Sabtu, 15 Oktober 2016

Delhi Haat, Sentra Home Industri Murah Meriah

Delhi Haat Craft Cottage Industries
New Delhi - Murah Meriah

Jalan jalan ke India, khususnya di New Delhi dan seluruh wilayah Rajasthan (Jaipur, Udaipur, Jodpur dan lain lain) ada baiknya menggunakan Tour Guide lokal. Kenapa ?, Entahlah, sebagai keluarga yang lebih banyak ceweknya daripada cowoknya, saya merasa nggak aman kalau jalan jalan sekeluarga apalagi sendirian. Jalan baru beberapa langkah langsung diikuti pedagang asongan, sopir ricksaw atau pengemis. Lagipula, dimana mana penuh manusia. Penduduk India banyaknya bukan main, 5 kali lipat penduduk Indonesia. Rasanya semua mata memandang ke kita kemanapun kita berjalan. Wajah, postur tubuh dan penampilan kita memang berbeda dengan mereka.


Cara Menjualnya Yang Sangat Unik
Dibentangkan Didepan Pembeli

Tetapi, Tour Guide di India kelakuannya sama saja dengan Tour Guide di Indonesia atau dimanapun juga. Dia punya referensi toko cendera mata sendiri. Kalau kita ajak ke tujuan lain, selalu saja mengelak dan mengajak ke toko cendera mata tertentu yang tidak kita kehendaki. Biasa, dia akan dapat komisi kalau saya turuti mampir ke toko yang direkomendasikannya. Percayalah, semua toko cenderamata yang direkomendasikannya 'Sangat Mahal'.


Saree Berbagai Macam Kwalitas Dan Design
Cara Jualnya Sangat Mengesankan

Di India, khususnya New Delhi ada banyak Sentra Home Industry milik pemerintah. Salah satunya bernama Delhi Haat Craft Cottage Industries. Lokasinya di Okhla New Delhi. Karena merupakan sentra home industry, maka semua hasil kerajinan rakyat dari segala penjuru India dipasarkan ditempat ini. Kwalitasnya juga bermacam macam, mulai kwalitas paling rendah hasil prakarya anak anak sampai kwalitas sangat tinggi dari pengrajin paling jempolan di India. Harganya, semua Fixed Price, nggak bisa ditawar sama sekali dan Free Tax. Sangat murah sekali dibanding toko toko souvenir swasta untuk barang dengan kwalitas yang sama.


Sedang Milih Saree. Semua Barang Nggak Bisa Ditawar
Semua Fixed Price
Gedungnya sangat besar dan luas sekali. Satu lantai sendiri khusus kerajinan tangan dari berbagai daerah India, satu lantai khusus kerajinan kain dan satu lantai khusus karpet dan hiasan gantung rumah. Karyawannya sangat banyak, setiap pengunjung dilayani secara privat dan dijelaskan secara detail semua barang yang ada. Ada staff yang khusus ngajari membuat karpet, Sari, Pashmina atau barang kerajinan apapun. Mirip dengan Sentra Industri Rumah di Indonesia.


Mau saree Yang Kwalitas Paling Rendah Sampai
Yang Luxury Tersedia

Yang menarik, saya diajari bagaimana trick ngibul pedagang swasta dalam hal membohongi konsumen agar bisa menaikkan harga barang menjadi lima kali lipat dari harga resmi dari pemerintah. Contohnya Pashmina, pedagang diluar sana selalu demo memasukkan pashmina kedalam lobang cincin untuk membuktikan bahwa pashminanya asli dari bulu domba Kashmir. Ada juga yang demo dengan cara membakar dengan korek api sampai tercium bau seperti rambut terbakar. 


Pasmina Dari Kashmir
Warnanya Bagus Bagus


Ternyata trick seperti ini gombal besar. Untuk membuktikan keaslian Pashmina Kashmir ternyata harus melalui proses rumit dan dikirim ke laboratory pemerintah. Semua Pashmina dan Saree yang sangat lebarpun bisa lolos kalau dimasukkan ke lobang cincin yang kecil. Jadi, jangan percaya kalau ada pedagang ngibulin anda dengan cara seperti itu dan menjual dengan harga sangat mahal.


Karena Luwes Ikut Jualan Pasmina Kashmir
Seperti Inilah Maka Ditawari Kulakan


Kelebihan lagi kalau kita belanja di toko milik pemerinttah adalah bisa kulakan dalam partai besar. Dijamin barang bisa nyampai ke negara manapun tanpa dibebani ongkos kirim untuk jumlah tertentu. Keren, gue ditawarin kulakan partai besar. Kayaknya wajah 'ndeso' mas Ardi yang jadi penyebab kenapa ditawari Kulakan. barangkali dikira pedagang besar dari Indonesia yang datang khusus ke India untuk kulakan. Nggak salah memang, dari awal mas Ardi ikut ikutan melayani konsumen, mengambilkan pashmina, membentangkan Saree dan lain lain.


Mulai Taplak Meja, Perhiasan Rumah, Sandal Dan Sepatu
Semua Tersedia Di Delhi Haat


Hiasan Dinding
Cara Menjual Cukup Dibentangkan Di Lantai


Sangat Bagus Dan Harga Bervariasi
Sesuai Dengan Kwalitasnya


Karpet Kashmir Ternyata Tipis Dan Ringan
Di Toko Swasta Harganya Lima Kali Lipat


Diajari Cara Membuat Karpet

Jumat, 07 Oktober 2016

Nasi Bungkus Termahal London

Nasi Bungkus Kalau Di Inggris Nggak
Ada Nasinya Tapi Bungkusnya Sama Dengan
Nasi Bungkus Rumah Makan Padang

Nggak bisa dipungkiri lagi, orang Indonesia kebanyakan terkagum kagum kalau ketemu Bule. Kalau perlu, apapun akan dilakukan hanya untuk 'melayani' seorang Bule. Di kantor kantor dan siaran Televisipun Bule juga diperlakukan berbeda. Pokoknya pelayanan buat Bule selalu lebih baik, nyaman dan enak kalau di Indonesia. Mentalitas seperti ini jarang saya temukan di negara lain dan mudah kita saksikan di Indonesia.


Bule Inggrispun Kalau Ketemu Orang
Indonesia Juga Nglesot Bahkan Nyembah Nyembah
Ngucapin Terima Kasih Kalau Diberi Tips

Tetapi di London saya merasakan 'Jadi Bule'. Ada sedikit kemiripan antara orang London dengan orang Indonesia. Di kota ini saya bisa merasakan enaknya dilayani Bule dengan pelayanan 'Super' seperti yang sering kita saksikan di tanah air. Saya menyadari, nggak mungkin saya bisa mendapat pelayanan istimewa kalau sedang berada di tanah air karena hidung saya jelas jelas terlihat Pesek dan wajah kurang memenuhi syarat dan cenderung meragukan kalau harus masuk ke tempat tempat tertentu yang exclusive. Pokoknya wajah dan penampilan kita ini Kere Pol.....

Standard Pelayanan Memang Harus
Nglesot Di Lantai

Kebetulan saya diberi kesempatan  ke London oleh pemerintah Kuwait, pakai duit rakyat Kuwait dan menginap di Hotel yg termasuk 'Diamond' disekitaran Knightsbridge - Kensington dan makan malam di salah satu restaurant restaurant yang masuk dalam The 10 Most Expensive Restaurants In London versi The Richest. Yang penting punya pengalaman berharga. Puluhan tahun kita jungkir balik bekerja di Indonesia, paling cuma dibayari makan di Rumah Makan Padang 'Kapau'.

  • Sketch, Mayfair London - sekitar Rp 2.2 Juta per kepala
  • Apsleys, The Lanesborough Hotel - sekitar Rp 2.25 Juta per kepala
  • Le Gavroche, Mayfair London - sekitar Rp 2.5 Juta per kepala
  • The Greenhouse, Mayfair London - sekitar Rp 2.5 Juta per kepala
  • Marcus Wareing,  Knightsbridge - sekitar Rp 2.5 Juta per Kepala
  • Helene Darroze, Connaugh Hotel Mayfair - sekitar Rp 2.5 Juta per kepala
  • L'Atelier De Joel Rubuchon, Covent Garden - sekitar Ro 2.7 Juta per kepala
  • Gordon Ramsey, Chelsea - sekitar Rp 2.75 Juta per kepala
  • Hibiscus, Mayfair - sekitar Rp 2.75 Juta per kepala
  • Alain Ducasse, The Durchester Hotel Piccadilly - sekitar Rp 4 Juta per kepala

Sajian Penuh Selera Noma Restaurant
copenhagen Denmark


Tapi, restaurant termahal di London diatas sebenarnya nggak ada apa apanya dibanding Noma di Copenhagen, Denmark. Di Noma Restaurant, untuk Dinner 'Pahe' (Paket Hemat) saja perlu Rp 6 Jutaan per kepala. Itupun harus reservasi 3 bulan sebelumnya. Baca Saja Pengalaman Reservasi Noma Restaurant ini


Bule Nyembah Kere

Pertama datang ke restaurant di London ini harus reservasi dulu, semua sudah direservasikan dari Kuwait. Nggak bisa langsung nylonong Go Show begitu saja. Ada 3 orang staff cantik tampak berdiri didepan menunggu tamu. Perlakuan relatif sama seperti umumnya staff restaurant di Indonesia. Pandangan mata staff restaurant tersebut langsung tertuju ke Hidung Pesek saya. 'Hmmm, ada Bule Hitam Pesek nih', mungkin begitu dalam hatinya. Setelah basa basi sebentar sambil nyocokin nama dengan ' catatan reservasi' di computernya, langsung kita diantar ke meja yang telah ditunggui oleh seorang pelayan laki laki. Keren, ngganteng ngganteng seperti Leonardo D'Caprio, berdiri tegap seperti Hansip sedang upacara bendera, tapi bawa menu makanan dan serbet.


Nasi Bungkus Isinya Lobster Dan Kentang

Meskipun saat berdiri seperti Hansip, tetapi pelayan tersebut luwesnya bukan main. Selesai menarik kursi dan mempersilahkan duduk, si pelayan tadi langsung jongkok 'ndeprok' dilantai lama sekali tidak bergerak nunggu kita semua selesai milih makanan dari menu yang disodorkan. Lumayan lama nunggu pesanan keluar, begitu muncul ternyata 'Nasi Bungkus'. Nggak ada piring, semua makanan disajikan diatas kertas seperti bungkus Nasi Padang. Selama makan, si Hansip tetap berdiri tegap sambil menunggu aba aba 'tambo ciek'.


Hikmah : 
  • Tetap bersyukur walau cuma makan Nasi Bungkus. Di UK perlu Jutaan Rupiah untuk bisa menikmati makan diatas kertas
  • Tetap bangga punya Hidung Pesek, di UK anda dilayani istimewa karena hidung anda beda dengan yang lain.


Apapun Makanannya Bungkusnya Kertas

Baca Juga :

Jumat, 30 September 2016

Nonton Lelang Ikan Di Al Kout Fahaheel

Lelang Ikan Di Al Kout Fahaheel
Mulai Tepat Jam 08:00AM



Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat Lelang Ikan Dan Hasil Laut karena ayah saya dulu bekerja di Dinas Perikanan. Waktu itu, hampir setiap hari saya menyaksikan lelang ikan baik di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Batang, TPI Purbalingga maupun TPI Tegal. Saya juga mengenal betul kehidupan nelayan laut sekitar Batang dan Tegal. Saya juga pernah merintis berdagang ikan seperti halnya Ibu Susi Pudjiastuti. Tetapi, nasib kita membawa kearah yang berbeda. Nama kita sama sama Susi, tetapi beliau berhasil menjadi Menteri Perikanan dan saya tetap begini begini saja.


Tertib - Belum Ada Aba Aba Lelang Dimulai
Semua Cuma Memandang Keranjang Ikan Saja

Ada yang berbeda antara Lelang ikan di Indonesia dengan di Kuwait. Kalau di Kuwait, juru lelangnya cukup banyak. Setiap juru lelang bisa mewakili 1 - 3 nelayan. Semua juru lelang berdiri teriak teriak menawarkan ke pembeli didepan keranjang keranjang yang diwakilinya. Karena juru lelangnya sangat banyak, maka proses lelang sangat effektif. Hanya sekitar 30 menit saja langsung ditutup.


Nelayan Tidak Berfungsi Saat Lelang
Semua Tugas Diambil Alih Oleh Juru Lelang

Sebelum Lelang dimulai, nelayan terlihat negosiasi dengan juru lelang. Kayaknya membicarakan jenis ikan dan kesepakatan harga awal. Biaya jasa si Juru Lelang sepertinya sudah ditentukan pemerintah dan tidak ada tawar menawar soal jasa juru lelang ini. Saya perhatikan, si Juru Lelang cuma melihat lokasi keranjang keranjang ikan si Nelayan. Terkadang si juru lelang memerintahkan nelayan lain untuk menggabungkan keranjang keranjang ikan tersebut ke sudut tertentu. Si Juru Lelang yang satu ini cukup laris, punya tanggung jawab menjual hasil tangkapan 3 orang nelayan sekaligus.


Juru Lelang Mencatat Semua Transaksi
Nelayan Hanya Melayani Pedagang Ikan Yang Membeli

Jam 08:00 tepat lelang dimulai. Dan seketika itu juga suasana menjadi hingar bingar karena semua juru lelang teriak teriak gaduh menawarkan ikan ikan dalam keranjang yang menjadi tanggung jawabnya. Si Nelayan tidak berfungsi sama sekali kecuali menggeser geser keranjang ikan sebagai tanda sudah ada yang membeli. Semua transaksi dicatat langsung oleh si juru lelang.


Nelayan Puas Dengan Harga Tinggi Berkat Jasa Juru Lelang
Pedagang Juga Puas Dengan Pelayanan

Tidak susah sama sekali untuk membedakan siapa Pembeli, Nelayan atau Juru Lelang. Karena si Juru Lelang memakai baju panjang seperti jubah berwarna biru. Nelayan umumnya pakaiannya apa adanya dan terlihat lebih kotor dan butut karena baru saja berlabuh beberapa jam sebelumnya dari laut. Sedangkan pedagang ikan / pembeli rata rata pakaiannya lebih bersih dibanding si nelayan.


Kepiting Hasil Tangkapan Semalam
Cukup Melimpah

Proses lelang sangat effektif, hanya sekitar 30 menit saja langsung bubar dan semua keranjang ikan sudah beralih tangan ke pedagang. Kenapa bisa secepat itu ? Karena sebelum lelang dimulai, nelayan sudah memilah milah ikan, udang dan kepiting berdasarkan jenis dan ukurannya kedalam keranjang keranjang yang berbeda. Setiap keranjang punya warna dan bentuk berbeda beda. Ada yang kotak warna biru, hijau, hitam, ada yang bulat kecil warna merah, orange dan ada juga yang nggak perlu dikeranjangi karena si nelayan dapat tangkapan ikan yang sangat besar sekali. Sepertinya keranjang keranjang ini disediakan pemerintah dan boleh dibawa melaut. Saya perhatikan, saat nelayan menurunkan ikan dari kapal sudah rapi dalam keranjang warna warni sesuai jenis dan besar atau kecilnya ikan. 


Ikan, Cumi Cumi Berbagai Ukuran
Semua Dari Arabian Gulf Sea

Semua Lelang ini dilakukan didalam gedung yang sejuk berAC bernama Al Kout Fish Market Fahaheel, bukan ditempat terbuka seperti TPI Batang dan TPI Tegal. Sangat profesional dan terbuka untuk umum. Saya harapkan, suatu saat nanti TPI dan pasar ikan di Indonesia bisa didalam Mall megah berAC seperti halnya di Al Kout Fahaheel Kuwait ini. Meskipun namanya Al Kout Fish Market, sebenarnya gedung ini adalah Mall besar seperti halnya Souq Sharq.


Yang Baju Biru Dibelakang Adalah Juru Lelang
Nelayan Tinggal Menghubungi Juru Lelang



Pedagang Ikan Langsung Menjual Ikan Di
Lapaknya



Suasana Sudah Mulai Tenang
Keranjang Ikan Sudah Beralih Kepemilikannya



Perorangan Juga Bisa Ikut Beli
Tetapi Minimum Satu Keranjang


Semua Ikan, Udang, Cumi Dan Kepiting Segar Segar
Sangat Murah Saat Lelang



Ini Lapak Pedagang Ikan Di Pasar Ikan Al Kout
Masih Satu Gedung Dengan Tempat Lelang



Yang Sudah Dibeli Cukup
Di Kumpulkan Di Belakang Pembelinya
Cari Lelangan Yang Lain
Baca Juga :

Sabtu, 24 September 2016

Oleh Oleh Arab - Parfum Dengan Kaligrafi

Ciri Parfum Arab Adalah Baunya yang Khas
Dengan Botol Berbentuk Unik Dan Klasik

Parfum Arab baunya memang khas dan tidak sama dengan parfum parfum dari rumah rumah mode di Paris atau kota kota di negara lain baik di Eropa, US, Jepang maupun Indonesia. Kalau kita membeli atau memakai parfum dari negara 'bule', rasanya keren dan bergengsi. Padahal bahan bahan parfum dan cara pembuatannya relatif sama saja. Baik parfum 'Bule' maupun parfum Arab, umumnya merk dagangnya diambil dari nama orang (nama pembuat atau nama pengusaha), Contohnya Channel, Kenzo, Dafidoff, Hugo Boss atau Estee Lauder. Keren keren kan namanya ?.


Arabian Oud
Di London Parfum Arab Ini Jadi Barang Mahal


Kebanyakan parfum arab juga sama saja. Merk dagangnya juga diambil dari nama pembuat / pengusahanya atau mungkin nama anak anaknya juga. Misal parfum yang cukup saya kenal di Kuwait ini merknya Abdul Mohsen, Al Khaleej, Ajmal, Farasha, Lara dan lain lain. Tapi entah kenapa ya, kalau pakai parfum merknya Abdul Mohsen rasanya kok nggak bergengsi sama sekali padahal parfum parfum Arab tersebut lebih tahan lama dibanding parfum Eropa. Mending parfum dengan merk Rudy Hadisuwarno dibanding Abdul Mohsen atau Al Khaleej. Betul kan ?


Toko Parfum Ini Milik Si Jamal
Biar Keren Dikit Merk Parfum Diganti Menjadi Ajmal

Karena kekhasan baunya dan harganya yang jauh lebih murah dari parfum 'bule', maka sudah tentu paling cocok kalau dijadikan oleh oleh ke Indonesia. Saya setiap pulang ke Indonesia selalu membawa oleh oleh parfum ini buat saudara, tetangga dan teman dekat. Tetapi anehnya, setiap saya bagikan oleh oleh parfum tersebut ke mereka, jawabnya semua hampir sama saja : 

"Terima kasih mbak. Oleh oleh parfum tahun lalu aja masih utuh lho mbak, belum dipakai"


Yang Sudah Tersentuh Modernisasi
Tidak Memakai Nama Orang Lagi Sebagai Merk Parfum

Saya sempat heran juga, kenapa setiap orang yang saya beri oleh oleh parfum mengatakan hal yang sama. Kalau nggak mengatakan 'masih utuh' tentu 'belum habis'. Tetapi, akhirnya saya tahu juga penyebabnya. Parfum parfum Arab tersebut kalau di Indonesia ternyata di'keramat'kan. Alasan kenapa dijadikan barang keramat karena ada tulisan kaligrafi huruf Arab disetiap botolnya. Orang Indonesia memang lucu lucu, nggak bisa baca tulisan Arab tapi sok tahunya luar biasa. Ini parfum titipan Allah, ada lafaz Quran dibotolnya. Baunya harum seharum bau sorga. Hah,  susah njelasinnya kalau merek parfum, nama toko di tas kresek semuanya dianggap tulisan keramat.

"Mbak, parfum ini yang mbawa dan beli saya. Nggak ada sama sekali Allah nitip parfum ke saya. Ketemu saja enggak"
"Di Arab dan kampung saya Kuwait mbak, bungkus Donat juga ada kaligrafinya"


Meskipun Merk Parfum Arabian Oud Tetapi
Setiap Botolnya Masih Menggunakan Nama Pembuatnya



Nama Parfumnya : Nawaf, Ehsas,
Durrat, Lara, Lialy, Qomar


Biar Terkesan Keren Nama Parfum Diubah Dikit Menjadi
Lialy Al Andalus, Qomar No 14, Ehsas For Men
Dan Nawaf Gold

Parfum Ruangan Ini Namanya Bukhoor
Bungkusn Dan Tasya Penuh Kaligrafi Arab


Ini Bukhoor dan Alat Pembakarnya
Sebut Saja Kemenyan Arab




Ini Namanya Ehsas
Karena Ada Kaligrafinya Maka
Dikeramatkan Di Indonesia



Yang Ini Resala
Katanya Ada Lafaz Quran, Jadi
Nggak Boleh Sembarang Orang Memakai


Kaligrafi Semacam Ini Yang Membuat
Parfum Ini Bisa Bertahan Tahunan
Nggak Habis Habis



Parfum Dari Allah
Seperti Bau Sorga Katanya



Gawat, Semua Ada Kaligrafi Arab
Harus Baca Doa Dulu Setiap Nyemprot Parfum

Baca Juga :

Kamis, 01 September 2016

Barang Rombeng Di Enschede Belanda

Pasar Loak Enschede
Untuk Masuk Pasar Loak Ini Harus Bayar EUR 5


Kali ini saya ajak anda jalan jalan ke Enschede, Netherland. Namanya kurang begitu dikenal oleh umumnya orang Indonesia di tanah air, karena memang kota ini termasuk ndeso dekat perbatasan Jerman. Sama halnya dengan ndeso perbatasan Nijmegen dan Arnhem, Kota Enschede ini, adem ayem dan cenderung sepi terutama malam hari. Jarak dari Arnhem hanya sekitar 90 - 100 Km saja dan bisa ditempuh dengan kereta api, bus atau mobil. Dengan mobil waktu tempuhnya sekitar 1 jam saja melalui jalan A1. Tapi kalau saya yang nyopir bisa dua jam karena nyopir sambil bengong lihat kiri kanan dan kadang berhenti dulu photo photoan. Kalau lewat jalan N18 bisa lebih lama lagi sekitar 1.5 jam..


Jaket Bekas Biar Kumel Tapi Layak Pakai
Kelihatan Kan Orang Belanda Itu Pelit Pelit


Kota kecil Enschede ini cukup dikenal orang karena ada University Of Twente. Kalau nggak ada university ini ya jelas 'bablas angine', nggak ada orang yang mengenal apalagi mau blusukan ke kota ini. Banyak juga orang Indonesia yang tinggal dan kuliah di universitas ini. Yang mau saya ceritakan sebenarnya adalah pasar loaknya saja. Terus terang saya nggak tahu apa hubungan antara mahasiswa dengan pasar loak. Yang jelas dikota ini setiap hari minggu pertama dan minggu terakhir setiap bulannya ada pasar loak yang buka mulai jam 12:00 - 17:00.


Ini Mahasiswa Indonesia
Jidatnya Berkilau Tandanya Pinter
Maksudnya Pinter Milih Barang Loak


Nama kerennya Shopping Sunday. Lokasi keramaiannya di Centrum (City Center). Nggak cuma pasar loak saja yang ada disini, restaurant, bar dll banyak juga. Mulai De Oude Markt (Pasar Tua) sampai Grote Kerk (Gereja Besar) penuh orang duduk duduk njajan di restaurant, cafe dan bar, belanja di toko toko dan pasar atau sekedar mondar mandir melihat keramaian saja.


Semua Pengunjung Warga Lokal
Mahasiswa Malah Jarang Yang Terlihat


Dari berbagai kota yang pernah saya kunjungi di Belanda, saya selalu dengan mudah menemukan pasar loak. Baca : Serba Butut Di Lapak Pemulung Belanda.. Artinya,  orang Belanda itu meskipun kelihatan ngganteng dan cantik, sebenarnya pelit dan ngiritnya luar biasa. Nggak percaya ?, Baca juga : 3 Hal Tentang Orang Belanda. Gimana nggak pelit, di pasar loak Enschede ini terlihat jelas hampir semua pengunjungnya penduduk asli setempat. Kalau tawar menawar gigihnya bukan main. Umumnya kalau datang ke Centrum ini mereka kalau nggak jalan kaki, naik bus, pasti naik sepeda. Beda kan dengan orang kita, kemana mana selalu naik mobil. Ke pasar loak juga naik mobil sendiri dan tentu saja bikin macet jalanan.


Semua Barang Rumah Tangga Dijual
Pelit Pol Tapi Kalau Ditanya Jawabnya Selalu Ngeles
Nggak Boleh Dibuang Untuk Menjaga Lingkungan Hidup