Senin, 10 Mei 2010

Jalan Damrak Amsterdam

Jalan Damrak Amsterdam
Selalu Ramai
Tujuan saya jelas, hanya ingin ke Madame Tussaud Amsterdam untuk melihat museum patung lilin yang terkenal. Tetapi perjalanan ke museum tersebut ternyata cukup seru untuk diceritakan. Paling tidak cerita dibawah ini bisa mengilhami masyarakat Indonesia ditanah air yang suka mengobrak abrik atau sweeping tempat mesum semacam ini. Siapa tahu pula Indonesia dan juga front pembela, lasykar atau apapun nama organisasinya bisa terilhami untuk memberangkatkan team studi banding ke Belanda setelah membaca tulisan ini. Paling tidak kebiasaan mengobrak abrik dan sweeping tempat tempat mesum bisa ditularkan sampai ke Belanda dan yang akan saya ceritakan dibawah ini adalah sekedar informasi buat anda.
.

Turis
Sekali Sekali Cekikikan
Kita sudah paham bahwa dulunya Indonesia dijajah Belanda, itulah sebabnya tata kota Amsterdam sangat mirip dengan di Indonesia. Maksud saya, kalau anda ke Yogyakarta, ke Bandung atau ke kota lain, selalu saja menemukan tempat mesum atau prostitusi didekat stasiun kereta api. Pasar Kembang Yogya, Saritem dan daerah Kebun Jukut di Bandung semuanya selalu dekat dengan stasiun kereta api. Di Belanda sendiri juga sama persis, kawasan Red Lightnya hanya beberapa puluh meter dari Central Station Amsterdam. Saya kurang tahu pasti kenapa Belanda selalu membuat Red Light District didekat stasiun kereta api.
.
.

Central Station Amsterdam
Hanya Langkah Dari Jl Damrak
Jalan Damrak hanya beberapa ratus meter saja panjangnya menghubungkan Central Station dan Dam Square ditengah tengah kota Amsterdam. Sangat ramai sekali dan kebanyakan turis yang tidak sengaja lewat setelah turun dari stasiun dan ada juga yang sengaja datang dengan dipandu guide dan cuma ingin melihat lihat kawasan Red Light sambil cengar cengir cekikikan. Tidak bisa diketahui dengan pasti, siapa yang datang kesini mau 'njajan' atau sekedar cengar cengir. Bagi saya, pengalaman ini benar benar membuat saya bingung, apakah harus mengucap astaghfirullah atau alhamdullilah. Perjalanan saya menuju ke Madame Tussaud Museum membuat saya melewati jalan Damrak yang selalu ramai tua, muda, laki dan perempuan ini. Baik GPS maupun peta yang saya bawa semuanya mengharuskan melewati jalan ini.


Museum Yang Mengundang
Turis Untuk Datang
Di Jalan Damrak ini, terdapat Sex Museum yang berisi patung, photo dan segala macam hal yang berbau pornografi. Segala macam gaya dari yang tradisional sampai yang bisa bikin sakit pinggang semua ada. Cukup bayar EUR 3 untuk masuk ke museum ini dan anda bisa tertawa cekikikan didalam, bukan tertawa karena menyaksikan patung patung dan photo yang dipajang tetapi karena melihat dan mendengar ulah dan celetukan para turis pengunjung museum yang berphoto ria dengan latar belakang onderdil bagian dalam pria dan wanita dengan ukuran raksasa. Saya sendiri heran, 'barang' yang bentuknya relatif sama dan semua orang memiliki, kok bisa membuat penasaran orang untuk melihat dan bisa menyedot pengunjung demikian banyak.

Isi Museum
Banyak Turis Cekikikan
Turis yang lebih serius dan ekstrim biasanya akan masuk ke gang gang sempit disekitar Damrak. Jelas tujuannya ingin melihat Live Show. Kaget juga saya menyaksikan cara menarik pengunjung untuk datang menyaksikan Live Show. Seorang wanita cantik, pria, banci, gay atau lesbian sesekali menampakkan diri di jendela - semacam etalase dengan gaya dan dandanan 'Serba Kekurangan', miskin sekali di udara yang sedemikian dinginnya kok sampai tidak mampu beli baju layak, cukup selembar kain segitiga ukuran 10 x 10 cm menutupi bagian bawah pusar dan dua buah kain seukuran tutup botol coca cola dengan bentuk bintang, daun atau bentuk minim lain  menutupi ujung payudara (maaf) yang besar. Turis turis yang lewatpun tersenyum cekikikan melihat adegan sekelebat yang tidak lebih dari 10 detik saat korden jendela disibakkan. Tertulis didepan bayarnya cuma EUR 4 saja untuk nonton Live Show.


TV Belanda, Tiap Hari Menyiarkan
Acara Esek Esek
Bagi orang Belanda tontonan semacam ini mungkin sudah biasa, tetapi bagi turis asing jadi luar biasa. Sesekali terdengar ucapan Pro dan Kontra tetapi tetap saja baik yang Pro maupun yang kontra keduanya memperlambat jalan dan sesekali melihat pemandangan yang tidak pernah dilihat dinegaranya. Orang Belanda sendiri saya yakin sudah benar benar kebal, bagaimana tidak kebal lha wong channel TV yang disiarkan di rumah rumah dan hotel banyak sekali channel pornonya. Padahal kita tinggal di hotel besar sekelas bintang 4. Judul film yang disiarkan membuat saya tertawa dan segera mematikan TV, meskipun secara jujur saya katakan bisa bikin jantung berdetak kencang, yaitu "Oma Sex", seorang Kakek dan Nenek berumur 80 tahunan yang sedang selingkuh nonstop saat anak dan cucunya tidak ada dirumah. Baca sendiri Sex Museum Amsterdam kalau pingin tahu lebih jauh isinya. (Susy Ardianto, http://ardisfamily.blogspot.com)

Baca Juga :

2 komentar:

  1. Cuman baca ini saya juga ikut cengar-cengir sendiri...wah kalo di Indo pasti dah diobrak-abrik tuh. Beda budaya kali yah, di sana sangat liberal kayaknya.

    BalasHapus
  2. Dejavu....aku juga baru dari sana, itulah Belanda sisi lain yang menarik minat untuk berkunjung ke Red Light, mulai dari yang penasaran sampai yang ingin menikmati.

    BalasHapus

Silahkan menuliskan komentar dengan bahasa yang jelas, sopan dan beradab.