Selasa, 20 Maret 2018

Cerita Seram Pemandian Air Suci Galta Ji

Galta Ji Temple Jaipur

Namanya Galta Ji Temple. Tempat ini merupakan sekumpulan bangunan tempat ibadah orang India yang terletak diantara tebing batu cadas Aravali Hill. Lokasi tepatnya di Khania Balaji, sekitar 10 Km dari kota Jaipur, Rajasthan, India. Sering juga orang menyebut dengan nama Monkey Temple (Khole Ke Hanuman Ji) karena komplek bangunan ini dihuni banyak sekali monyet yang dikeramatkan. Salah satu kuil monyet ditempat ini namanya Galwar Bagh. Sebenarnya nggak cuma monyet saja yang dikeramatkan di tempat ini, tapi sapipun juga dibuat hidupnya enak, nyaman dan mulia disini.

Tempat Yang Disucikan Orang India Ini Sangat
Ramai Saat Hari Keagamaan Tertentu

Sebagai tempat suci warga India, sudah tentu banyak sekali benda yang dikeramatkan selain monyet dan sapi. Yang sangat terkenal dan menjadi tujuan para pengunjung adalah kolam besar berisi 'Air Suci' yang katanya berasal dari mata air yang mengalir dari bukit bukit disekitarnya. Pada hari hari besar keagamaan tertentu, semua orang India tumplek blek datang dan mensucikan diri di kolam ini. Kalau nggak salah ada tujuh kolam pemandian besar berundak dari yang paling Maha'suci' sendiri terletak diatas dan paling bawah sendiri dengan kwalitas ke'suci'annya masuk kategori 'pas pasan'. 

Pemandangannya Sangat Bagus
Apalagi Saat Rintik Rintik Hujan Seperti Ini

Yang jelas warna airnya hijau - hijau tua seperti berlumut, dan katanya nggak pernah kering dari jaman dulu. Gimana bisa kering, dikuras dan dibersihkan saja sepertinya nggak pernah dan itu terlihat dari warna airnya yang hijau dekil. Monyet monyet yang menghuni bangunan  kuil disekitar kolam inipun terlihat juga ikut ikutan gembira ria nyemplung dan mandi di kolam ini. Sapi katanya juga dimandikan di kolam ini, tapi saya tidak melihat sendiri saat itu.

Ini Tempat Ibadah Orang India
Penuh Ukiran/Lukisan Bergambar Monyet

Saat saya datang, kolam pemandian yang paling atas sedang dibuka untuk umum sedangkan kolam lainnya ditutup. Nama kolamnya Galta Kund. Kolam ini katanya kolam yang paling suci dan nggak pernah kering. Baik laki laki maupun perempuan mandi bareng ditempat yang sama, nggak ada pemisah sama sekali tetapi yang perempuan mengelompok sendiri di kolam sebelah kiri. Mungkin risih kalau membaur dengan yang laki laki.

Monyetnya Banyak Dan Jinak
Tapi Jangan Jahil Dan Mengganggu Ya

Cukup lama saya mengamati orang India sedang mandi dan saya langsung bisa menyimpulkan. Ternyata, sebagian besar lelaki India itu celana dalamnya cuma cawet atau kolor. Bahannya semacam kain karung tepung terigu seperti yang sering dipakai kakek saya waktu jaman perjuangan 1945. Jarang yang terlihat ada laki laki yang memakai celana dalam modern merk Rider, Hings, GTMan atau Speedo. Mungkin ini pengaruh dari Mahatma Gandhi yang selalu menganjurkan memakai produk tenun buatan sendiri.

Bangunan Kuno Tempat Ibadah
Ada Monyet Dan Juga Sapi Yang Dikeramatkan

Yang wanita ternyata juga sama saja. Dibalik kain Saree yang menutupi tubuhnya, tidak ada satupun yang terlihat memakai Bra Modern merk Triump, Sorella, Victoria Secret atau semacamnya. Begitu kain Saree dibuka ternyata yang terlihat Bra model kuno seperti rompi warna warni dan celana dalamnya juga mirip celana pendek kolor tepung terigu yang sering dipakai nenek nenek jaman baheula. Bra-nya sebenarnya sama dengan baju biasa sedada tanpa busa padding atau bahan elastis yang kencang. Sepertinya wanita India juga patuh mengikuti anjuran Mahatma Gandhi untuk menjahit dan menenun sendiri pakaian dalamnya.

Menuju Kolam Teratas Bisa Ketemu Monyet

Kalau anda sering nonton film Bollywood, tentu anda kenal dengan artis cantik Priyanka Chopra dan aktor ngganteng Shahrukh Khan. Nah, meskipun mereka cantik dan ngganteng, percayalah bahwa pakaian dalamnya pasti hasil tenun lokal dari bahan kain katun seperti karung tepung terigu. Bikini sexy yang dipakai Priyanka Chopra di film-film Bollywood itu hanyalah iklan promosi dari perusahaan bikini Eropa / Amerika yang ingin menembus pasar India. Susah memang menembus pasar India kalau penduduknya sudah terlanjur cinta produk dan design dalam negeri sejak jaman kolonial. Percayalah .... atau buktikan sendiri di Galta Ji Temple Jaipur.

Naik Tinggi Sekali Menuju
Kolam Paling Suci Galwar Bagh

Warna Airnya Hijau Tua Dan Cenderung Hitam
Sepertinya Kok Kotor Dan Dekil

Warna Airnya Hijau Seperti Berlumut
Monyet Juga Ikutan Nyemplung Dan Mandi Di Air Suci

Wanita India Nggak Ada Yang Pakai Bra Modern
Modelnya Seperti Rompi Dan Langsung Ditutup Kain Saree

Jarang Yang Memakai Celana Renang Modern
Speedo Atau Merk Lainnya, Umumnya Made  In India

MasyaAllah, Yang Mandi Emak Emak Dan Nenek Nenek
Kenapa Bisa Begini ?

Celana Kolor Kain Tenun
Yang Juga Dipakai Oleh Mahatma Gandhi
Baca Juga :

Jumat, 16 Maret 2018

Dari Colombo Ke Pinnawala Srilanka

Ini Photo Asli Perjalanan Luar Kota Di Srilanka
Bukan Di Klaten Atau Magelang

Saya pernah menceritakan ibukota Srilanka yaitu Colombo di blog ini yang sangat mirip sekali dengan kota kota di Indonesia. Salah satu kemiripannya yaitu banyaknya Bajaj yang jalannya ngawur 'semau gue' dan juga banyak nyamuk dimana mana. Disamping itu, juga terlihat banyak ruko jual pulsa HP, tambal ban dll diseluruh pelosok kota. Coba baca : Nyamuk Nyamuk Colombo. Bandara internationalnya juga unik dengan loket peron untuk pengunjung yang ingin melihat pesawat dari dekat seperti setasiun kereta api di Indonesia tahun 1970an. Baca : Sekilas Bandaranaike International Airport


Rumah Penduduk Disepanjang Perjalanan
Keluar Kota Colombo Sangat Mirip Dengan Di Indonesia

Nah sekarang saya ajak anda untuk jalan jalan keluar kota, tepatnya menuju ke obyek wisata di Pinnawala. Obyek wisata apa yang ada di Pinnawala akan saya ceritakan secara khusus di blog ini pada tulisan selanjutnya. Dari Colombo menuju ke Pinnawala sekitar 2 1/2 jam dengan mobil sewaan atau kira kira 90 - 100 Km lewat Kandy Road (A1). Jalannya tidak selebar  jalan Tol Jakarta Bandung, tapi lebih mirip jalan propinsi Banjarnegara - Wonosobo - Purwokerto dengan pemandangan kiri dan kanan hijau dan mulai agak berbukit bukit begitu perjalanan mendekati obyek wisata di Pinnawale.


Sawah Hijau Juga Terlihat Disepanjang Jalan

Tidak perlu saya ceritakan terlalu detail apa saja yang bisa kita lihat di Kandy Road atau jalan utama yang menghubungkan kota Colombo dengan kota tujuan wisata Pinnawala ini. Semua yang anda saksikan sama persis dengan di Indonesia. Baik rumah rumah penduduk, aktifitas penduduk, jenis kendaraan yang lewat dijalan ini dan apapun semua mirip dengan di Indonesia. Lihat saja photo photo dibawah ini.

Warung Juga Ada Di Sepanjang Jalan

Yang benar benar berbeda cuma penjualnya nggak bisa bahasa Jawa, Sunda atau bahasa Indonesia saja. Disamping itu disepanjang jalan ini nggak ada warung Serabi dan juga nggak ada penduduk yang jualan Pecel Lele, Soto, Bakso, Sate dan RM Padang saja. Saya jamin enakan di Indonesia, warung makannya sangat lengkap dan penjualnya bisa bahasa Jawa.

Nyeberang Dulu Mau Beli Buah Buahan
Hati Hati Bajaj Dan Truk Box

Banyak Juga Sepeda Motor Dan Berbagai
Macam Angkutan Pedesaan

Ada Penjual Buah Buahan Di Pinggir Jalan
Mulai Rambutan, Jeruk Sampai Durian Ada

Lagi Musim Durian, Manggis, Nenas Dan Rambutan

Pagar Jembatan Dan Pemandangan Alam Sama
Persis Dengan Indonesia

Ijo Royo Royo Dan berbukut Bukit Seperti
Di Indonesia

Rumah Rumah Disepanjang Jalan Sama
Bentuknya Dengan Rumah Di Indonesia

Ada Juga Monyet Disepanjang Jalan
Baca Juga :

Sabtu, 03 Maret 2018

Gunwharf Quays Portsmouth

Gunwharf Quays Portsmouth
Dulunya Pelabuhan Tempat Penyimpanan Senjata

Bahasa Jawa itu katanya paling lengkap sedunia. Misalnya saja 'Padi', 'Gabah', 'Beras', 'Nasi', 'Upo', 'Menir' kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris semuanya dianggap sama saja yaitu 'Rice'. Nah, kosakata bahasa Inggrispun ada juga yang susah dicari padanan katanya dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Coba saja buka Kamus apapun dan terjemahkan apa arti 'Wharf', 'Quay', 'Pier' dan 'Jetty'. Semuanya dianggap sama yaitu 'Dermaga'. Kalau ditambahkan lagi dengan kata 'Port' , 'Harbour' dan 'Marine Deck', bisa tambah bingung lagi kita. Bedanya apa ?


Kira Kira Seperti Inilah Perbedaannya
Susah Menjelaskan Karena Nggak Ada Dalam Kosakata
Bahasa Indonesia/Jawa

Di kota Portsmouth, United Kingdom, pusat keramaiannya bernama Gunwharf Quays. Semacam Pusat Perbelanjaan besar dengan berbagai macam toko, restaurant, gedung bioskop, casino dan ada juga apartment tempat tinggal warga. Spinaker Tower ('Tugu Monas'nya kota Portsmouth) juga ada di tempat ini. Istilah istilah yang saya sebutkan diatas semuanya ada disini dan saya pernah bingung nggak tahu apa bedanya antara Wharf, Quays, Pier dan Jetty.  Semua tak anggap sama yaitu Port atau Harbour.

Spinnaker Tower Dan Kapal Kapal Yang
Sedang Berlabuh Di Gunwharf Quays

Dahulu, tempat ini adalah tempat penyimpanan senjata, ranjau, bom dan berbagai macam bahan peledak. Pernah juga digunakan sebagai pangkalan angkatan laut Inggris dengan specialisasi ranjau dan bahan peledak. Masih ada jejak sejarah tersisa ditempat ini misalnya tulisan 'HMS Vernon'. Yah, benar tempat ini memang ditepi laut dan pernah digunakan sebagai pangkalan angkatan laut kerajaan Inggris. Baca sendiri sejarahnya melalui link ini Gunwharf Quays.


Atapnya Terbuat Dari Solar Panel Untuk
Penerangan Tempat Parkir Di Lantai Bawah

Yang menarik, setiap lorong di pertokoan ini mempunyai nama. Contohnya Philip Avenue, Sirius Avenue, Togo Avenue, Marlborough Avenue, Vernon Avenue dan lain lain. Ternyata nama jalan didalam pertokoan tersebut asli sudah ada sejak dulu kala sebelum dijadikan pusat pertokoan. Konon dulunya jalan tersebut berada diantara gudang gudang penyimpanan bahan peledak. Kira kira semacam gudang atau rumah rumah kecil perkampungan di Indonesia yang disatukan dengan cara ditutupi atap kaca megah diatasnya. Saat ini bekas gudang atau rumah rumah kecil tersebut telah disulap menjadi toko toko mewah. Dan jalan becek didepannya telah diubah menyadi berlapis keramik yang cantik dan menarik.

Sangat Bijak Sekali, Pemilik Tanah Sebelumnya
Dikenang Dan Ditulis Riwayat Singkatnya

Karena Gunwharf Quays ini punya sejarah yang panjang, maka banyak sekali cerita yang dituliskan dengan indah di tembok tembok, mulai dari 'Charles' pemilik tanah sebelumnya, sampai cerita sejarah kenapa lorong jalan tersebut bernama 'Jalan Philip'. Keren kan, seandainya saja orang Indonesia bisa menghargai masa lalu, bisa jadi gedung gedung Mall dan perkantoran di Jakarta akan mencantumkan juga siapa nama nama pemilik tanah sebelumnya. Mungkin bunyinya 'Gedung ini berdiri di bekas tanah H Zaenudin yang dengan tulus asih ingin menjadikan kota Jakarta maju dan modern'.


Setiap Lorongnya Terang Benderang
Parkir Bawah Tanahnya Juga Terang Berkat Listrik
Dari Solar Panel

Meskipun kelihatannya atap yang menyatukan toko seperti kaca biasa, tetapi sebenarnya atap tersebut adalah Solar Panel yang digunakan untuk listrik penerangan ditempat parkir lantai bawah tanah. Konon dengan adanya solar panel terbesar di Eropa untuk kategori pertokoan tersebut kebutuhan listrik Gunwharf Quays bisa bekurang 40 %..

Jadi Terlihat Modern Dan Megah
Padahal Aslinya Gudang Bahan Peledak

The Avenues
Jalan Utama Didalam Mall Gunwharf Quays

Jalan Philip
Ada Sejarahnya Siapa Arthur Philip Sebenarnya

Masih Riwayat Singkat Pak Arthur Philip
Kalau Di Indonesia Kira Kira Setara Dengan Mbah Priok

Nama Jalan Dibuat Bagus

Kenapa Namanya Togo Avenue
Di Jakarta Kira Kira Setara Dengan Nama Si Pitung

Jalan Marlborough
Di Jalan Ini Nggak Ada Rumah, Adanya Cuma Toko

Sudah Jadi Toko Modern
Siapa Ngira Dulunya Tempat Menyimpan Bom

Jalan Sirius
Ternyata Nama Kapalnya Pak Arthur Philip

Semua Ada Nama Jalan Tapi Nggak
Ada Rumahnya Sama Sekali

Gerbang Utama Gunwharf Quays
Dulu namanya HMS Vernon Gate

Jumat, 16 Februari 2018

Sekolah Gajah David Sheldrick Nairobi Kenya

Gajah Afrika Di David Sheldrick Wildlife Trust
Warna Kulitnya Sawo Matang

Indonesia punya Sekolah Gajah di Way Kambas (Lampung), Sebokor (Padang Sugihan, Musi Banyuasin - Sumatera Selatan) dan ada juga yang didekat rumah saya dulu di Sebanga - Duri dan Tahura, Minas Riau. Hampir 15 tahun saya tinggal disekitar sekolah gajah di Minas dan Duri, jadi saya tahu betul Gajah Sumatera itu seperti apa. Hampir setiap saat saya menyaksikan gajah gajah liar tersebut melintas didepan rumah atau menyeberang melalui lintasannya di lapangan minyak Minas dan  Duri, Riau.

Ini Gajah Minas Sekolah Gajah Tahura Minas
Dekat Sekali Dengan Rumah Saya Dulu
Gajah Sumatera Kulitnya Hitam
Baru baru ini saya sempatkan untuk 'Study Banding' ke sekolah gajah di Nairobi, Kenya. Namanya David Sheldrick Wildlife Trust - Elephant Orphanage. Lokasinya di pinggiran kota Nairobi kira kira 20 Km dari pusat kota dan masih satu wilayah dengan Nairobi National Park. Saya sangat terkejut menyaksikan gajah gajah disini, ternyata gajah Africa 'Warna Kulitnya Sawo Matang !!!', beda sekali dengan gajah Sumatera yang warna kulitnya hitam legam. Pawang Gajah yang bertugas merawat gajah warna kulitnya malah sebaliknya. Lihat sendiri photo dibawah ini.


Pengunjung Penuh Menunggu Gajah
Diberi Minum Susu

David Sheldrick Wildlife Trust - Elephant Orphanage ini sebenarnya adalah organisasi sosial yang didirikan tahun 1977 oleh Daphne Sheldrick, istri dari Major David Leslie William Sheldrick sebagai penghormatan atas jasa suaminya yang berjasa menjaga kelangsungan hidup ribuan margasatwa di kawasan Tsavo (sekarang sudah menjadi Tsavo National Park) antara tahun 1948 sampai akhir hayatnya 13 Jun 1977. Tujuan utamanya adalah menyelamatkan gajah gajah, terutama bayi gajah yang terlantar karena induknya dibunuh para pemburu liar untuk diambil gadingnya. Semacam Panti Asuhan khusus anak gajah.


Pengunjung Bisa Menyentuh Anak
Gajah Yatim Piatu

Panti Asuhan Gajah David Sheldrick ini setiap harinya hanya dibuka untuk umum selama satu jam saja yaitu antara jam 11:00Am - 12:00AM. Bayar tiket masuknya 500 Shilling Kenya atau sekitar USD 7 per orang. Bisa bayar pakai credit card tapi saya sarankan untuk bayar tunai saja karena antrian pengunjung bakalan macet kalau ada yang bayar tiket masuk nggesek credit card. Kecuali kalau mau jadi donatur tetap atau mau nyumbang sejumlah tertentu, silahkan saja gesek pakai credit card tapi tempatnya beda dengan loket pembelian tiket masuk.


Mimik Cucu - Sekali Minum
Bisa Menghabiskan 5 Botol

Disamping masuknya harus berdesak desakan, pengunjung juga harus berlarian menuju lapangan terbuka untuk mencari tempat tempat yang paling strategis. Tidak ada tribune atau tempat duduk, semua pengunjung hanya berdiri melingkar. Nggak perlu menunggu terlalu lama, puluhan anak gajah langsung berlarian keluar dari semak semak saat aba aba diberikan oleh petugas. Puluhan petugas berseragam hijau langsung sibuk memberi minum susu. Pembawa acara juga memperkenalkan nama nama semua anak gajah lengkap dengan cerita menyedihkan kenapa saat ini anak gajah tersebut menjadi Yatim Piatu.

Kasihan Anak Gajah Yatim Piatu Ini
Orang Tuanya Dibunuh Pemburu Liar

Ada anak gajah yang ditemukan terkapar luka parah karena diterkam singa dan ditinggal induknya, ada yang ditinggal mati induknya karena ditembak pemburu gading liar dan berbagai macam cerita mengenaskan. Karena masih kanak kanak, tingkah laku gajah ternyata seperti manusia juga. Ada yang nakal, usil, pendiam, selalu menyendiri tidak bisa bergaul dengan temannya dll. Karena cerita yang disampaikan sangat menyedihkan, banyak pengunjung yang iba dan di pintu keluar dengan sukarela membeli buku, cendera mata, dan mengisi kotak donasi untuk kelangsungan organisasi penyayang gajah ini.

Tempat Parkir Masuk Ke Panti Asuhan Gajah

Setiap Hari Hanya Buka 1 Jam Saja Untuk Umum

Pengunjung Berjubel Untuk Melihat
Anak Gajah Panti Asuhan Diberi Makan Dan Minum

Tiket Masuk 500 Kenya Shilling Atau Sekitar
USD 7 per Orang

Ada Juga Yang Ngantri Ndaftar Jadi Donatur Tetap
Setahun USD 50 Dipotong Langsung Dari Credit Card

Bisa Juga Ngantri Untuk Ngasih Sumbangan Sukarela
Dengan Memasukkan Kotak Donasi

Ketemu Rombongan Anak Sekolah Dan Gurunya
Dari Nairobi

Photo Photoan Dulu Dengan Murid
Dan Pak Guru Yang Baik

Bu Guru, Photo Dulu Dong

Bubar,Semua Pengunjung Pulang Menuju
Parkiran Bus Dan Mobil
Baca :