Rabu, 08 April 2020

Lake Como Italy Sebelum Corona

Lake Como, Como Province
Region Lombardy

Photo photo di halaman ini saya ambil beberapa tahun lalu jauh sebelum ada pandemic Virus Corona / Covid-19 yang terjadi mulai awal tahun 2020 di Italy.  Jadi, tidak ada hubungannya dengan Lockdown yang sekarang sedang berlangsung diseluruh penjuru Italy. Lokasi tepatnya photo photo ini di sekitar Lake Como, Italy Utara dan masuk dalam wilayah Lombardy, propinsi Como. 

Jalan Di Italy Hampir Semuanya Sempit
Jangan Harap Anda Bisa Melihat Lambotghini Atau Ferrari
Mobil Sport Italy Ini Dipasarkan Di Timur Tengah

Lho, kok sepi sekali ?. Ya jelas sepi sekali. total penduduk Italy itu hanya sekitar 60 Juta, nggak ada apa apanya bila dibanding dengan jumlah penduduk pulau Jawa yang 150 Juta (Source Wikipedia). Wilayah Lombardy ini masih dibagi lagi menjadi 12 propinsi, diantaranya Bergamo, Brescia, Como, Cremona dan lain lain. Jadi sebenarnya Italy itu memang sepi nyaris nggak ada penduduknya.

Losmen Dan Mobil Daerah Lain Banyak Di Lake Como
Kurang Jelas, Istri Siapa Yang Dikamarkan Di Losmen

Propinsi Como yang saya kunjungi ini luasnya hanya 1288 SqKm dengan jumlah penduduk sekitar 600,000 orang saja (Separuh penduduk Klaten). Jadi, bisa kebayang nggak kalau jabatan Gubernur Propinsi di Italy itu yang diurusi sebenarnya sedikit, hanya setara dengan  tanggung jawab seorang Camat kalau di Indonesia. Itulah sebabnya kenapa Italy dan negara Eropa lain pada kalang kabut ngurusi warganya yang terpapar Corona, sedangkan Indonesia bisa lebih tenang dan santai menghadapi Corona karena sudah terbiasa ngurusi warganya yang luar biasa banyak, bandel dan keras kepala.

Mobil Mobil Yang Tidak Bergerak Dari Kemarin
Banyak Orang Dari Milan Yang Ngamar Di Lake Como

Tapi di photo photo yang sering kita lihat sepertinya Italy itu negara besar yang selalu ramai dan padat penduduk. Yah, itu benar di ibukota Roma dan beberapa kota besar. Tapi, mereka itu sebenarnya turis asing. Kota Roma (dan Vatican) memang selalu ramai pendatang dari mancanegara terutama umat Kristiani untuk urusan keagamaan. Sudah nyampai ke Roma, biasanya mereka wisata juga ke berbagai kota yang lain. Kalau anda mau blusukan ke kota lain yang tidak ada turismya, akan terasa sepinya.

Sepi, Di Tempat Peristirahatan Semacam Ini
Orang Kota Masuk Villa Lalu Tidak Keluar Lagi

Kota kota disekitar Lake Como ini kira kira sama dengan Danau Toba atau Puncak yang hanya ramai saat akhir pekan atau ada liburan panjang saja. Hotel hotel disekitar Lake Como ini juga penuh oleh kunjungan warga Italy dari kota kota terdekat karena merupakan tempat peristirahatan yang cukup dikenal oleh warga Italy. Turis asing jarang yang blusukan sampai ke Lake Como, biasanya yang dikunjungi turis asing cuma Venesia, Milan, Pisa dll.

Mobil Mobil 'Orang Kota'
Yang Nginap Di Lake Como

Karena Lake Como merupakan danau dan kota tempat peristirahatan, maka saat saya kelilingi dan photo jam 09:00 pagi, penghuninya masih pada molor tidur semua. Udaranya yang sejuk membuat penghuninya betah tidur didalam villa dan losmen yang cukup banyak disekitar Lake Como ini. Saya tidak tahu, yang menginap di villa dan losmen tersebut suami istri atau bukan karena hampir semuanya berpasang pasangan. Mungkin saja sekretaris di kantor, pacar atau istri/suami orang lain.

Losmen Melati Nggak Punya Tempat Parkir
Barangkali Mereka Pamitnya 'Sedang Tugas Luar Kota'

Sama halnya dengan Puncak, di sekitar Lake Como ini ada juga villa villa yang sangat mewah dengan tempat parkir pribadi, hotel juga ada, losmen dan rumah pribadi yang disewakan juga banyak sekali. Nyaris nggak ada beda sama sekali dengan suasana di tempat peristirahatan orang Jakarta di Puncak.  Didepan villa dan losmen sering saya temukan tulisan besar yang artinya kira kira 'Masih Ada Kamar Kosong'

Hotel Melati Di Lake Como
Entah Sekretaris, Pacar Atau Istri Orang Yang Dibawa
Nginap Di Losmen Losmen Lake Como

Villa Yang Agak Bagus Punya Garasi Dan
Pagarnya Tertutup Pepohonan

Villa Yang Punya Halaman Parkir Privat Juga Ada

Sepi Sekali, Orang Kota Benar Benar
Memanfaatkan Waktu 'Tugas Luar Kota'nya Hanya Dikamar Saja

Masih Ada Kamar Kosong

Banyak Terowongan Di Lake Como

Baca Juga :

Sabtu, 14 Maret 2020

Perjalanan Jauh Birmingham Ke Portsmouth

Pemandangan Pedesaan Antara Birmingham, Bristol,
 Bath, Salisbury, Southampton Dan Portsmouth

Saya paling senang melakukan perjalanan darat, nyetir sendiri dengan mobil sewa kalau mengunjungi negara manapun di dunia. Selalu saja ada kegaduhan antar ayah, emak dan anak anak kalau sedang perjalanan jauh dengan mobil. Mulai dari yang mengeluh kebelet ngising, nyalahin sopir kalau kesasar, ada yang lapar/haus, ada yang tidur mulu sejak berangkat, ada yang kaget terbangun karena ngerem mendadak hampir nabrak kambing sampai ngomel ngomel ditilang polisi. Semua bagian dari wisata, semakin gaduh, jengkel, marah, sedih dalam perjalanan di negeri orang semakin berkesan.

Mobil Sewaan Yang Saya Pakai Keliling UK
Hyundai Elantra

Kali ini saya melakukan perjalanan darat dari Birmingham menuju ke rumah saya di Portsmouth melewati kota Bristol, Bath, Salisburry dan Southhampton. Kira kira menghabiskan waktu sekitar 5 Jam perjalanan. Sepanjang perjalanan yang kita saksikan adalah pemandangan yang natural, tidak terkesan glamour sama sekali seperti yang sering kita saksikan pada photo photo majalah pariwisata atau film hollywood.

Ketemu Bule Inggris Lagi Istirahat
Bekal Yang Dibawa Lumayan Banyak Juga

Kehidupan penduduk juga terlihat sangat bersahaja disepanjang perjalanan. Petani ada yang berkebun dengan traktornya, peternak juga asyik menggembalakan sapi dan kambingnya. Desa desa yang kita lalui juga khas pedesaan eropa dengan jalan jalan sempit berbatu dan beberapa ada yang beraspal. Sama dengan di Indonesia, penduduk pedesaan sangat ramah dan senang diajak bicara dibanding dengan penduduk London dan  kota kota besar lain.

Ada Juga Yang Istirahat Dan Makan Bersama Keluarga
Di Dekat Parkiran Mobil

Karena seringnya saya melakukan perjalanan darat dengan mobil dan berinteraksi dengan warga lokal, saya bisa menyimpulkan bahwa semua orang itu sejatinya sama saja apapun suku bangsanya. Tidak tergantung warna kulit, agama atau pilihan politik  sama sekali. Penduduk desa cenderung lugu dan jujur dan senang menolong kalau kita sedang tersesat atau sengaja menyesatkan diri.

Ndeso di UK
Jenis Tanaman Di Pedesaan Berbeda Dengan Di Indonesia

Yang menarik, orang Inggris kalau melakukan perjalanan jauh juga sama persis dengan orang Indonesia. Cari tempat istirahat, menggelar tikar, dan membuka bekal yang dibawa. Si Bapak sibuk mengangkat semua barang bawaan dari bagasi, anak anak membantu menggelar tikar dan menata barang barang kecil dan si Emak sibuk bagi bagi bekal makanan yang dibawa.

Jalan Desa Yang Sudah Diaspal

Yang berbeda hanya makanannya saja. Tidak terlihat sama sekali Arem Arem, Magic Jar, Indomie Gelas, Rantang, Thermos Air Panas atau barang bawaan khas orang Indonesia lainnya. Sepertinya bekal dan barang bawaan bule lebih ringkas dan praktis dibanding barang bawaan orang Indonesia.  Semua makanan sudah dikemas dari rumah dan tinggal dibagi saja.

Masuk Desa Kecil

Menurut saya bekal makanan dan barang bawaan bule Inggris saat piknik atau perjalanan jauh kurang bervariasi, kurang seru dan tidak seribet seperti orang Indonesia. Yang terlihat ribet, di bagasi orang Inggris ternyata isinya banyak sekali bola dan skateboard, bukan koper pakaian. Orang Indonesia koper pakaian sampai ditaruh diatas mobil. Artinya, orang Inggris jarang mandi dan ganti pakaian.


Rumah Rumah Di Desa
Sebelum Salisbury

Jalan Desa Sepi
Sengaja Masuk Ke Desa Desa

Akhirnya Tersesat Juga
Untung Penduduk Desa Ramah Dan Baik Hati
Dibantu Aba Aba Saat Putar Balik

Baca Juga :

Jumat, 06 Maret 2020

Jalan Jalan Ke Pasar Kere Birmingham

Lewat Pintu Masuk Pasar Sayur Dan Buah
Sebelum Nyampai Ke Los Pakaian Bekas

Kalau anda turis yang hanya berkunjung beberapa hari saja di United Kingdom, nggak bakalan anda mengetahui pasar 'Kere' seperti yang akan saya tulis dibawah ini. Biasanya turis hanya mengunjungi tempat tempat eksotis yang indah dipandang mata saja. Mahasiswa yang kuliah di UK sebenarnya sering keluar masuk ke pasar 'Kere' semacam ini tapi umumnya tidak mau bercerita sedikitpun, lihat saja FB atau tweeternya yang dipajang hanya photo photo ditempat pariwisata yang indah.

Kios Vermak Blue Jean, Jaket
Dan Pakaian Jenis Apapun

Salah satu pasar 'Kere' yang saya kunjungi kali ini namanya Rag Market di kota Birmingham. Jangan sedikitpun membayangkan kalau negara negara Eropa itu pasti glamour, penduduknya kaya raya, belanja selalu di Mall dengan belanjaan barang barang mewah buatan designer terkenal. Salah besar kalau anda berpikiran seperti itu, apa yang anda pikirkan itu hanya ada di Film Holywood dan film iklan / promosi pariwisata saja.

Mau Vermak Pakaian Bisa Ditunggu
Ongkosnya Tawar Menawar

Pasar ditengah kota Birmingham ini tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan pasar pasar tradisional di Indonesia. Yang dijual kebanyakan pakaian bekas. Ada juga sebenarnya pakaian baru jenis 'Kodian', beli 10 dapat gratis satu atau Buy One Get One dan semacamnya.

Promosinya 'Masih Bagus, Baru Dicuci Sekali'

Sepertinya pakaian baru yang murah meriah tersebut didatangkan dari luar negeri, biasanya dari China, India atau Pakistan. Beda sekali ya, Indonesia mengimport barang dari luar negeri lalu dijual mahal di Mall. Sedangkan UK mengimport barang dari luar negeri lalu dijual murah di trotoar buat rakyatnya.

Jaket Bekas Harga GBP 5 - GBP 10
Bisa Ditawar Tinggal Pilih Yang Paling Kinclong

Sama halnya dengan pasar pasar di Indonesia, barang yang dibeli bisa langsung dipermak ditempat apabila kegedean. Disekitar pasar pakaian bekas ini ada beberapa kios jahit yang siap melakukan permak sesuai dengan ukuran tubuh anda. Terserah pakaian apa yang anda beli, celana blue jean, jaket, atau baju, rok atau gaun model apapun semua bisa dipermak ditempat dan anda tinggal menunggu.

Gaun / Rok Baru Dan Bekas Harga
Relatif Sama - Harus Pandai Menawar

Mengenai harga jelas tawar menawar. Permak pakaian juga tawar menawar. Rata rata harga pakaian jenis apapun ditawarkan sekitar GBP 5 - GBP 10. Tertulis jelas cukup rapi dengan warna kuning dan tulisan merah disetiap gantungan pakaiannya. 

Bule Inggris Belanja Pakaian Bekas

Rupanya mas Ardi tertarik dengan  salah satu jaket tipis yang tertulis GBP 5. Saya tawar harganya sampai 50 % dan sukses. Tidak terlalu lama tawar menawarnya langsung dilepas penjualnya dengan harga GBP 3. Nah lo, pulang kembali ke Kuwait mas Ardi bawa oleh oleh pakaian bekas.

Cara Meletakkan Rak Pakaian Sesukanya

Semua Pakaian Bekas Dan Murah

Serba GBP 5 Tapi Bisa Ditawar
Beli Satu Dapat Dua

Soal Pakaian Bule Lebih Sederhana Dibanding
Orang Indonesia

Katanya Alasan Lingkungan Yang Membuat
Bule Sadar Diri Tidak Membuang Pakaian Bekasnya
Bule Memang Pelit  Dan Pinter Cari Alasan

Kalau Orang Indonesia Lebih Boros
Pakaian Bekasnya Umumnya Dibuang
Atau Dijadikan Lap Mobil
 Baca Juga :

Rabu, 26 Februari 2020

Melihat Dari Dekat Stonehenge

Stonehenge, Monumen Pra Sejarah
Yang Dibanggakan Bangsa Inggris

Perhatikan sekitar anda di Indonesia, apapun yang berbau 'Luar Negeri' ditiru dan dijiplak mentah mentah. Orang Indonesia memang unik suka membanggakan 'Luar Negeri' dibanding negerinya sendiri. Contohnya dandanan banyak yang meniru Arab. Cluster perumahan diberi nama Las Vegas, Tokyo, Sommerset dll.  Bikin obyek wisata juga njiplak kota kota di Eropa (misal : The Voyage Bogor), Bikin Masjid di Kalasan meniru St Basil Moscow. Celakanya Stonehenge pun ditiru mentah mentah di Cangkringan, Kaliurang.

Kecil, Borobudur Dan Prambanan Jauh
Lebih Bagus Dan Ada Relief, Ukiran Dan Prasasti Kino

Mari saya ajak anda jalan jalan melihat Stonehenge asli di Wiltshire, sekitar 3 Km dari Amesbury di UK. Monumen pra sejarah ini kalau kita perhatikan sebenarnya nggak ada apa apanya dibanding Borobudur atau Prambanan.  Karena lokasinya cukup jauh dari gedung penjualan tiket maka perlu naik bus sekitar 15 menit menuju kesana. Jadi beli tiket masuk dulu baru ngantri bus yang lewat setiap 30 menit. Dari tempat pemberhentian bus masih harus jalan kaki sekitar 1 - 2 Km untuk mendekat ke tumpukan batu yang bernama Stonehenge tersebut.

Gedung Utama Tempat Beli Tiket Masuk,
Museum, Restaurant Dan Toko Souvenir

Sama sama terbuat dari batu, tapi Stonehenge asli Inggris itu kecil sekali, tingginya sekitar 4 meter, lebar 2.1 meter dan berat 25 ton setiap tiangnya. Hanya batu ditumpuk tidak ada relief apapun. Tetapi penjelasan dan uraiannya hebat dan banyak tersebar di batu marmer semacam  'Prasasti Modern' di sekitar gedung pintu masuk dan cukup jelas menguraikan sejarahnya.

Ngantri Karcis Masuk

Tidak ada ukir ukiran apapun sama sekali apalagi relief, diorama atau prasasti kuno yang bisa bercerita tentang sejarah pembangunannya. Artinya, orang Inggris jaman dulu itu nggak ada apa apanya dibanding orang Indonesia yang bikin Prambanan dan Borobudur. Orang Inggris nggak bisa mengukir atau memahat bikin relief dan prasasti. Dengan kata lain kemungkinan nggak bisa baca tulis atau belum mengenal abjad dan tulisan.

Prasasti Modern Menjelaskan Kecerdasan Bangsa
Inggris Dalam Hal Menyusun Batu 25 Ton

Tapi, berdasarkan cerita yang saya baca di 'prasasti modern' yang bertebaran disekitar gedung penjualan tiket dan museum, saya bisa mengetahui bahwa para archeologist yang meneliti kawasan Stonehenge inilah yang kelewat canggih. Menentukan umur Stonehenge menggunakan tehnik Radiocarbon Dating dan Analisa DNA terhadap temuan apapun. Apa pula ini, ujug ujug menyimpulkan dibangun 3000 - 2000 SM. Bingung saya, ini umur batuannya atau tahun pembangunannya ?. Latar belakang ilmu Geology saya hanya bisa memperkirakan umur batuan, bukan menentukan kapan batu disusun.

Rumah Honai Papua
Saya Ragu Jaman Pra Sejarah Dulu Orang Inggris
Punya Jerami Dan Semen

Lebih bingung lagi, pemandangan yang saya lihat adalah rumah rumah Honai dengan atap jerami seperti yang sering kita saksikan di Papua.  Petunjuk yang tertulis di 'Prasasti Modern' yang saya baca mengatakan rumah tersebut adalah rumah asli bangsa Inggris. Hhhh, jangan jangan cuma khayalan archeologist Inggris setelah nglencer ke Indonesia dan melihat rumah tradisional Honai di Papua. Mana mungkin bisa merekonstruksi rumah  yang dibangun 3000 -  2000 SM.

Rumah Honai Papua Diaku Sebagai
Rumah Asli Bangsa Inggris Di Stonehenge

Petunjuk lain yang saya baca dekat dengan rumah Honai isinya beberapa teori cara bangsa Inggris jaman dulu mengangkat dan menyusun batu raksasa saat pembuatan Stonehenge, lengkap dengan teori teori fisika, matematika dll yang intinya nggombal tentang kecerdasan bangsa Inggris dalam hal mengangkat dan menyusun batu 25 ton. Menurut saya kelewat tinggi nggombalnya. Tetapi banyak orang yang percaya, mungkin cuma saya saja yang nggak mudah percaya gombalan semacam itu.

Ini Prasasti Modern Berisi Teori Dan Interpretasi
Archeologist Terhadap Temuan Temuannya
Sebenarnya tidak salah sama sekali apa yang tertulis di 'Prasasti Modern' di area Stonehenge. Memang seharusnya siapapun bisa membanggakan sejarah bangsanya seperti yang dilakukan bangsa Inggris ini meskipun dengan cara sedikit nggombal. The Present Is The Key To The Past, jadi hal biasa kalau interpretasi masa lalu archeolog Inggris ini agak meragukan. Mending archeolog Borobudur dan Prambanan, interpretasi masa lalunya lebih akurat karena berdasarkan relief dan temuan prasasti kuno.

Harus Naik Bus Dulu 15 Menit Menuju
Lokasi Stonehenge. Nunggu Busnya Yang Lama


Masih Harus Jalan Kaki Menuju Stonehenge
BLumayan Jalan Kaki 1 - 2 Km

Pintu Keluar Dilewatkan Toko Souvenir
Biar Belanja

Lebih Menarik Di Toko Souvenir Daripada Di Stonehenge
Nggak Ada Relief Yang Bisa Bercerita Di Stonehenge

Museum Di Kemas Sangat Bagus Dan Modern
Disinilah Inggris Membangun Citra
Seolah Olah Bangsa Yang Cerdas Sejak Dulu

3D Screen Di Museum

Baca Juga :