lebih rendah. Shree Airline yang saya pilih pesawatnya cukup besar dengan tempat duduk dua disebelah kiri dan dua disebelah kanan. Tetapi penumpangnya hanya separuh karena tempat duduk yang dijual hanya yang disebelah jendela (Window Seat) saja. Aisle Seat dibiarkan kosong karena nggak bisa melihat pemandangan diluar dari jendela.

Semua Penumpang Duduk Dekat Jendela
Aisle Seat Dibiarkan Kosong

Berbeda dengan naik pesawat pada umumnya, naik Mountain Flight ini aturannya tidak begitu ketat. Selain bisa menikmati pemandangan diatas gunung dari jendela, 'pendaki' yang menggunakan Mountain Flight ini juga diberi kesempatan untuk melihat pemandangan dari cockpit pesawat. Cuma waktunya diatur dan dibatasi supaya semua penumpang punya kesempatan yang sama bisa masuk ke cockpit satu persatu untuk melihat pemandangan atau sekedar bertanya dan photo photoan dengan pilot/co pilot.

Penumpang Bebas Mondar Mandir Sesukanya

Sebagai bukti bahwa kita sudah berhasil berada 'diatas' puncak tertinggi dunia maka masing masing penumpang mendapat Certificate Of Completion dengan tanda tangan Pilot dan Co Pilot. Tulisan dalam sertifikat bisa milih 'Above The Summit Of Everest', 'Above The Height Of 10 Highest Mountain In The Earth', 'Above The Peak Of The Deadly Mountain', 'Experience Everest' dan lain lain. Rasanya puas sekali kita dapat pengakuan berupa sertifikat pernah berada 1000 meter diatas puncaknya Everest dan puluhan gunung tertinggi lainnya dalam waktu 1.5 Jam saja.

Suasana 'Pendaki' Pemalas Tidak Mau Susah
Tapi Pingin Melihat Puncak Gunung Tertinggi Dunia

Sertifikat Bukti Authentic Pernah
1000 Meter Diatas Puncak Everest

Emak Emak Indonesia Pernah 'Diatas' Puncak Everest
Tanpa Gembar Gembor Pemberitaan Di Tanah Air

Sertifikat 'Above The Height', 'Above The Peak' Dan
'Above The Summit'. Memang Kita Berhasil Berada
Jauh Tinggi Diatas Puncak Tertinggi Dunia Everest

Ini Contoh Sertifikat Yang Ditanda Tangani Pilot
Namanya Kosong Silahkan Isi Sendiri
Baca Juga :

Minggu, 23 Juni 2019

Nonton Prosesi Bakar Jenasah Di Nepal

Jenasah Ditandu Setelah Disholatkan
Didalam Temple

Saya diajak melayat orang meninggal, tetangga didekat hotel tempat saya menginap di Kathmandu yang sebenarnya tidak saya kenal sama sekali. Sebenarnya iseng saja meng'iya'kan karena pingin tahu seperti apa prosesi/upacara di rumah duka. Tapi, berada diantara keluarga dan pelayat yang sedang berduka membuat saya terus mengikuti rombongan sampai seluruh prosesi pemakaman selesai. Saya terjebak oleh ulah sendiri, tidak bisa pamit untuk meninggalkan prosesi pemakaman begitu saja.

Pasuphatinath Temple Sangat Besar Dan Luas
Untuk Ibadah Dan Untuk Kremasi Jenasah

Langkah saya terhenti ketika jenasah mulai diturunkan disebuah bangunan tempat ibadah, lokasinya tidak begitu jauh dari hotel tempat saya menginap. Nama tempat ini baru saya ketahui belakangan setelah saya kembali ke hotel, yaitu Pasuphatinath Temple dan sungai yang mengalir dibelakangnya adalah sungai suci umat Hindu di Nepal namanya Bagmati River.

Hanya Keluarga Yang Memandikan Jenasah

Rasanya Plong ditempat ini, saya bisa mengeluarkan camera dan mulai jeprat jepret dari seberang sungai Bagmati. Sepertinya hanya keluarga dan saudara dekat saja yang boleh mengikuti prosesi didalam temple, memandikan jenasah dan mulai prosesi kremasi. Jenasah nampak ditandu oleh beberapa orang dan diletakkan dipapan dengan posisi kaki hampir menyentuh permukaan air sungai. Mungkin sebelumnya disholatkan terlebih dahulu didalam temple.

Jenasah akan Diletakkan Di Papan Untuk
Dimandikan

Setelah itu jenasah nampak mulai disucikan / dimandikan dengan air sungai yang menurut saya airnya terlihat dekil, coklat dan banyak sampah disepanjang sungai. Acara memandikan selesai selanjutnya jenasah ditandu kembali untuk dibawa ke tempat pembakaran jenasah. Ada sekitar 10 tempat pembakaran jenasah terbuka berupa bangunan beton berukuran sekitar 3 x 4 meter yang berdiri ditepi sungai.

Jenasah Siap Dimandikan

Jenasah diletakkan diatas tumpukan kayu yang dihiasi oleh bunga bunga berwarna orange. Entah berapa jam jenasah bisa terbakar seluruhnya dan berubah menjadi abu. Yang jelas saat pembakaran jenasah seluruh keluarga menyaksikan dari jarak sekitar 10 meter dan disediakan tempat duduk khusus untuk keluarga yang sedang berduka,

Sungai Suci Tetapi Sampah Sampai Abu Jenasah
Semua Dibuang Di Sungai

Selesai prosesi pembakaran jenasah, terlihat abu jenasah ditaburkan ke sungai oleh seluruh keluarga yang ditinggalkan. Setelah itu terlihat masing masing anggota keluarga membasuh tangannya dengan air suci sungai Bagmati dan mencuci muka. Saya tidak tahu sama sekali maksud dari ritual ini. Yang jelas baru pertama kali ini saya menyaksikan upacara pembakaran jenasah secara terbuka dan terlihat jelas jenasah yang sedang terbakar. Jangan tanya aromanya, sampai hari inipun saya masih kesulitan untuk melupakan.

Ada 10 Atau Lebih Tempat Pembakaran Jenasah


Tempat Pembakaran Jenasah Berupa
Beton Dipinggir Sungai

Keluarga Duduk Dibelakang Saat Pembakaran Jenasah


Air Sungai Bagmati Berwarna Coklat
Tidak Mengalir Dan Kotor

Tempat Jenasah Diletakkan Saat Pembakaran
Kayunya Tidak Banyak

Jenasah Datang Dan Siap
Diletakkan Diatas Kayu Pembakaran

Mobil Jenasah
Proses Pembakaran Jenasah
Open Air

Pedagang Jual Bunga

Baca Juga :