Sabtu, 12 Maret 2016

Sociale Dienst - Nggembel Aja Dibayar

Meskipun Cuma Genjrang Genjreng Ngamen
Perbulan Dapat Rp 20 Jutaan Dari Pemerintah
Nggak Perlu Dikasihani Kalau Anda Lihat Gembel Eropa


Tunjangan Kere di Inggris namanya National Insurance (Baca : Kenapa Artis Kawin Cerai), tetapi kalau di Belanda namanya Sociale Dienst. Di Indonesia belum ada tunjangan semacam ini sampai saat ini. Kira kira semacam tunjangan tunai untuk biaya hidup bagi pengangguran, gelandangan (Bahasa Belandanya Bedelaar) atau tunawisma (bahasa Belandanya Daklozen). Istilah Bedelaar dan Daklozen ini punya definisi yang berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia seseorang menjadi miskin umumnya karena terlahir sudah miskin, nggak punya pekerjaan tetap atau hal hal lain yang menyebabkan bangkrut.


Jangan Sedikitpun Merasa Kasihan Lihat Orang Seperti Ini
Mereka Memang Punya Dunianya Sendiri


Di Belanda, seseorang menjadi Kere disebabkan karena ulahnya sendiri, misal membuat kerusuhan ditempat umum, kriminal, pelanggaran hukum, Semau Gue (Punker/Junkie), pailit terlalu banyak hutang dll. Begitu seseorang terlibat salah satu dari yang saya sebutkan tadi, maka tiada ampun lagi langsung suram masa depannya. Semua tunjangan yang menjadi haknya langsung hilang dan mereka akan dengan cepat dijauhi oleh teman, keluarga bahkan susah masuk kembali ke dunia kerja. Catatan, di Belanda, bayi baru lahir mendapat tunjangan sesuai dengan umurnya.sampai umur 18 tahun. Begitu masuk usia kerja tapi nganggur juga dapat tunjangan.


Di Indonesia Tinggal Di Apartment Sangat Bergengsi
Di Belanda, Bisa Jadi Bertetangga Dengan
Penerima Sociale Dienst


Tunjangan anak atau sering disebut Tunjangan Pendidikan besarnya sekitar EUR 280 per bulan (4 - 5 Juta Rupiah kurs saat ini). Di Indonesia juga ada di DKI dan baru saja dimulai di era Gubernur Ahok, namanya Kartu Indonesia Pintar (KIP). Tunjangan Hari Tua relatif sama dengan di Indonesia, dananya diambil dari gaji dan perusahaan saat masih aktif bekerja. Kalau pengangguran, sumber dananya ada dua yaitu kalau nggak dari UWV tentu dari Sociale Dienst.


Kalau kena PHK misalnya, maka tunjangannya berasal dari UWV. Kira kira sekitar 70 % dari gaji terakhir. Tapi tidak selamanya dapat duit dari UWV, ada masa berakhirnya. Tujuannya supaya semangat cari kerja dan nggak membebani negara. Kalau sudah benar benar menyerah nggak dapat kerja, baru bisa mengajukan Sociale Dienst. Tunjangan Kere ini besarnya bervariasi sekitar EUR 600 - EUR 800 (sekitar 11 Juta Rupiah) per bulannya untuk single dan bisa mencapai EUR 1200 (sekitar Rp 17 - 19 Juta kurs saat ini) kalau punya pasangan atau anak.


Itulah sebabnya di Belanda dan Eropa nggak ada yang berani demo anarkis ditempat umum. Kalau anda jalan jalan dan masuk ke perumahan perumahan di Belanda, semua orang yang anda temui dan juga perumahan akan 'terlihat' relatif sama. Nggak ada sama sekali istilah "Saya Orang Kaya", "Kamu Orang Miskin", "Ini Perumahan Orang Kaya" atau "Ini Perumahan Kere". Semua sama saja dibiayai pemerintah walau pengangguran sekalipun. Akibatnya, kalau para Kere ini datang ke Indonesia, langsung masuk TV Entertainment karena dengan cepat dapat jodoh artis film dan sinetron. Catatan : mereka juga dapat tunjangan liburan setahun sekali. Kalau masuk ke penampungan, tunjangan hidup diberikan seminggu sekali. Baca : Kenapa Artis Kawin Cerai.


Semua Tunjangan Kere yang ditermia sudah diperhitungkan cukup untuk bayar listrik, gas, sewa rumah dan makan setiap bulannya. Tetapi begitu membuat masalah ditempat umum, terlibat kriminal, drugs atau semacamnya, langsung deh habis semuanya. Rumahpun bisa diusir kalau nunggak berbulan bulan dan biasanya langsung di black list dan sangat susah untuk dapat rumah lagi. Akhirnya mau nggak mau harus ditampung di penampungan sosial semacam  "Bala Keselamatan"


Banyak orang Indonesia yang menilai hidup di Belanda atau Eropa enak sekali karena yang diketahui dan dibaca hanya cerita seperti diatas saja. Salah besar, yang enak itu hidup di Indonesia, hampir semuanya masih serba gratis. Negara negara Eropa bisa memberi tunjangan seperti itu karena semua penduduk bayar pajak tanpa kecuali. Pedagang kaki lima saja mau bayar pajak (Baca : KVK - Kamer Van Koophandel), Petani / nelayan bayar pajak, renovasi rumah bayar pajak (Baca : Uenak Tenan Bayar CGT), ada juga pajak limbah, pajak polisi dan keamanan, pajak kota dan pajak bla bla bla (Baca : Klenger Bayar Pajak Mulu). 


Kalau saya jelaskan di Eropa semua bisa begitu karena serba bayar pajak, Jawaban orang Indonesia di tanah air umumnya : "Nggak mungkin bisa diterapkan di Indonesia, masih banyak rakyat miskin di Indonesia" katanya.  Dinegara manapun kalau rakyatnya miskin jelas tidak akan diminta bayar pajak tapi malah diberi tunjangan kere oleh negara. Di Indonesia, Petani nelayan nggak pernah dikenai pajak padahal mereka punya penghasilan, pedagang kaki lima sama saja punya penghasilan malah setor ke preman, Keamanan dan kebersihan komplek perumahan bayarnya ke RT, rumah di renovasi dan ditambah kios ponsel juga dibiarin saja. Apa nggak enak ?. Kapan Indonesia bisa maju dan mensejahterakan rakyat seperti Belanda dan Eropa kalau petani, nelayan, PKL dan yang kerja informal nggak pernah bayar pajak apapun. sampai saat ini.

Catatan : Angka angka besaran tunjangan diatas adalah perkiraan angka saat tulisan ini saya buat. Bisa berubah.

Baca Juga :

3 komentar:

  1. Tulisan yang cukup menarik….
    keren neh…

    BalasHapus
  2. Informatif. Thanks.

    Apa amerika juga menerapkan sistem tunjangan seperti ini yaa ? bagaimana dengan kuwait ? saya dengar ada negara arab yg tidak memungut pajak terhadap rakyatnya kecuali dari lapisan tertentu dari masyarakatnya yg dianggap kaya...


    Thankyou

    BalasHapus
    Balasan
    1. Negara negara Arab umumnya belum menerapkan pajak. Tetapi orang terlantar menjadi tanggung jawab negara, sama halnya dengan di Indonesia.

      Di negara manapun semua punya Rumah Penampungan termasuk US, bedanya di Indonesia penduduknya jauh lebih banyak yang tidak bayar pajak sehingga pemerintah kesulitan mensejahtetakan rakyatnya.

      Hapus

Silahkan menuliskan komentar dengan bahasa yang jelas, sopan dan beradab.