Sabtu, 13 Juli 2013

Nyamuk Nyamuk Colombo

Sumprit.. Ini Mobil Di Colombo
Rasanya Di Indonesia Sudah Tidak Ada Lagi


Belanja Di Warung
Motor Cukup Parkir Dijalan
Inilah saat saat paling sulit bagi Ardi's Family. Ke negara manapun, kita bepergian, selalu saja bisa menulis cerita apapun dengan mudah. Tapi di Colombo, Srilanka semua ide ide tulisan hilang begitu saja. Pengalaman sebagai pewarta puluhan tahun serasa tak berguna sama sekali. Tidak tahu apa yang harus saya tuliskan dan tidak tahu dimana harus memulai. Kenapa saya bisa 'blank' sama sekali saat menjejakkan kaki pertama kali di Colombo, Srilanka ? Jawabnya karena kota Colombo tidak ada bedanya sama sekali dengan kampung halaman saya sendiri, dan juga nyaris sama dengan kota kota kabupaten di Indonesia. 


Bajaj Paling Bagus
Di Colombo
Sebagai ibukota Srilanka, saya bisa mengatakan kemiripan kota Colombo kira kira sama dengan kota Surabaya tahun 1970an atau kota kota kecamatan/kabupaten di Indonesia sekitar tahun 1980an. Kenapa bisa yakin sekali mengatakan Colombo sama dengan kota di Indonesia tahun 1970-1980an ? Karena di Colombo banyak terdapat Bajaj, jalanan, ruko dan kelakuan sopir angkutan umum yang suka ngetem dan berhenti sembarangan sama persis dengan Indonesia. Disamping itu, nyamuk sangat banyak sekali di Colombo.. Indonesia punya Cendrawasih sebagai Burung Nasional, maka perkiraan saya, Nyamuk adalah Burung Nasional  Srilanka, khususnya kota Colombo.


Mirip Kios Kartu Ponsel

Sungai Sumber Nyamuk Di Colombo

Bajaj Lagi - Nyeberang Jalan Njemput
Penumpang Seenaknya Saja

Ruko Terbagus Di Colombo
Suara Bajaj Mengingatkan Kampung Halaman

Sekolahan, Hati Hati Banyak
Anak Menyeberang


Kampung Di Colombo
Rumah Tidak Teratur

Macet Dijalan Sempit - Bajaj Berhenti Seenaknya
Patung - Biar Selamat Sampai Tujuan

Ngetem Cari Penumpang
Sumprit... Ini Di Colombo

Selasa, 09 Juli 2013

Pipa, Obyek Wisata Paling Menarik Di Berlin

Pipa Pipa Berlin
Ada Yang Berwarna Pink Dan Biru
Fungsinya Berbeda Beda

Siapapun kalau ke Berlin, Jerman pasti ingin mencari Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur beberapa waktu yang lalu. Nggak salah sih, tapi apa mudah menemukannya ? Perlu perjuangan tersendiri untuk menemukannya karena tembok tersebut telah dihancurkan dan sisanya yang masih tertinggal hanya ada di Mühlenstrasse. Apa pula ini ?, orang Jerman nggak bisa bahasa Inggris, kalau ditanya jawabnya kira kira artinya "Sonoooo....!", sambil menunjuk ke satu arah yang kalau diikuti nggak akan bisa ketemu.

Seni Centang Perentang
Bagus Atau Ruwet ?


Tetapi, nggak apa apa. Kita cari yang paling mudah ketemu saja. Apalagi kalau bukan "PIPA AIR", ada yang berwarna pink, biru dan ada juga yang belum dicat atau catnya sudah pudar. Pipa pipa air ini membentang diatas permukaan tanah dengan ketinggian sekitar 3 meter dan memanjang diatas trotoar, nyeberang jalan.


Truk Dilarang Masuk Kota
Bisa Sundul
Pipa pipa unik ini selalu jadi bahan pembicaraan para turis yang baru pertama kali ke Berlin. Ada menduga Salah Design dan ada juga yang menduga Karya Seni. Tetapi banyak juga yang mengatakan Dinas Tata Kotanya nggak punya perencanaan matang dan mengatur system pengairannya tambal sulam.


Pipa Biru - Seni Atau
Merusak Keindahan Kota ?

Jawaban sebenarnya, pipa pipa tersebut adalah pipa sementara. Pipa tersebut dipasang kalau ada pekerjaan bangunan atau konstruksi. Di kota Berlin, permukaan air tanah sangat dangkal sekali dan sama seperti kota kota di Jawa.. Menggali tanah sekitar 2 meter saja sudah keluar air tanah, dan hal ini sangat merepotkan perusahaan konstruksi saat membangun pondasi bangunan. Kalau anda ikuti pipa pipa tersebut, maka ujungnya pasti gedung yang sedang dibangun dan ujung lainnya adalah tempat pembuangan limbah. Pipa pembuangan air tanah ini berwarna Pink.


Bertahun Tahun Kalau
Pembangunan Tidak Selesai

Lalu apa maksudnya pipa yang berwarna biru ?. Sama saja, bedanya pipa ini berisi air bersih untuk kebutuhan air selama pembangunan gedung. Pipa air untuk kebutuhan rumah tangga tidak boleh digunakan untuk keperluan pembangunan gedung. Debit airnya tidak mencukupi dan nekat berani bayar mahal kalau sampai menggunakan air minum untuk pembangunan gedung. Lalu, yang warnanya bukan pink dan bukan biru maksudnya apa ?. Oh, yang itu kontraktornya bangkrut dan kabur. Bangunannya mangkrak dan pipa pipanya dibiarkan begitu saja sampai berkarat.



Bangunan Mangkrak Dan Pipa Berkarat

Baca Juga :

Jumat, 05 Juli 2013

Autobahn Jerman, Apanya Yang Hebat.

Jalan Raya Menuju Hannover
Jalan Kecil Dan Sepi Seperti Ini Kalau Di Indonesia Yang
Lewat Sapi, Kambing Dan Petani Nggiring Bebek

Saya pernah jadi wartawan puluhan tahun dan tahu pasti tulisan gombal dan tulisan yang benar benar bermanfaat bagi pembaca. Saya juga bisa mengatakan, hampir semua media otomotif di tanah air banyak gombalnya daripada benernya. Semua tabloid dan majalah otomotif di tanah air isinya 'melambung' sangat tinggi sekali dan tidak sesuai dengan kenyataan.


Semua Mobil Kecil Kecil Mana Ferari Dan Lamborghini
Yang Sering Di Majalah Otomotif

Sebagai contoh, kalau mengulas mobil sport selalu mengacu ke Eropa dan dilengkapi dengan photo photo mobil sport dengan latar belakang tempat tempat eksotis di negara negara eropa. Terkadang, ada juga bonus kalender dengan gambar mobil sport mewah dengan gadis cantik setengah telanjang.


Dibanding Jalan Merak Cikampek
Terlihat Sekali Aktifitas Ekonomi Di Indonesia
Jauh Lebih Sibuk Dan Ramai

Yang bener saja, jalan jalan dimanapun dinegara Eropa terlalu sempit untuk bisa dipakai melaju mobil Supercar sekelas Ferrari, Lamborghini, Porsche atau yang lainnya. Mobil seperti ini jauh lebih banyak di Kuwait, Uni Arab Emirates dan negara sekitarnya dibandingkan di Eropa. Belum lagi banyaknya speed camera, mana mungkin bisa melaju kencang di jalan kalau nggak ingin menyenggol sepeda. Iklim, cuaca dan kondisi jalan di Eropa memang lebih enak dipakai untuk bersepeda daripada digunakan untuk mengendarai Supercar.


Rest Area - Cuma Bangku Saja Lebih Memprihatinkan
Dibanding Rest Area Merak - Cikampek

Sampai saat ini saya masih heran kalau menyaksikan iklan mobil di majalah otomotif  atau kalender di tanah air. Kenapa ?, karena yang saya saksikan sehari hari di berbagai negara eropa adalah wanita berjaket tebal dan belum pernah saya saksikan ada promotion girl di showroom mobil yang berbikini seperti di majalah. Dingin sekali apalagi saat musim dingin dan sangat tidak sesuai dengan kenyataan.


Rest Area Jerman - Bau Pesing
Lebih 'Kere' Dari Indonesia

Contoh lain adalah Autobahn di Jerman, semacam jalan antar propinsi kalau di Indonesia. Kalau anda baca majalah otomotif di Indonesia, ulasannya sangat hebat sekali. Saya yakin sekali, wartawan di tanah air tidak pernah melihat sendiri seperti apa jalan raya tersebut. Perlu anda ketahui, jalan raya terkenal di Jerman ini cuma dua atau tiga jalur saja. Bandingkan dengan jalan Tol Merak Cikampek di Indonesia yang bisa sampai 4 atau 5 jalur. Bandingkan juga dengan jalan Pantura di Jawa yang selalu penuh mobil dan terdiri dari 3 atau 4 jalur. Di Autobahn Jerman, mobil yang lewat terlalu sedikit sehingga jarak sekitar 600 Km bisa ditempuh sekitar 5 jam saja. Jalan Raya di Indonesia jauh lebih besar, panjang dan tentu lebih banyak mobil sehingga tidak bisa melaju kencang.


Gedungnya Lumayan Bagus
Tapi Cuma Jual Sandwich, Burger Dan Makanan Kecil

Saya berkali kali lewat jalan raya Autobahn, terutama jalan raya A2 dan A3 yang menghubungkan Amsterdam - Berlin, Dusseldorf - Berlin atau Amsterdam - Dusseldorf. Jalan raya ini juga menghubungkan kota kota Dortmund,  Essen, Hannover dll . Sangat terlihat sekali betapa 'Kere'nya Jerman dibandingkan Indonesia.

Nggak Ada Restaurant Apalagi Tukang Pijat
Lapangan Parkir Doang
Tempat Peristirahatan (Rest Area) tidak ada isinya apa apa. Yang agak besar paling banter isinya cuma pompa bensin, toko kecil dan sebuah tempat makan yang menjual sandwich, burger atau makanan cepat saji saja. Jarak Amsterdam ke Berlin atau Dusseldorf ke Berlin sekitar 600 Km, tetapi tempat peristirahatan hanya beberapa buah saja yang layak disebut "Tempat Istirahat", yang lainnya lapangan parkir doang.


Rest Area Kayak Begini Banyak Di Jerman
Kalah Jauh Dibanding Rest Area Merak Cikampek

Rasanya, semakin sering saya pergi kemana mana dan menyaksikan sendiri negara 'Bule', maka semakin bangga saya jadi orang Indonesia. Jalan macet di tanah air berarti aktifitas ekonomi sangat besar. Wilayah luas dan jumlah penduduk besar berarti punya potensi besar dan sangat menggiurkan bagi negara kecil yang tidak punya sumber daya alam seperti negara Eropa.


Toko Serba Ada
Hanya Menjual Sandwich

Sayangnya, banyak saudara saya  di tanah air yang 'Termakan Iklan' majalah majalah dan koran luar negeri. Seandainya saja mereka bisa seperti saya untuk datang dan melihat, tentu akan berkata hal yang sama dengan saya.

Rest Area Terbagus Di A2
Hanya Satu Restaurant Saja, Mending Di Tol Merak
Cikampek, Pilihan Restaurant Banyak

Terlalu Nekat Kalau Mau Masuk Ke WC Ini
Ada 'Emas Batangan' Milik Bule Jerman

Kencing Dibawah Pohon Bukan Monopoli Indonesia
Bule Jermanpun Milih Buang Hajat Dibawah Pohon

Mau WC Yang Bersih, Bayar Dulu

Baca Juga :

Jumat, 28 Juni 2013

Sekilas Bandaranaike International Airport, Srilanka

Bandara "Tradisional" Bandaranaike Srilanka
Ngantri Dimana Mana Petugasnya Klewas Klewes
Main Main IPhone Dan Ngobrol

Taxi Gelap Banyak Dan Siap
Mengantar Penumpang - Hati Hati
Dipalak Sopir Taxi
Beberapa bulan lalu media di Indonesia geger karena Kepala Dinas BKPMD Bangka Belitung  memukul pramugari Sriwijaya Air saat turun dari pesawat. Pak Kadin BKPMD Zakaria Umar Hadi merasa tersinggung saat diminta untuk mematikan telepon genggamnya saat diatas pesawat. Beruntung sekali, pramugari tersebut di Indonesia, kalau saja dia di Srilanka, bisa jadi akan dikeroyok seluruh penumpang. Penumpang Srilanka kelakuannya seperti pak Kadin  semua, dan tidak tahu sama sekali 'Keselamatan Penerbangan'. Jangankan masalah pemakaian HP di pesawat, baru saja pesawat menyentuh landasan dan masih berjalan di landasan dengan kecepatan tinggi, semua penumpang Srilanka sudah melepas sabuk keselamatan, berdiri dan membuka bagasi untuk mengambil tas bawaannya.


Jalan Didepan Bandara
Seperti Di Bandara Buluh Tumbang
Saya baru tahu pasti kenapa orang Srilanka kelakuannya seperti Pak Kadin Bangka Belitung setelah benar benar berada di dalam  Bandaranaike International Airport. Ternyata, bandara international ini tidak semegah dan sebesar bandara internasional di negara manapun. Apalagi dibandingkan dengan bandara internasional Soekarno Hatta Cengkareng, Indonesia. Kira kira setara dengan bandara Bangka Belitung (H.A.S Hannandjoeddin/Buluh Tumbang Airport). Service atau pelayanan airport dan fasilitas airport relatif sama, bukan sama sama bagus tetapi sama sama memble. Kelakuan petugasnya khas daerah dan sama persis dengan pak Kadin BKPMD Bangka Belitung, yaitu asyik main telephone genggam saat melayani calon penumpang.


Keluar Dari Airport Menuju
Kota Colombo
Yang saya ceritakan ini adalah Terminal 1 (International Airport) yang sudah dibuka tahun 1967. Terminal 2 akan dibangun dan rencana akan dibuka tahun 2015. Sedangkan Terminal 3 masih baru, dibuka resmi bulan November 2012 yang lalu untuk penerbangan domestik saja. Saya juga terheran heran, tampaknya penduduk Srilanka lagi seneng senengnya menggunakan IPhone atau telepon genggam sejenisnya baik di darat maupun di udara. Rasanya, mereka bangga dan gagah sekali kalau turun pesawat dari Terminal 1 langsung kutak katik telepohone genggamnya. Ketika saya lirik sedang apa dengan telephone genggamnya, ternyata cuma main facebook atau tweeter. Update status "Back Home, Landing At Srilanka International Airport".

Bayar Tiket Peron Untuk Nonton Pesawat
Seperti Stasiun Kereta Api

VIP Lounge

Ini Bandara International Atau Stadion Sepak Bola
Nonton Pesawat Terbang - Horeeeeee

Baca Juga :



Minggu, 23 Juni 2013

Mesin Kroket Londo

Bingung Mengingat Ingat Letak Mesin
Kroket Di Stasiun Utrecht Centraal

Bingung Nggak Mau Keluar
Cepet Dong, Laper Nih..
Orang bilang badan saya gendut, ya biar saja kenyataannya memang seperti itu. Saya memang doyan makan dan ngemil. Saya masih ingat waktu kecil dulu diajak bapak dan ibuku ke Dokter karena sakit. Pak Dokter menasehati "Makan yang banyak, biar sehat dan jauh dari penyakit". Nasehat pak Dokter inilah yang saya pegang sampai hari ini dimanapun saya berada. Nggak ada kata kata lain, hanya nasehat pak Dokter inilah yang bisa saya gunakan untuk "Ngeles" kalau ada orang mengatakan saya gendut.



Sukses, Kroket Idaman Bisa
Keluar
Di stasiun kereta api Utrecht, Belanda (Utrecht Centraal Station), saya selalu mengikuti saran pak Dokter yaitu "Banyak Makan". Setiap kali saya turun dari kereta api selalu saya sempatkan beli Kroket meskipun hanya sebiji. Tetapi, karena saya 'Wong Ndeso" dan bener bener "Kampungan" maka rasa ingin tahu saya sangat besar sekali terutama hal hal yang berbau tehnologi. Saya selalu memilih beli Kroket melalui mesin meskipun ada pegawai toko kue yang selalu menunggu ditoko sebelahnya. Kayaknya bergengsi sekali kalau beli kroket dari mesin di luar negeri. (Apalagi kalau di'share' di facebook dan dibaca 'friend' saya yang berjumlah ribuan. Soal gaya gayaan saya memang nggak pernah kalah dengan yang lain.


Kroket Idaman
Ternyata Pintunya Harus Ditarik
Dengan yakin dan mantap saya menuju mesin Kroket dan saya masukkan EUR 2 meskipun harga yang tertera cuma EUR 1.40. Duit coin langsung ditelan, tetapi kroket idaman tidak mau keluar. Ada tombol besar hitam langsung saya geser kiri, nggak mau gerak. Saya geser kanan juga nggak mau gerak. Saya tekan juga sama saja nggak mau gerak. Mau menyerah dan memanggil pegawai toko ?, Malu, jangan jangan saya  dikatakan "Ndeso" dan "Kampungan" oleh orang Belanda, Maaf saja. Akhirnya, semua pintu yang ada isinya saya buka satu persatu dan berhasil. Tapi, cobaan belum berhenti, uang kembalian tidak keluar juga dari mesin. Saya tunggu cukup lama didepan mesin dan rupanya menarik perhatian orang lewat
"Madame, masukkan coin EUR 1.40 setelah itu buka pintu kroket yang paling atas". 
Nah, ini baru cocok, berarti ada yang menyarankan saya untuk nambah dan makan kroket satu lagi.


Baca Juga :