Senin, 13 Juli 2009

Ngebut Menantang Maut Bersama Arab

Kaki Nangkring
Saat Kecepatan Diatas
120 Kmh
Ada benarnya para Nabi diturunkan di Timur Tengah. Umumnya orang Arab sangat keukeuh dan cenderung keras kepala dalam mempertahankan prnsip, berani dan tidak takut mati sama sekali. Semuanya diserahkan ke'atas' bulat bulat. Kalau diajak bicara masalah Safety, semuanya bisa dibantah. 'Kalau Allah Berkehendak, Kapanpun Semua Orang Bisa Mati'. Memang nggak ada yang salah dengan apa yang diucapkan, tetapi kalau kata 'berkehendak' yang dimaksud tadi karena ulah sendiri kan nggak bener juga. Kalau kita bisa menunda terjadinya 'kehendak' tadi dengan cara  bertindak safe dan hati hati, kenapa tidak kita lakukan ?. Siapa tahu Allah bisa mengerti dan tidak cepat memutuskan 'kehendak'Nya.




Setir Cukup Dipegang
Dengan Tangan Kiri
Gambar disamping  kita ambil khusus dalam perjalanan di Highway 30 Kuwait. Photo diambil saat kendaraan melaju diatas 120 Km/jam. Saya tahu dengan pasti karena terdengar bunyi alarm mobil yang semakin lama bertambah kuat. Dengan tenang dan sesekali tertawa teman saya tersebut memberi pelajaran tentang hidup. Saat memberi pelajaran, kemudi cukup dipegang dengan tangan kiri dan kaki diangkat satu keatas kursi dan sesekali mengangkat HP. 


Pelajaran pertama yang disampaikan adalah :
  1. Selalu berdoa mohon diberi kesehatan dan keselamatan sebelum berangkat.
  2. Mobil juga seperti manusia, kalau kamu kasar maka si mobil juga akan membalas dengan kasar juga. Perlakukan mobil dengan halus dan penuh kasih sayang maka kamu akan dibawa kemanapun dengan selamat.
  3. Safety belt, airbag dan alat safety lainnya adalah alat buatan manusia yang tidak bisa menjamin keselamatan kalau Allah tidak berkehendak.

Jadi, karena prinsipnya sangat religious seperti itu dan nggak bisa ditawar lagi, maka saya jadinya komat kamit terus sepanjang jalan saat kecepatan mobil  mencapai 150 Km/jam. Doa yang saya ucapkan juga sudah kacau sekali, 'Ya Allah, sadarkan kawan Arab  ini.......'. Semakin saya ketakutan, semakin lebar senyumnya. Mau turun jelas nggak mungkin dan malah akan membuat saya lebih sengsara lagi karena kiri dan kanan gurun yang kering kerontang. Jadi, ikutan saja kaki nangkring sampai ke dashboard, peduli amat.......


Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan menuliskan komentar dengan bahasa yang jelas, sopan dan beradab.