Tampilkan postingan dengan label Liburan-Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liburan-Belanda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2020

Jelajah Desa Dari Epen Ke Cadier En Keer Via Honthem Belanda

GPS Dan Google Map Perjalanan
Dari Epen Ke Cadier En Keer

Anda tentu sudah tahu bahwa Belanda itu terkenal dengan Keju dan berbagai macam hasil olahan Susu. Artinya,  pasti banyak sekali Sapi di Belanda. Tapi anehnya, umumnya orang Indonesia menganggap Belanda itu 'Negara Industri', 'Negara Maju', 'Negara Kaya' dan semacamnya. Saya tidak melihat hal seperti itu.

Belanda Itu Negara Sangat Kecil
Jalan Setapak Seperti Ini Dipetakan
 
Kenapa saya tidak bisa melihat Belanda sebagai 'Negara Industri', 'Negara Maju' atau 'Negara Kaya' ?. Jawabnya karena saya sering keluar masuk pedesaan yang jauh lebih luas dibanding perkotaan. Orang Belanda itu banyak yang mengandalkan asap dapurnya dari sapi. Kemana mana naik sepeda. Jalan agak jauh sedikit naik kereta api lalu lanjut jalan kaki lagi. 

Orang Belanda Kurang Kerjaan
Jalan Setapak Buat Kambing Dan Sapi 
Dipetakan Di Google Maps

Beda dengan orang Indonesia, jauh dekat naik sepeda motor. Saya ulang sekali lagi, 'Sepeda motor bro, bukan sepeda !'. Ke warung tetangga tidak sampai 100 meter saja ngeluarin sepeda motor, bukan jalan kaki seperti orang Belanda. Ke Medan atau Jayapura sudah tentu naik Pesawat.  Belanda... alamaak, saking kecilnya negara ini, akan terasa aneh jadinya kalau antar kota dalam negeri harus naik pesawat.

Jalan Tanah Cuma Satu Meter Gini
Kok Dipetakan Di Google Maps

Tapi saya akui orang Belanda kreatifnya luar biasa. Jalan setapak yang sebenarnya hanya bisa dilalui sepeda, kambing, kerbau dan sapi dipetakan dengan sangat bagus. Kalau saya lihat Google Maps atau GPS, seolah olah semua wilayah dan kota di Belanda sudah terhubung jalan raya yang bagus. Bayangan saya sekelas Highway atau jalan Tol. Lha wong di gambar peta, ukuran lebar jalannya sama saja dengan gambar lebar jalan tol di Jawa. Kenyataannya ternyata cuma jalan setapak dengan lebar sekitar 1.5 - 2 meter doang.

Sepertinya  Kebun Bayam
Ini Belanda Guys

Karena terlalu percaya dengan gambar lebar jalan di peta GPS dan Google Maps inilah saya kesasar, lalu sengaja menyasarkan diri kemana mana dan bisa jelajah pedesaan di Belanda. Perjalanan saya mulai dari desa Epen, Slenaken, Norbeek, Mheer, Sint Geertruid, Eckelrade, Honthem dan terakhir di Cadier En Keer. Desa desa ini berada di wilayah Limburg. Rata rata lebar jalan hanya cukup dilalui satu mobil. Nggak usah takut atau khawatir berpapasan dengan mobil lain, kecil sekali kemungkinannya. Orang Belanda semuanya naik sepeda dan jalan kaki.

Jalan Sempit - Pematang Sawah Gini
Kok Dimasukin Google Maps

Sebenarnya tidak terlalu tepat kalau saya mengatakan Epen, Slenaken, Norbeek, Mheer, Sint Geertruid, Eckelrade, Honthem adalah sebuah desa. Yang bisa disebut desa itu adalah Cadier En Keer karena ukurannya cukup besar dan lumayan banyak rumah penduduk. Yang lainnya terlalu kecil, paling isinya cuma 5 - 10 rumah penduduk saja. Jadi lebih cocok kalau saya sebut sebagai Dusun atau Dukuh saja.

Banyak Kebun Jagung
Pantas Eropa Protes Sawit Indonesia
Lha Wong Andalannya Corn Oil

Nggak ada bedanya sama sekali dengan suasana pedesaan di Indonesia. Orang desa sangat ramah, lugu dan baik. Yang ditanam di ladang juga relatif sama dengan di pedesaan di Indonesia.  Sayur sayuran, biji bijian,  buah buahan dan ada juga hutan kayu meskipun tidak terlalu luas. Yang jelas orang Belanda bercocok tanam juga, bukan berdasi, bikin pesawat, atau terbang ke bulan.

Nengok Kebun Naik Sepeda

Lihat sendiri photo photo perjalanan saya dari dukuh dan dusun Epen, Slenaken, Norbeek, Mheer, Sint Geertruid, Eckelrade, Honthem sampai ke desa Cadier En Keer di wilayah Limburg Belanda ini. Benar atau tidak bule Eropa selalu berdasi, memakai jas seperti yang sering anda saksikan di gedung bioskop dan TV Entertainment di tanah air ?. Menurut saya, gambaran orang Indonesia tentang Bule Belanda dan juga Eropa terlalu mengada ada dan berlebihan.

Rumah Warga Desa

Gudang Penyimpanan Hasil Bumi
Di Dusun Eckelrade

Kebun Jeruk

Masuk ke Dukuh Honthem

Hutan Honthem  Ini Kalau Di Ulasan Internet
Hebohnya Bukan Main Padahal Cuma
Sekitar 20 Pohon Doang

Ternyata Ada Yang Menanam Padi Juga

Pengairan Sawah Lewat Jalan
Atau Ada Pipa Air Bocor ?

Air Dialirkan Lewat Jalan
Murah Meriah

Kebun Jagung
Ada Pabrik Corn Oil Disekitar Sini


Jumat, 28 Agustus 2020

Nonton Bule Ngarit Dan Meres Susu Sapi

 

Bule Meres Susu Sapi Di Switzerland
Caranya Sama, Jongkok Dan Ditampung Di Ember Seng Dulu

Bumi kalau dilihat dari Bulan memang terlihat indah dan menarik. Demikian juga dengan Switzerland, Austria  dan negara negara lain disekitarnya juga terlihat begitu indah kalau dilihat dari kejauhan terutama latar belakang pegunungan Alpine yang membentang dengan warna biru,  putih salju di puncaknya dan hijau rerumputan disekitarnya.

Keseharian Peternak Eropa Sama Saja Dengan Peternak Indonesia
Memandikan Sapi, Meres Susu Sapi Dan Mengumpulkan Tahi Sapi
Untuk Diolah Jadi Pupuk Di Composting Facility

Turis turis Indonesia yang pernah ke Switzerland, Austria, Perancis dll itu memang berkata benar seperti seorang Astronout yang melihat Bumi dari Bulan. 'Nggedabus' di medsos katanya 'beautiful'. Tapi saya bukan Astronout, saya cuma seorang 'Dora The Explorer' yang senang blusukan kemana mana dengan mobil sewaan dan hanya mengandalkan GPS. Apa yang saya lihat di pedesaan Eropa ternyata nggak jauh berbeda dengan umumnya pedesaan di Indonesia.

Bule Sedang Ngarit Cari Rumput, Katanya Anak Sapi
Masih Perlu Dicarikan Rumput

Kalau di Indonesia, saat matahari mulai terbit para petani dan peternak sudah berbondong bondong ke sawah, kebun dan menuju kandang sapi dan kambingnya. Bule Eropa agak malas sedikit, mereka tidak serajin petani / peternak Indonesia. Matahari sudah hampir tegak diatas kepala, mereka baru keluar rumah dan mulai melakukan aktifitas pertanian dan peternakannya. Hal ini karena pagi hari masih terlalu dingin untuk meninggalkan selimut dan memulai kerja di ladang.

Arit Buat Cari Rumput Besarnya Bukan Main
Semua Pakai Sepatu Meskipun Ngarit
Dingin Kalau Nyeker

Yang berbeda lagi, keluar dari rumah menuju ke kebun, sawah atau kandang, petani bule eropa nggak ada yang 'nyeker' sama sekali, semua ke ladang memakai sepatu. Hal ini karena dingin dan tidak ada sawah dan kebun yang becek berair seperti di Indonesia. Tanaman yang ditanam sangat berbeda dan tidak butuh air banyak misalnya jagung, gandum, sorghum, wortel dll. Bayangkan, betapa kerennya petani dan peternak Eropa, berangkat ke kandang, kebun atau mencari rumput saja selain bawa arit dan kereta sorong juga memakai kaca mata hitam 'Rayban'. Mata bule memang tidak tahan silau sinar matahari.

Ngumpulin Rumput Juga Pakai Gancu
Kacamata Hitam Tidak Ketinggalan

Apapun tanamannya dan apapun ternak yang dipelihara, petani / peternak eropa kalau ngarit cari rumput, mengumpulkan sampah, nyerok tahi sapi pakai sekop dan semacamnya ternyata sama saja dengan orang Indonesia.  Paling hanya beda merek peralatan pertanian saja misal di Indonesia masih memakai Sekop dan Kereta Sorong Cap Kingkong Super sedangkan yang di eropa merknya Hoofman Premium.

Cara Eropa Membuat Sensasi Pemberitaan Untuk Pariwisata 
Lokasi Klausen Pass Switzerland

Perhatikan video yang ada di Youtube. Orang Eropa kalau membuat video pertanian / peternakannya, yang ditampilkan adalah cara ngangkut jerami atau sapi menggunakan helicopter, memeras susu sapi pakai mesin canggih, traktor dan mesin pertanian yang masih baru, mengusir hama burung pakai drone dan penelitian di laboratorium modern.  'Nggedabus', nggak ada yang secanggih itu di kenyataan sehari hari.

Nyari Rumput Buat Ternak - Keren Dengan Kacamata Hitam
Bule Eropa Memang Tidak Tahan Sinar Matahari langsung

Kenyataannya tidak secanggih yang ada di video youtube tersebut.  Memeras susu sapi sama saja caranya dengan orang Indonesia, yaitu dikenyot kenyot pakai tangan dan ditampung di ember seng. Motong rumput juga pakai arit meskipun bentuknya berbeda dengan arit Indonesia. Ngumpulin jerami dan sampah juga pakai kereta sorong dan gancu yang sama saja bentuknya dengan di Indonesia. Traktor dan mesin pertanian nggak terlihat satupun ada yang kinyis kinyis baru keluar dari showroom.

Sapi Switzerland Yang Terlihat Sangat Hijau Dan Indah Dari Kejauhan
Kalau Dari Dekat Baru Terlihat Banyak Tahi Sapi

Rerumputan yang terlihat menghampar hijau dengan latar belakang pegunungan Alpine yang bersalju dipuncaknya kalau didekati dan diinjak rumputnya ternyata banyak tahi sapinya juga. Jadi, Turis Indonesia yang rame di medsos itu sebenarnya sama saja dengan Astronot yang melihat Bumi dari Bulan.  Susah payah ke Eropa, tapi ceritanya 'nggedabus' hanya melihat dari kejauhan tanpa pernah sekalipun menginjakkan kaki di rerumputan yang katanya 'Beautiful' tersebut.

Jerami Dan Sampah Daun Dan Ranting Digulung Dengan Mesin
Untuk Dibawa Ke Composting Facility Dijadikan Pupuk Kompos

Lain kali, kalau anda jalan jalan ke Eropa cobalah melihat lebih dekat dan berinteraksi dengan penduduk desa. Anda akan tahu sendiri bagaimana susah payahnya petani / peternak bule mengumpulkan jerami, rumput, sampah pepohonan dan mengumpulkan tahi sapi untuk dioplos dan diolah jadi pupuk kompos lalu dieksport ke Timur Tengah dan negara lain.

Kegiatan Pertanian Ngumpulin Jerami Dan Sampah Pepohonan
Dioplos Dengan Tahi Sapi Lalu Diexport Ke Kuwait Dan Timteng

Dan jangan terkejut juga kalau anda melihat Pupuk Kompos buatan Swiss, Germany, Austria, Netherland ada di Indonesia. Saya melihatnya sendiri sudah ada di Al Rai Kuwait. Semua Pupuk Kompos,dan Pupuk Kandang didatangkan langsung dari negara negara Eropa. Ini semua bisa terjadi karena bule eropa rajin ngarit, mengumpulkan jerami, sampah pepohonan dan tahi sapi untuk dioplos dan dijadikan produk ekspor berupa pupuk kompos agar negaranya terlihat bersih dan indah.

Bule Lagi Ngosek Kandang Sapinya
Caranya Sama Saja Dimana Mana


Jerami, Sampah Ranting Dan Daun Diletakkan Dipinggir Jalan
Untuk Dibawa Ke Composting Facility

Semua Pedesaan Di Eropa Pemandangannya Hampir Sama
Yaitu Gulungan Jerami Nunggu Angkutan Ke Composting Facility

Turis Indonesia Itu Ngertinya Cuma Bersih
Tidak Tahu Susah Payahnya Bagaimana Membuat Bersih
Nggak Ada Yang Tahu Peternak Ngumpulin Tahi Pakai Sekop
Petani Nggaruk Garuk Jerami Dan Sampah Pakai Gancu


Pupuk Kompos Dari Jerman
Di Indonesia Umumnya  Jerami Dan Sampah Pohon Dibakar
Tahi Sapi Juga Disiram Air Ke Selokan Doang

Latvia Juga Ekspor Tahi Sapi Dan Pupuk Kompos
Ke Timur Tengah

Belanja Pupuk Di Al Rai Kuwait
Ada Yang Dari Jerman, Netherland, France, Latvia,  Austria Dll.
Orang Indonesia Terlalu Gengsi Untuk Ekspor Tahi Sapi Dan Sampah


Baca Juga :

Jumat, 14 Agustus 2020

Tunggangan Bule Di Pedesaan

Saya Kira Bule Eropa Tunggangannya BMW
Ternyata Naik Gerobak Juga
Lokasi : Perbatasan Belgia - Netherland

Orang kalau diberi kesempatan jalan jalan ke Eropa tapi nggak pernah blusukan sampai ke pedesaan, pasti kesan yang dibawa pulang ke tanah air berupa cerita cerita hebat tentang gedung, monumen, istana, museum atau apapun yang dilihat di kota besar. Padahal, semua negara dimanapun juga pasti mempunyai luas wilayah pedesaan yang jauh lebih besar dibanding perkotaan, termasuk negara negara di Eropa.

Pedesaan Menuju Sleza Mountain Poland
Tak Kira Mercedez Benz Atau Audi

Coba luangkan waktu sebentar saja untuk keluar masuk ke pedesaan. Anda akan terkejut ternyata suasana pedesaan di semua negara Eropa sama saja dengan di Indonesia. Bedanya, suasana pedesaan di Indonesia jauh lebih 'Ramah Lingkungan'. Misal membajak sawah masih menggunakan kerbau, mengeringkan padi masih dengan cara dijemur, pengairan irigasi cukup dengan cara mengalirkan air dari sungai dan tadah hujan. Nyaris nggak ada di Eropa bertani dengan cara yang sangat 'ramah lingkungan' seperti di Indonesia. 

Anda Pernah Blusukan Sampai Ndeso Kluthuk
Seperti Ini Di Eropa ?
'BMW' Tunggangan Bule Eropa Ternyata Unik Dan Antik

Bertani di negara negara Eropa yang pernah saya kunjungi, semuanya dibikin ribet sendiri dengan peraturan dan susah saya temukan peralatan bertani 'Ramah Lingkungan' seperti kerbau untuk mengolah tanah, gerobak sapi untuk mengangkut hasil bumi dsb.  Semua peralatan bertaninya serba bermesin, berasap dan bersuara cukup keras grok grok grok suara mesin tua.

Jalan Desa Nggunung Di Sleza, Poland


Sungai dan hujan di Eropa tidak sebanyak di Indonesia sehingga untuk merawat satu petak sawah atau kebun saja susahnya bukan main. Saya pening sendiri dan lebih baik tutup telinga mendengar istilah istilah yang sering saya dengar, misalnya : Groundwater Tax (GWT), Pesticide Tax, Water Supply Tax, Provincial Groundwater Fees, Pumping Tax, Environmental Tax dll.

Ndeso Dekat Insbruck Austria
Kebun Jagungnya Subur Subur Juga

Cari sendiri di mbah google istilah istilah diatas diterapkan  di negara mana saja di Eropa. Saya tidak tertarik mengulas disini karena saya tidak akan setuju kalau petani di Indonesia dibebani berbagai macam peraturan dan pajak seperti di negara negara Eropa,

Dari Jauh Saya Kira Mini Cooper Atau Morris Minor
Ternyata Gerobak Sorong Cap Kingkong Super
Lokasi Pedesaan Dekat Insbruck Austria

Saya lebih tertarik memperhatikan 'Tunggangan' petani bule di Eropa saja.  Ternyata, kebanyakan tunggangan petani bule di Eropa adalah traktor. Saya kira bule Eropa itu tunggangannya Lamborghini, Ferrari, Alfa Romeo, Mercedez Benz atau BMW. Ternyata tidak ada yang naik mobil mobil tersebut. Saya perhatikan, petani bule Eropa ternyata cenderung sama saja 'kere'nya dengan petani di Indonesia. Barangkali karena terlalu banyak dibebani pajak.

Bule Ndeso Di Insbruck, Austria
Saya Kira Alfa Romeo Ternyata Odong Odong

Silahkan melihat sendiri photo photo di blog ini dan silahkan menilai sendiri benar atau tidak apa yang saya katakan. Seandainya anda sedang berada di negara manapun di Eropa, luangkan sedikit waktu anda untuk blusukan ke pedesaan. Saya yakin, anda akan rindu dengan kampung halaman di Indonesia. Nyaris sama saja dengan di Indonesia, ada sawah, kebun, hutan, bule ngarit, angon sapi, nggiring kambing dan lain sebagainya.

'Lamborghini' Bule Swiss
Di Pedesaan Antara Oberalp Pass - Tujetsch

Ingat, jangan menanyakan hal ini ke mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di salah satu negara di Eropa atau turis Indonesia yang lagi seneng senengnya upload photo wisatanya ke medsos. Mereka nggak tahu dan nggak ada yang pernah jelajah sampai ke pedesaan. Cerita mereka cenderung 'nggedabus' dan hanya bercerita tentang gemerlapnya Kota Besar. Desa mah sama aja, gelap hanya dengan lampu ala kadarnya kalau malam. Udaranya bersih dengan bau semilir aroma khas dari kandang kandang  sapi.

Oberalp Pass Switzerland

Lamborghini Orange Bule Perancis Di Sekitar Orb Valley

Ndeso Sutrio antara Friuli - Venezia Giulia Italia
Mini Cooper Atau Moris Minor, Ternyata Odong Odong

Naik Odong Odong Di Pusat Pertanian Sleza, Poland


Warnanya Doang Yang Merah Ferrari
Lokasi Sognefjord - Skjolden, Norway



Flanders - Belgia. Dari Jauh Terlihat Warnanya Merah
Keren Amat Satu Desa Punya Ferrari
Eh Ternyata Traktor Doang

Jumat, 31 Juli 2020

Nonton Bule Angon Kambing Dan Sapi


Angon Kambing Di Arnhem, Belanda
Dipagari Sore Digiring Ke Kandang

Mumpung sedang Idul Adha, mari saya ajak anda jalan jalan melihat cara bule Eropa Angon Kambing dan Sapi. Jangan sampai anda berpikiran bahwa bule Eropa itu nggak ada yang angon kambing dan sapi. Salah besar kalau anda memiliki pemikiran seperti itu. Di negara manapun termasuk di negara negara Eropa,  total luas desa dan perkotaan itu paling sekitar 30 % dari total luas negara. Sisanya yang 70 %  isinya kebun, sawah, hutan dn tanah kosong. Banyak yang dipakai buat angon kambing dan sapi.

Diberi Tali Keliling
Lokasi Andematt - Uri, Switzerland

Umumnya orang Indonesia mendapat informasi tentang Eropa kurang lengkap dari teman / tetangga yang ke Eropa hanya ke kota besar dan obyek wisata beberapa hari saja. Atau dari TV Entertainment dan majalah Pariwisata yang isinya serba wah, hebat dan luar biasa. Karena hal inilah maka kebanyakan orang Indonesia di tanah air tidak tahu bahwa Bule Eropa juga banyak yang angon sapi / kambing, membersihkan kandang, ngosek tahi sapi / kambing, memandikan sapi / kambing dsb.

Sapi Eropa Nggak Berani Menerobos Tali Kecil
Lokasi Andematt - Uri, Switzerland

Sebenarnya semua orang di tanah air tahu bahwa Bule Eropa itu makanannya serba keju dimana bahan mentahnya berasal dari susu.  Hampir semua negara, misalnya Belanda sangat terkenal dengan produk produk keju seperti Edam, Beemster, Brie, Gouda, Bouremkaas, Graskaas, Limburger Cheese dll. Susu kaleng terkenal Frisian Flag dan Dutch Lady juga dari negara ini. Tapi karena terlalu banyak nonton TV Entertainment, ngertinya cuma berita Bule jadi rebutan artis doang. Banyak saudara kita di tanah air yang tidak tahu kalau yang jadi rebutan artis tersebut sebenarnya ada juga yang kesehariannya angon kambing dan sapi. Kebanyakan menganggap semua Bule itu Businessman, Aktor Film dan punya jabatan jabatan Executive yang sangat mentereng dan kaya raya.

Pagarnya Kuat
Lokasi Arnhem, Belanda

Cara angon kambing dan sapi ala bule Eropa tidak ditungguin seperti di Indonesia. Pagi hari sapi digiring keluar dari kandang ke lapangan rumput.  Lapangan rumput ini bukan milik peternak, tapi tanah kosong negara jadi bebas dipakai oleh warga untuk angon kambing dan sapi. Supaya kambing dan sapi tidak berkeliaran jauh, peternak membuatkan pagar dari tali yang diikatkan ke tiang pancang kayu atau besi setinggi 1.5 meter. Kalau pagi sering saya mendengar  suara tak tok tak tok, ternyata ada bule sedang menancapkan tiang pancang untuk pagar tali keliling.

Kambing Belanda Ngganteng
Dibawa Ke Indonesia Masuk TV Entertainment

Lapangan rumput ada juga yang ada pagarnya permanent. Jangan mengira bahwa area lapangan rumput tersebut milik peternak. Belum tentu, karena pemerintah setempat banyak juga yang membuatkan pagar permanent agar sapi tidak lari ke jalan raya atau masuk kota. Contohnya di kota Arnhem Belanda seperti gambar diatas. Lokasi lapangan rumput di kota Arnhem ini berseberangan dengan pemukiman penduduk, kampus dan fasilitas umum lain. Jadi wajar kalau pemerintah daerah yang membuatkan pagar.

Peternak Bule Sedang Ngangkut Susu Sapi
Lokasi : Bedoin - France

Saya perhatikan cara bule angon kambing dan sapi ini cukup menarik. Ternyata dalam sehari ada beberapa kali shift. Shift pertama sapi / kambing digiring ke lapangan rumput sekitar jam 10 pagi. Katanya setelah susu diperah, si kambing dan sapi diberi kebebasan untuk keluar kandang beberapa jam buat makan enak cari rumput sendiri di alam bebas. Sekitar jam 2 siang kambing / sapi yang termasuk dalam rombongan Shift 2 digiring ke lapangan sampai sekitar jam 5 sore.

Ini Kambing Di Norway

Karena dibagi menjadi 2 shift, maka ada waktu dan kesempatan buat si peternak bule untuk membersihkan kandang, ngosek tahi sapi atau tahi kambing di kandang, ngumpulkan tahi sapi dan tahi kambing buat dijadikan pupuk kandang, menyiapkan makanan dan air minum, vaksinasi dan berbagai macam aktifitas di kandang sapi dan kambing seperti halnya di Indonesia.

Sapi Switzerland
Lokasi Andematt - Uri, Switzerland

Jangan percaya kalau ada berita berita yang isinya terlalu melambung tinggi tentang persapian dan perkambingan di Eropa. Semuanya hampir sama saja dengan di Indonesia. Nggak ada satupun peternakan yang bisa membersihkan tahi sapi dan kambing pakai robot, menggiring sapi pakai artificial inteligent dan cerita cerita 'mbelgedes' tentang tehnologi peternakan Eropa. Semuanya dilakukan manual dengan tangan oleh bule bule Eropa. Kalaupun ada tehnologi yang dipakai, saya bisa pastikan relatif sama saja dengan yang dipakai peternak di Indonesia.

Kambing Wool

Lapangan Rumput Di Arnhem Belanda Ini Berseberangan
Dengan Perumahan Warga

Sarana Umum Untuk Angon Sapi Dan Kambing
Di Arnhem Belanda - Dekat Dengan Kampus

Pagarnya Cuma Tali Ringkih
Tapi Nggak Ada Sapi Yang Berani Menerobos Pagar

Kambingnya Gemuk Ginukk Ginuk
Diambil Bulu Woolnya

Sapi Kota Arnhem Netherland

Ada Yang Angon Kuda Juga

Baca Juga :