Rabu, 02 Februari 2011

Ngantar Dinda Ke Dokter Gigi

Dental Clinic Dari Depan
Ada yang  benar benar berbeda antara Klinik Gigi di Indonesia dan di Kuwait. Soal kwalitas klinik, dokter dan perawatnya boleh dikatakan tidak jauh berbeda. Yang benar benar berbeda adalah dokter, perawat dan seluruh staff klinik semuanya didatangkan dari luar Kuwait. Sebuah klinik kecil disudut jalan di Mangaf sebagai contohnya. Klinik ini nampak begitu bersih, rapi dan tenang karena terletak disebuah apartment dan menempati satu lantai saja di lantai 8. Kalau di Indonesia bisa disetarakan dengan klinik kesehatan yang sering kita sebut ‘Klinik Praktek Bersama’ beberapa dokter. Dokternya bermacam macam kebangsaan, ada yang dari India, Mesir dan juga bule kalau didengar dari logat bicaranya tampaknya dari Negara sekitar Russia. Perawatnya juga bermacam macam, umumnya dari Philipine, Srilanka, Pakistan atau India. Bagian kebersihanpun juga diimport dari Nepal atau Bangladesh.

Ruang Tunggu Yang
Mungil Dan Nyaman
 Meskipun kliniknya tidak terlalu besar dan papan namanya tidak begitu meyakinkan, ternyata pelayanannya benar benar International. Sangat berbeda dengan klinik atau rumah sakit di Indonesia yang semuanya mempunyai nama dengan embel embel International tetapi servicenya jauh kedodoran. Pertama datang, kita diminta duduk diruang tunggu yang bersih, seorang Philipine langsung menawarkan minuman. Mau Juice Apel, Juice Mangga, Kopi atau Teh semua ada dan tersedia. Belum selesai minum, seorang staff mendatangi kita dan membantu kita mengisi formulir isian. Rupanya. cuma mencatat data pribadi untuk database mereka. Setelah itu baru dipersilahkan bertemu dengan dokter Gigi import dari India. Kita ajak Dinda ke dokter Gigi ini karena ingin pasang ‘bracket’ untuk merapikan giginya yang kurang teratur. Sempat deg degan juga, ini bener dokter gigi atau penari ular…. Kalau bicara kepala selalu geleng geleng khas India. Ternyata benar, dokternya baik sekali, sopan dan ramah. Sekali kali berusaha melucu agar Dinda tidak terlalu stress.

Nunggu Dokter Datang
Selesai diperiksa barulah membicarakan tentang biaya untuk pasang bracket gigi. Di Indonesia, untuk pasang bracket gigi diperlukan biaya sekitar Rp 15 Juta dan biaya sebesar itu harus dibayar tunai didepan. Harga sebesar itu umumnya belum termasuk biaya cabut gigi dan biaya perawatan bulanan. Tidak punya duit sebanyak itu jangan harap dokter gigi di Indonesia mau menangani. Di Kuwait, sangat luar biasa dan sempat membuat saya kaget dan hampir saja lari terbirit birit keluar klinik. Selesai Dinda diperiksa, pak Dokter langsung menyebut biayanya KD 1200 (sekitar 36 Juta Rupiah). Langsung juice Apel yang tadi saya minum enak sekali serasa ingin keluar lagi. 

Dokter Joe Dari India
Yang Baik Hati
‘Tenang Mam….’, pak dokter Joe dari India berusaha menenangkan saya yang kelihatan pucat pasi tersedak Apel Juice. Ternyata, cara menghitungnya sangat berbeda sekali  dengan dokter atau rumah sakit di Indonesia. Di Kuwait, si dokter menghitung seperti layaknya seorang pemborong bangunan. Dinda disuruh mangap dan dihitung seluruhnya secara rinci berapa kebutuhan kawat gigi selama 2 tahun, berapa material lain yang dibutuhkan selama 2 tahun, berapa kali harus datang saat perawatan dua tahun dan lain lain material dan jasa yang kira kira akan keluar selama masih dalam perawatannya.  Semua dihitung dan ditotalkan untuk perawatan selama 2 tahun. Persis sama dengan cara Pak Dul, tetangga saya di Surabaya saat mendapat proyek membangun musholla di kampung.

Tempat Bayar Angsuran
Yang Cantik
Dan yang membuat saya tertawa gembira, di Kuwait ternyata bayarnya bulanan. Artinya, setiap bulan sekali Dinda harus datang periksa dan cukup membayar KD 35 (sekitar Rp 1 Juta) saja setiap datang sampai total biaya tercapai. Kalau mau nakal sebenarnya bisa saja setelah bracket dipasang langsung kabur dan tidak pernah nongol lagi. Jadi biaya pasang bracket cuma KD 35 (Rp 1 Juta) saja. Masalahnya di Kuwait lain dengan di Indonesia. Di Kuwait kalau sudah ‘janji’ mau datang setiap bulan berarti ‘hutang’ dan harus dibayar. Taruhannya neraka kalau sampai ngabur. Untungnya, klinik dengan manajemen  Arab seperti ini tidak buka praktek di Indonesia. Seandainya ada klinik semacam ini satu saja di Indonesia, pasti laris dan pasiennya cuma datang sekali saja seumur hidup………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan menuliskan komentar dengan bahasa yang jelas, sopan dan beradab.