Jumat, 05 Juli 2013

Autobahn Jerman, Apanya Yang Hebat.

Jalan Raya Menuju Hannover
Jalan Kecil Dan Sepi Seperti Ini Kalau Di Indonesia Yang
Lewat Sapi, Kambing Dan Petani Nggiring Bebek

Semua Mobil Kecil Kecil
Mana Ferari Dan Lamborghini
Yang Sering Di Majalah Otomotif
Saya pernah jadi wartawan puluhan tahun dan tahu pasti tulisan gombal dan tulisan yang benar benar bermanfaat bagi pembaca. Saya juga bisa mengatakan, hampir semua media otomotif di tanah air banyak gombalnya daripada benernya. Semua tabloid dan majalah otomotif di tanah air isinya 'melambung' sangat tinggi sekali dan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebagai contoh, kalau mengulas mobil sport selalu mengacu ke Eropa dan dilengkapi dengan photo photo mobil sport dengan latar belakang tempat tempat eksotis di negara negara eropa. Terkadang, ada juga bonus kalender dengan gambar mobil sport mewah dengan gadis cantik setengah telanjang.


Dibanding Jalan Merak Cikampek
Terlihat Sekali Aktifitas Ekonomi Di Indonesia
Jauh Lebih Sibuk Dan Ramai

Rest Area - Cuma Bangku Saja
Lebih Memprihatinkan Dibanding
Rest Area Merak - Cikampek
Yang bener saja, jalan jalan dimanapun dinegara Eropa terlalu sempit untuk bisa dipakai melaju mobil Supercar sekelas Ferrari, Lamborghini, Porsche atau yang lainnya. Mobil seperti ini jauh lebih banyak di Kuwait, Uni Arab Emirates dan negara sekitarnya dibandingkan di Eropa. Belum lagi banyaknya speed camera, mana mungkin bisa melaju kencang di jalan kalau nggak ingin menyenggol sepeda. Iklim, cuaca dan kondisi jalan di Eropa memang lebih enak dipakai untuk bersepeda daripada digunakan untuk mengendarai Supercar. Sampai saat ini saya masih heran kalau menyaksikan iklan mobil di majalah otomotif  atau kalender di tanah air. Kenapa ?, karena yang saya saksikan sehari hari di berbagai negara eropa adalah wanita berjaket tebal dan belum pernah saya saksikan ada promotion girl di showroom mobil yang berbikini seperti di majalah. Dingin sekali apalagi saat musim dingin dan sangat tidak sesuai dengan kenyataan.


Rest Area Jerman - Bau Pesing
Lebih 'Kere' Dari Indonesia

Contoh lain adalah Autobahn di Jerman, semacam jalan antar propinsi kalau di Indonesia. Kalau anda baca majalah otomotif di Indonesia, ulasannya sangat hebat sekali. Saya yakin sekali, wartawan di tanah air tidak pernah melihat sendiri seperti apa jalan raya tersebut. Perlu anda ketahui, jalan raya terkenal di Jerman ini cuma dua atau tiga jalur saja. Bandingkan dengan jalan Tol Merak Cikampek di Indonesia yang bisa sampai 4 atau 5 jalur. Bandingkan juga dengan jalan Pantura di Jawa yang selalu penuh mobil dan terdiri dari 3 atau 4 jalur. Di Autobahn Jerman, mobil yang lewat terlalu sedikit sehingga jarak sekitar 600 Km bisa ditempuh sekitar 5 jam saja. Jalan Raya di Indonesia jauh lebih besar, panjang dan tentu lebih banyak mobil sehingga tidak bisa melaju kencang.


Gedungnya Lumayan Bagus
Tapi Cuma Jual Sandwich, Burger Dan Makanan Kecil


Nggak Ada Restaurant
Apalagi Tukang Pijat
Lapangan Parkir Doang
Saya berkali kali lewat jalan raya Autobahn, terutama jalan raya A2 dan A3 yang menghubungkan Amsterdam - Berlin, Dusseldorf - Berlin atau Amsterdam - Dusseldorf. Jalan raya ini juga menghubungkan kota kota Dortmund,  Essen, Hannover dll . Sangat terlihat sekali betapa 'Kere'nya Jerman dibandingkan Indonesia. Tempat Peristirahatan (Rest Area) tidak ada isinya apa apa. Yang agak besar paling banter isinya cuma pompa bensin, toko kecil dan sebuah tempat makan yang menjual sandwich, burger atau makanan cepat saji saja. Jarak Amsterdam ke Berlin atau Dusseldorf ke Berlin sekitar 600 Km, tetapi tempat peristirahatan hanya beberapa buah saja yang layak disebut "Tempat Istirahat", yang lainnya lapangan parkir doang.


Rest Area Kayak Begini Banyak Di Jerman
Kalah Jauh Dibanding Rest Area Merak Cikampek

Toko Serba Ada
Hanya Menjual Sandwich
Rasanya, semakin sering saya pergi kemana mana dan menyaksikan sendiri negara 'Bule', maka semakin bangga saya jadi orang Indonesia. Jalan macet di tanah air berarti aktifitas ekonomi sangat besar. Wilayah luas dan jumlah penduduk besar berarti punya potensi besar dan sangat menggiurkan bagi negara kecil yang tidak punya sumber daya alam seperti negara Eropa. Sayangnya, banyak saudara saya  di tanah air yang 'Termakan Iklan' majalah majalah dan koran luar negeri. Seandainya saja mereka bisa seperti saya untuk datang dan melihat, tentu akan berkata hal yang sama dengan saya.



Rest Area Terbagus Di A2
Hanya Satu Restaurant Saja, Mending Di Tol Merak
Cikampek, Pilihan Restaurant Banyak

Terlalu Nekat Kalau Mau Masuk Ke WC Ini
Ada 'Emas Batangan' Milik Bule Jerman

Kencing Dibawah Pohon Bukan Monopoli Indonesia
Bule Jermanpun Milih Buang Hajat Dibawah Pohon

Mau WC Yang Bersih, Bayar Dulu

Baca Juga :

25 komentar:

  1. Tulisane nya asli menarik …. :)
    Mungkin istimewanya Autobahn adalah bisa saya ngebut sampai 200km/h (legal di luar kota). Freeway US maximum di State tertentu cuma bisa 80 mph (130 an km/h) :)

    BalasHapus
  2. Ha ha ha … orang dimana mana sama saja.

    Saya juga mbaca kisah di blog mbak saat berhenti di sebuah rest Area di Saudi Arabia,… dapat emas batangan guede guede! Ini persis dg yg saya alami, dan anak saya masih trauma kalau inget perjalanan dari Madinah ke Jeddah tahun 2008 lalu

    BalasHapus
  3. habis baca tulisan ini,bayangan saya tentang eropa langsung hancur :)

    BalasHapus
  4. owalaaah... :)
    Terimakasih bu, sudah mencerahkan. Hee
    Baru-baru ini di kota saya, Tenggarong digelar acara adat plus folklore and art festival. Dari 9 negara baik Asia maupun Eropa dapat diketahui dengan jelas perbedaan keseniannya. Bagi saya yang gak terlalu paham seni dapat menyimpulkan bahwa Asia jauuuh sekali lebih kaya kebudayaannya. :)
    Terimakasih.

    BalasHapus
  5. SO, EPERYDAAAAI IBU JALAN-JALAN MELANCONG TERUUS, ENAAAK TENAN, HIDUP YANG PULL PANTASTIS, HE HE

    BalasHapus
  6. Mengutip: "Dibanding Jalan Merak Cikampek
    Terlihat Sekali Aktifitas Ekonomi Di Indonesia
    Jauh Lebih Sibuk Dan Ramai".

    Inilah pola pikir yang konservatif (ternyata masih banyak orang2 yang seperti ini), camkan ini BERPIKIRLAH YANG KERAS, JANGAN BEKERJA KERAS.

    Apa yang anda lihat dan rasakan dari "Jauh Lebih Sibuk Dan Ramai" indonesia ini. Besarkah pendapatan perkapita indonesia dibandingkan dengan negara Jerman ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau per kapita ya jelas Indonesia jeblok dibanding Jerman. Penduduk Indonesia banyak, kalau GDP dibagi jumlah penduduk yg besar jadinya kecil sekali. Lihatlah Gross Domestic Product asli Indonesia dan juga Purchasing Paritynya. Indonesia nomor 15 dunia.

      Hapus
    2. Bener juga. Indonesia itu seperti orang kaya tapi anaknya banyak. Jadi GDP per kapita kecil dan tidak merata. Sama seperti india, China dan Brazil yang saat ini masuk sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan GDP terbagus dunia dan masuk kelompok G8. Optimis bro...SBY gitu....

      Hapus
    3. Udah masuk kelompok G8 dan G20 artinya Indonesia memang sangat diperhitungkan dunia. Cuma, pemerataan kesejahteraan di Indonesia saja yang susah pelaksanaannya. Anaknya banyak sekali, ada yang nggak sekolah pula, masa kere minta dibayar mahal.

      Hapus
    4. indonesia hanya masuk G20 dan tidak G8 coba dilihat lagi. pak ariemail bener, pebulis artikel pola pikir nya sempit dan shallowmind

      Hapus
  7. Negeri sendiri lebih enak apapun kondisinya, proud to be Indonesian :)

    BalasHapus
  8. Mantaaapp mba, tulisannnya, aku pas baca langsung kageett boww! (Biasanya kan kalo ke eropa pake tur yg diliat kan yg indah indah ajaa gitu looh) turun naek bis tur kan ademm, gak ad sisi gelapnya hahaha

    BalasHapus
  9. bedanya cuma satu: jalan tol di jerman gak bayar alias gratis :)

    BalasHapus
  10. Hello Ibu. Saya kira judul 'betapa kerenya' orang jerman mungkin harus dilihat dari segi perbedaan budaya orang Indonesia dan orang Jerman :). Mengapa ibu sangat sedikit melihat warung2 di jalan menjual makanan, karena kebisaan orang Jerman yang memang yang tidak terlalu mempunyai selera makan seperti makan 3x sehari seprti orang Indonesia yang harus menu lengkap (sarapan, makan siang dan makan malam). Kalaupun harus makan lengkap kebanyakan mereka akan lebih memilih di weekend. Kalau mereka melakukan perjalanan jauh, buah2n lebih di pilih untuk menjadi bekal dibandingkan makanan yang berkalori tinggi, kalaupun mereka singgah untuk istirahat (Kaffe) lebih di sukai untuk di komsumsi. Jadi itu dia, alasan beda kebiasaan cara hidup kita dengan mereka. Kalaupun mereka membuat restaurant2 besar di sepanjang jalan, jadi pertanyaan siapa yang akan makan ? :)

    BalasHapus
  11. mungkin karena jumlah penduduk mereka teramat sedikit sehingga geliat ekonominya tak terendus. ini berbeda dengan indonesia yang serba kasat mata. tapi menarik juga tulisan anda yang tak serta merta menyanjung negeri di luar, beda dengan banyak tulisan lain yang semuanya kagum. salam kenal

    BalasHapus
  12. let me get this right, pandangan dan ekspetasi "tidak normal" anda pada "eropa" lenyap seketika akibat majalah dan kalender otomotif? saya tidak akan menanggapai poin demi poin yg ada di tulisan ini 'Cause this article is simply A BIG MESS.

    cara pandang anda SANGAT SUBJEKTIF dan tidak berimbang, take a look at this : "Sangat terlihat sekali betapa 'Kere'nya Jerman dibandingkan Indonesia. Tempat Peristirahatan (Rest Area) tidak ada isinya apa apa. Yang agak besar paling banter isinya cuma pompa bensin, toko kecil dan sebuah tempat makan yang menjual sandwich, burger atau makanan cepat saji saja". OOhhh mungkin kalau di Kuwait di setiap rest area ada mall nya kali ya? Atau : "sebagai contoh, kalau mengulas mobil sport selalu mengacu ke Eropa dan dilengkapi dengan photo photo mobil sport dengan latar belakang tempat tempat eksotis di negara negara eropa". DIMANA MANA ORANG JUALAN SEPERTI ITU!! ga di amerika,eropa atau asia.

    mungkin dari pada mengkritik media otomif lebih anda mengkritik tulisan anda sendiri karena mereka menulis ga asal BULLCRAP dgn ekspetasi " ga wajar". Overall artikel ini sangat tidak berimbang ditulis oleh penulis yg ShallowMind, tidak berwawasan dab berekspetasi tak wajar. Why is this article should've existed....

    satu hal yg pasti Indonesia GA KELAS dibandingkan dengan JERMAN!!

    deutschland über alles!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju!! Cara berpikir si penulis kurang wawasan sekali yah... saya tinggal di Dusseldorf bersama suami dan boleh dibilang saya cinta Dusseldorf. Kami tinggal di jalan Hermanstrasse... kenapa Jerman sepi karena penduduknya tdk sebanyak Indonesia, lain kali coba dipikirkan matang2 klo menulis sesuatu, jgn asal jebret... malu2in...

      Hapus
    2. Jederrrr, ketahuan Dewi Ariesta orang kampung yg baru dibawa ke Jerman hwa ka ka
      Nanti kalau ketemu tak ajak muter muter Dusseldorf, Hannover dan sekitarnya ya. Biar tahu sisi lain spt yang dilihat penulis blog ini ������

      Hapus
  13. Sudjiati Hemmel6 September 2016 09.30

    Saya juga tinggal di Jerman mbak, suami saya juga orang Jerman. Waktu pertama kali saya tiba di Jerman, saya juga terkagum kagum melihat semuanya bersih dan tertata rapi. Tapi lama lama tahu juga sisi yg lain.

    Menurut saya tulisan diatas banyak benarnya. Photo yang ditampilkan tentang Jerman sangat banyak dan tidak bisa menipu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kita tetanggaan ya. Salam kenal semua mbak, saya di Arnhem. Tapi untuk bisa ke Jerman nggak perlu nikah ama bule, suami saya asli Surabaya. Salam

      Hapus
    2. Saya asli nJepara, suami saya wong mBelgie senengnya bukan main ndek nJepara, paling suka ngarit dan ngasih makan kambing. Saya sih tetap bangga nJepara daripada mBelgie, blog ini asli bener apa adanya. Hanya wong ndeso baru datang atau pertama kali datang yg terkagum kagum ngeropah.

      Hapus
  14. Yailaaa, mbak Dewi Atiesta ini belum tahu Jerman udah komen. Orang kampung baru terkagum kagum lihat negara bule we ke ke.
    Blusukan dulu mbak minta antar suami tuh biar nggak mabuk mulu

    BalasHapus
  15. Kok seluruh isi postingannya menjelekkan negara lain mulu ya. Bukkannya saya lebih suka negara lain dari Indonesia, tapi jalan yang macet itu bukan lambang kelancaran ekonomi suatu negara kok,tapi itu melambangkan kemampuan pemerintah mengatasi kemacetan atau ga. Dan emangnya yg bnyk pengemisnya cuma di luar negri? Di indonesia juga bnyk toh.Saya kuliahnya di München kira kira udah 2 tahun, emang di sana si kaga gitu rame lah, tapi aku prnh jalan jalan ke Berlin rame kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi kalau ada orang jerman kencing dibawah pohon, WC bersih harus bayar, Tempat istirahat bau pesing dan cuma tempat duduk batu dll nggak boleh diulas ya ?

      Saya kan udah lama di Jerman jadi tahu mana tempat yg bagus dan mana yg butut. Lha kalau yg ditulis yang bagus mulu, apa bedanya dgn tulisan mahasiswa dan turis ?
      Orang Indonesia yang mau ke Jerman itu pingin tahu juga lho copet, maling, jambret, gembel itu ada nggak di Jerman supaya waspada.

      Hapus
    2. Sudjiati Hemmel4 Oktober 2016 06.13

      Kuncinya adalah Blusukan. Orang kalau sering blusukan akan tahu sisi lain yang seringkali susah dipercaya kebanyakan orang.awam yang mengenal Jerman dari kunjungan singkat sbg turis.

      Sebagai orang Indonesia yang lama tinggal di Jerman saya sepaham dgn Bunda Susy. Semua negara ada sisi baik dan ada sisi buruknya

      Hapus

Silahkan menuliskan komentar dengan bahasa yang jelas, sopan dan beradab.