| Tour Guide Exclusive |
Hidung saya pesek, semua orang juga tahu. Memang rata rata orang Indonesia hidungnya pesek semua. Saya sadar punya hidung pesek sejak tinggal di Kuwait 6 tahun lalu. Dibanding hidung tetangga tetangga saya memang terasa sekali hidung ane nggak ada apa apanya.
Tapi di Kuwait saya nggak pernah dapat masalah apapun dengan hidung saya ini, malah seringkali hidung 'hemat oksigen' ini menjadi kebanggaan saya satu satunya. Bagaimana nggak bangga, baru ketemu tetangga Arab Kuwait saja langsung disapa dengan ramah "Indonesie.... Are You Indonesie ?". "Come...come...".
| Baru Lihat Lihat Cara Buat Batik Saya Masih Dicuekin |
Tapi di Kuwait saya nggak pernah dapat masalah apapun dengan hidung saya ini, malah seringkali hidung 'hemat oksigen' ini menjadi kebanggaan saya satu satunya. Bagaimana nggak bangga, baru ketemu tetangga Arab Kuwait saja langsung disapa dengan ramah "Indonesie.... Are You Indonesie ?". "Come...come...".
Di Indonesia lain lagi ceritanya. Beberapa minggu lalu saya membawa rombongan remaja Kuwait, UK dan US ke Indonesia. Jelas hidung ane terlalu ambles kalau dibanding mereka. Saat ngantri passport di Soekarno Hatta, hidung saya yang dilihat petugas imigrasi pertama kali. Rombongan Arab yang saya bawa dipersilahkan ngantri di jalur khusus 'Other Nationalities' dan selesai dalam waktu 3 menit saja. Sedangkan saya diusir ke jalur antrian 'Indonesia' yang panjangnya bukan main hanya gara gara hidung saya beda dengan mereka.
Berbagai cara pernah saya lakukan untuk memperbaiki penampilan dan nasib kalau saya pulang ke tanah air. Pakai perhiasan warna emas, kiri kanan nenteng tas Louis Vuitton, kaca mata hitam dinaikin ke jidat, rambut disemir pirang biar dikira bule, sewa mobil Toyota Alphard mewah biar dibukain pintu saat turun di Mall/Hotel dan lain lain. Tapi tetap saja selalu gagal meyakinkan bangsa sendiri dan tetap saja hidung saya dulu yang diperhatikan.
Apalagi seperti saat ini saat saya mengajak Arab yang hidungnya lebih mancung dari saya. Ada saja kejadian kejadian aneh yang bersumber dari hidung. Celakanya, suami saya sendiri mengatakan "Dik, kamu lama lama kok kayak Londo Celup ?" saat saya tunjukin warna pirang rambut baru saya. Artinya, suami sendiri memperhatikan korelasi warna rambut pirang dengan hidung saya.
![]() |
| Sebelum Diusir Ke Ruang Makan Khusus Sopir Dan Tour Guide |
Apalagi seperti saat ini saat saya mengajak Arab yang hidungnya lebih mancung dari saya. Ada saja kejadian kejadian aneh yang bersumber dari hidung. Celakanya, suami saya sendiri mengatakan "Dik, kamu lama lama kok kayak Londo Celup ?" saat saya tunjukin warna pirang rambut baru saya. Artinya, suami sendiri memperhatikan korelasi warna rambut pirang dengan hidung saya.
Di Bali, saya mengajak makan rombongan Arab, UK dan US ini untuk makan siang di sebuah restaurant di Kintamani. Karena tamu tamu saya ini tidak tahu sama sekali menu makanan Indonesia maka saya bantu untuk mondar mandir memesan makanan dan minuman. Begitu semua makanan dihidangkan diatas meja, si pelayan restaurant melihat hidung saya sekilas, mencolek dan berbisik ke saya :
"Mbak, makanan untuk mbak sudah siap juga diruang bawah"
Karena tidak tahu maka saya ikuti saja pelayan tersebut. Ternyata saya harus makan di ruang makan khusus untuk Sopir dan Tour Guide.
| Gue Paksa Arab Makan Durian Ternyata Mau Juga |
Di sebuah toko kerajinan di Ubud, rombongan Arab yang saya bawa memborong batik dan berbagai souvenir khas Bali. Tentu saya juga ikut menjelaskan semua pernak pernik Bali yang ditanyakan. Setelah rombongan Arab membayar di Kasir dan satu persatu masuk kedalam mobil, tiba tiba saya dipanggil oleh seorang wanita berseragam yang ternyata karyawan toko tersebut.
Dia mengucapkan terima kasih telah mengunjungi tokonya, terima kasih juga tourist yang saya bawa telah berbelanja cukup banyak dan sebuah amplop diselipkan ke tangan saya. Ketika saya buka di mobil ternyata isinya uang Rp 50.000. Lumayan, kali ini hidung pesek saya membawa berkah.
| Pegel Saya Nungguin Arab Belanja Di Toko Ini Nggak Ada Yang Ngasih Tip Pula |
Dia mengucapkan terima kasih telah mengunjungi tokonya, terima kasih juga tourist yang saya bawa telah berbelanja cukup banyak dan sebuah amplop diselipkan ke tangan saya. Ketika saya buka di mobil ternyata isinya uang Rp 50.000. Lumayan, kali ini hidung pesek saya membawa berkah.
Baca Juga :











